KOTA GAZA – Lantai beton apartemen itu jebol, menyisakan lobang menganga yang memperlihatkan pakaian anak-anak bercampur pecahan bata dan kepulan debu mesiu. Rabu malam, 27 Mei 2026, sebuah flat di tengah Kota Gaza lumat dihantam tiga rudal presisi dari jet tempur Israel. Di bawahnya, puluhan tenda plastik pengungsi yang berjejal di sela-sela bangunan ikut koyak terkena impak ledakan.

Petugas Ambulans dan Darurat lokal mengevakuasi 10 jenazah dari balik reruntuhan. Empat di antaranya adalah anak-anak.

“Ini pembantaian baru,” kata koresponden lapangan Ghazi al-Aloul. Lebih dari 20 korban luka yang dilarikan ke rumah sakit di sekeliling Kota Gaza berada dalam kondisi kritis. Ruang instalasi gawat darurat yang kekurangan pasokan medis itu dipenuhi jeritan; mayoritas korban yang masuk menderita luka robek parah akibat serpihan hulu ledak. Serangan udara malam itu menggenapi jumlah warga Gaza yang tewas sejak Rabu pagi menjadi 21 orang.

Membidik Suksesor di Ruang Rapat Bawah Tanah

Beberapa jam setelah debu ledakan mulai mengendap, militer Israel mengeluarkan pernyataan resmi: mereka mengklaim telah mengeliminasi “dua tokoh kakap” Hamas. Saluran televisi Israel, Channel 14 dan Channel 12, mengutip sumber intelijen Tel Aviv bahwa operasi udara tersebut membidik para petinggi militer faksi perlawanan yang tengah menggelar pertemuan rahasia.

Targetnya tak main-main: Komandan Brigade Gaza Utara, Wakil Komandan Brigade Kota Gaza, dan Komandan Batalyon Al-Zaytun.

Jurnalis senior Elias Kram melaporkan, berdasarkan data intelijen yang bocor di Tel Aviv, rapat darurat itu digelar justru untuk menunjuk suksesor Mohammad Ouda, Kepala Staf Brigade Izzuddin al-Qassam yang tewas terbunuh dalam serangan udara di Distrik Rimal, Selasa malam sebelumnya.

Israel tampaknya sedang menerapkan strategi potong kepala secara maraton. Operasi malam itu melengkapi rangkaian pembunuhan terstruktur setelah gugurnya Panglima Al-Qassam sebelumnya, Ezzeldin al-Haddad, yang kemudian digantikan oleh Mohammad Ouda.

Dapur Data: Suksesi Berdarah di Sayap Militer Gaza

Perburuan ini berjalan beriringan dengan ikrar Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel yang baru, Israel Katz. Keduanya berulang kali bersumpah akan menghabisi seluruh perwira lapangan Hamas yang terlibat dalam merancang serangan 7 Oktober 2023 silam.

Berikut adalah manifes duka dan eskalasi korban dalam waktu 48 jam terakhir pasca-operasi pembersihan komando oleh IDF:

Janji “Tanpa Putus” dari Balik Kafan

Sebelum serangan kedua di hari Rabu itu merontokkan apartemen di pusat kota, sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam, sempat merilis pernyataan resmi untuk memberikan penghormatan terakhir bagi Mohammad Ouda. Mereka melabelinya dengan takzim sebagai “Kepala Staf Angkatan Bersenjata”.

“Pembunuhan terhadap para pemimpin senior tidak akan melemahkan gerakan. Ini justru menambah keteguhan kami untuk melanjutkan jalan perlawanan,” tulis rilis resmi tersebut.

Siang harinya, ribuan warga lokal mengiringi jenazah Ouda, istri, beserta dua anaknya ke pemakaman darurat. Tak ada bendera faksi yang berkibar megah, yang ada hanya kerumunan lelaki berwajah letih yang memanggul keranda di atas jalanan yang hancur.

Bagi Tel Aviv, pembunuhan berantai ini dipasarkan sebagai kemenangan taktis kembar di dalam negeri untuk mendongkrak popularitas kabinet. Namun di lapangan, hilangnya para jenderal ini hampir selalu langsung digantikan oleh lapis komando baru yang sering kali tumbuh lebih radikal dari pendahulunya, di bawah pengawasan langsung jutaan pengungsi yang kini tak lagi memiliki rumah untuk pulang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here