Di sepetak tanah sempit dekat pelabuhan Gaza, malam bukan lagi waktu untuk beristirahat. Tanpa listrik, baterai, bahkan lampu senter yang dilarang masuk oleh blokade, jutaan pengungsi dipaksa bertarung melawan kegelapan yang menyembunyikan predator perang: dari rudal Apache hingga penyakit yang mengintai di balik tenda-tenda pengap.

Bagi para pengungsi di dekat pelabuhan laut Gaza, matahari terbenam adalah lonceng dimulainya horor. Di sini, tenda-tenda yang sudah koyak tak lagi mampu menahan amuk angin musim dingin atau sengatan musim panas. Namun, ada musuh lain yang lebih sunyi tapi mematikan: kegelapan total.

Sejak blokade Israel diperketat, cahaya telah menjadi kemewahan yang mustahil. Militer Israel melarang masuknya segala bentuk alat penerangan, mulai dari baterai, lampu senter, hingga lampu LED kecil. Satu-satunya sumber cahaya yang tersisa hanyalah pendar redup dari layar ponsel yang dayanya pun harus diperjuangkan dengan sisa-sisa tenaga surya yang masih berfungsi.

Seorang pemilik kedai kecil di kamp tersebut meratapi nasibnya dengan suara parau. “Saya hanya ingin membeli satu lampu senter agar bisa melihat dagangan saya, demi sesuap nasi anak-anak. Tapi barangnya tidak ada, dilarang masuk,” tuturnya kepada korespondensi lapangan.

Terjebak di “Lembah Kelam”

Absennya penerangan bukan sekadar masalah teknis mobilitas; ia adalah penghancur mental. Malam di Gaza terasa lebih panjang dan mencekam. Di tengah kegelapan itu, setiap deru mesin dari langit atau laut berubah menjadi ancaman maut yang tak terlihat mata.

Laporan dari perusahaan distribusi listrik Gaza memotret kehancuran yang sistematis. Sejak Oktober 2023, wilayah ini telah kehilangan pasokan listrik sebesar 2,1 miliar kWh. Sekitar 70 persen jaringan transmisi telah rata dengan tanah, dan seluruh sumber komersial yang menyuplai energi ke Gaza lumpuh total. Kerugian infrastruktur ini ditaksir mencapai angka fantastis: US$ 728 juta.

Derita yang Bertumpuk

Di bawah selimut kegelapan, penyakit berpesta. Tenda-tenda pengungsi yang minim alas tidur dan pakaian hangat menjadi inkubator bagi penyakit kronis dan infeksi saluran cerna. Anak-anak menjadi korban paling rentan, sementara klinik-klinik di sekitar mereka kini tak lebih dari bangunan kosong tanpa obat-obatan.

Seorang ibu menceritakan detik-detik mengerikan saat tenda kainnya ambruk dihantam badai pada pukul dua pagi. Dalam kegelapan pekat, ia harus menggendong anak-anaknya, berlari tanpa arah di tengah rintik hujan dan ancaman rudal, mencari perlindungan yang sebenarnya tidak ada.

Secara keamanan, malam hari adalah waktu favorit bagi helikopter Apache dan kapal perang untuk melepaskan tembakan. Bagi warga, ini berarti kondisi waspada permanen. “Kami tidak pernah benar-benar tidur sampai fajar menyingsing,” ujar salah satu pengungsi.

Matinya Mimpi di Balik Bayangan

Gelapnya malam juga berarti gelapnya masa depan pendidikan. Generasi muda Gaza kini kehilangan jejak akademis mereka. Tanpa sekolah yang tersisa dan ketiadaan lampu untuk belajar di malam hari, buku-buku pun kini hanya menjadi tumpukan kertas tak berguna.

Di tengah skenario kiamat ini, tuntutan warga tetap tunggal dan nyaring: hentikan perang dan izinkan mereka pulang. Bagi mereka, hak untuk merasa aman, hak untuk makan, dan hak untuk menyalakan sebatang lilin di malam hari adalah martabat manusia yang saat ini sedang dirampas secara paksa.

Hingga saat ini, 90 persen gudang logistik listrik telah hancur total, menyisakan Gaza sebagai bintik hitam di peta dunia saat malam tiba—sebuah monumen atas kegagalan kemanusiaan di abad modern.


Sumber: Diterjemahkan dan disusun ulang dari laporan investigasi Al Jazeera

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here