Gencatan senjata yang diteken tahun lalu kembali compang-camping. Sebuah titik keamanan di Gaza Barat luluh lantak dihantam rudal udara Israel, Kamis ini. Tiga nyawa melayang di bawah reruntuhan, menjadi catatan merah terbaru dalam daftar panjang pelanggaran yang kian tak terkendali.
Di Gaza, kata “damai” hanyalah jeda singkat untuk menarik napas di antara dua serangan. Kamis (7/5) waktu setempat, realitas pahit itu kembali hadir. Sebuah titik penjagaan keamanan di sisi barat Kota Gaza hancur berkeping-keping setelah dihantam serangan udara militer Israel.
Laporan dari Kementerian Dalam Negeri di Gaza mengonfirmasi kabar duka tersebut: tiga petugas keamanan gugur seketika, sementara seorang lainnya kini tengah bertaruh nyawa dalam kondisi kritis. Serangan ini tak hanya menyasar personel berseragam; sejumlah warga sipil yang berada di sekitar lokasi pun ikut terimbas luka-luka.
Sumber medis di Rumah Sakit Al-Shifa mengamini tragedi ini kepada Al Jazeera. Sejak fajar menyingsing hingga berita ini diturunkan, jenazah demi jenazah kembali mengisi ruang-ruang dingin di kamar mayat, menambah beban duka kota yang sudah lama porak-poranda.
Statistik Maut yang Terus Mendaki
Hanya dalam kurun waktu 24 jam terakhir, Kementerian Kesehatan mencatat sembilan nyawa warga Palestina kembali terenggut. Angka ini seolah menjadi lonceng peringatan bahwa mesin perang belum benar-benar mati.
Secara akumulatif, angka kematian sejak “operasi pembersihan” dimulai pada Oktober 2023 kini telah menyentuh angka mengerikan: 72.628 jiwa. Ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan representasi dari hancurnya masa depan ribuan keluarga.
| Catatan Korban & Kerusakan | Data |
| Total Syuhada (sejak Okt 2023) | 72.628 orang |
| Korban Luka | > 172.000 orang |
| Infrastruktur Sipil yang Hancur | 90% |
| Pelanggaran Gencatan Senjata (Korban Jiwa) | 846 orang |
Gencatan Senjata yang Macet
Ironisnya, serangan ini terjadi di tengah “perjanjian penghentian permusuhan” yang seharusnya berlaku efektif sejak 10 Oktober 2025 lalu. Namun, di lapangan, perjanjian tersebut tampak layu sebelum berkembang.
Israel dituding melakukan pelanggaran sistematis melalui kombinasi serangan udara dan penembakan sporadis. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, sejak kesepakatan damai itu diteken, sebanyak 846 warga Palestina justru tewas dan 2.418 lainnya luka-luka akibat aksi militer Israel.
Kesepakatan tahun 2025 tersebut awalnya diharapkan menjadi titik balik setelah dua tahun perang habis-habisan yang didukung penuh oleh Washington. Perang yang tak hanya menelan korban jiwa dalam jumlah masif, tapi juga melumat hampir seluruh wajah kota—memaksa warga hidup di antara 90% infrastruktur yang telah rata dengan tanah.
Dengan biaya rekonstruksi yang diperkirakan mencapai US$ 70 miliar, serangan-serangan terbaru ini kian mengaburkan harapan warga Gaza untuk melihat kotanya kembali berdiri. Selama rudal masih bisa jatuh di titik-titik keamanan dan pemukiman, “Garis Kuning” atau “Garis Oranye” tak lebih dari sekadar coretan di peta militer yang tak punya daya lindung bagi nyawa manusia.
Sumber: Al Jazeera + Anadolu Agency










