Gelombang penolakan terhadap tim nasional Israel di kancah sepak bola Eropa kian kencang. Dari Dublin, deretan pesepak bola, pelatih kawakan, hingga pesohor film meneriakkan satu pesan yang sama kepada Federasi Sepak Bola Irlandia (FAI), jangan biarkan lapangan hijau menjadi tempat mencuci tangan atas tragedi kemanusiaan di Gaza.

Stadion Aviva di Dublin seharusnya bersiap menyambut laga Nations League pada 4 Oktober mendatang. Namun, alih-alih gairah kompetisi, yang muncul justru bara boikot. Sebuah kampanye bertajuk “Stop the Match” (Hentikan Pertandingan) kini sedang mengepung FAI, menuntut agar Republik Irlandia menolak turun ke lapangan melawan Israel.

Gerakan ini dimotori oleh kelompok Irish Sport for Palestine. Dalam surat terbuka yang mereka layangkan, Israel secara telanjang melakukan genosida di Gaza. Tak hanya itu, mereka menyoroti pelanggaran regulasi UEFA dan FIFA oleh Israel yang tetap mengizinkan klub-klubnya berkompetisi di atas tanah pendudukan Palestina.

Bagi para aktivis, tuntutan ini bukan datang dari ruang kosong. Pada November 2023, sebanyak 93 persen anggota FAI sebenarnya telah memberikan mandat kepada pimpinan federasi untuk mendesak UEFA membekukan keanggotaan Israel. Kini, mandat itu ditagih kembali.

Suara dari Ruang Ganti dan Panggung Seni

Daftar penandatangan surat tersebut bukan sembarang nama. Ada Brian Kerr, mantan manajer tim nasional putra Irlandia yang sangat dihormati, hingga Louise Quinn, bintang tim nasional putri yang dua kali menyandang gelar pemain terbaik.

Dukungan juga meluap dari sektor kebudayaan. Nama Stephen Rea, aktor nomine Oscar, bersanding dengan band rock kenamaan Fontaines D.C. dalam petisi tersebut.

Salah satu suara paling lantang datang dari Roberto Lopes, kapten Shamrock Rovers sekaligus Presiden Persatuan Pesepak Bola Profesional Irlandia. Lopes, yang juga bek tim nasional Tanjung Verde, menegaskan bahwa nilai kemanusiaan tak bisa ditawar dengan skor pertandingan.

“Kita tidak bisa menutup mata terhadap bencana kemanusiaan di Palestina. Hilangnya nyawa di sana harus jauh lebih penting daripada pertimbangan olahraga apa pun,” ujar Lopes tegas. Menurutnya, Irlandia punya kesempatan emas untuk mengambil posisi kepemimpinan moral yang tidak berani diambil oleh negara lain.

Simalakama Federasi

Di sisi lain, FAI berada dalam posisi terjepit. CEO FAI, David Courell, pada Februari lalu sempat menyatakan bahwa tim nasional Irlandia tidak punya banyak pilihan selain tetap bertanding sesuai jadwal.

Ketakutannya jelas: sanksi berat dari UEFA. Melanggar jadwal pertandingan berisiko merusak kepentingan jangka panjang sepak bola Irlandia, termasuk potensi diskualifikasi dari kompetisi internasional di masa depan.

Namun, pembelaan birokrasi ini berbenturan keras dengan sentimen publik. Jajak pendapat yang dilakukan oleh Asosiasi Suporter Sepak Bola Irlandia menunjukkan angka yang mencolok: 76 persen pendukung menolak pertandingan melawan Israel digelar.

Selain laga di Dublin pada Oktober nanti, kedua tim dijadwalkan bertemu lebih awal pada 27 September di lokasi netral. Bagi publik Irlandia, bertanding melawan Israel saat ini bukan sekadar urusan 90 menit di lapangan, melainkan soal keberpihakan di sisi sejarah yang benar.


Sumber: Reuters

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here