TEL AVIV – Selama puluhan tahun, Israel merasa aman dalam pelukan hangat Amerika Serikat. Namun, sebuah peringatan keras baru saja ditiupkan dari jantung Tel Aviv. Masalah Israel di Washington kini bukan lagi sekadar kritik media atau kemarahan demonstran di jalanan, melainkan keretakan struktural pada fondasi paling sakral dalam hubungan kedua negara, dukungan lintas partai (bipartisan).

Studi terbaru dari Institut Studi Keamanan Nasional (INSS) Israel bertajuk “Krisis Akut Posisi Israel di Amerika Serikat” memberikan peringatan yang keras. Penelitian yang digawangi oleh Avishai Ben-Sasson Gordis dan Profesor Ted Sasson dari Middlebury College ini mengungkapkan bahwa citra buruk Israel kini mulai merembet ke kubu Republik, wilayah yang selama ini dianggap sebagai “benteng terakhir” dukungan bagi Tel Aviv.

Popularitas yang Terjun Bebas

Data yang disajikan studi ini cukup mengejutkan. Sebanyak 60% warga Amerika kini memiliki pandangan negatif terhadap Israel, melonjak tajam dari 53% pada 2025 dan 42% pada 2022. Angka ini menunjukkan bahwa kemerosotan tersebut bukan lagi tren bertahap, melainkan kejatuhan bebas yang dipicu oleh agresi di Gaza dan ketegangan dengan Iran.

Masyarakat AS kini mulai melihat Israel bukan lagi sebagai sekutu yang “otomatis benar”, melainkan sebagai pihak yang menyeret Paman Sam ke dalam konflik yang tidak melayani kepentingan nasional Washington. Di mata sebagian warga AS, posisi Israel kini perlahan sejajar dengan negara-negara yang dianggap sebagai seteru utama Washington, seperti Rusia, Iran, dan Cina.

Generasi Muda yang Berpaling

Titik paling rawan berada di tangan generasi muda. Sebanyak 75% warga AS berusia 18-29 tahun memandang Israel secara negatif. Yang lebih mencemaskan bagi Tel Aviv adalah fakta bahwa sentimen negatif ini juga merambah ke 64% pemuda Republik.

Data ini menghantam telak strategi Israel selama satu dekade terakhir yang bertaruh pada penguatan hubungan dengan kubu Republik dan kaum Evangelis untuk menutupi kerugian di kamp Demokrat. Kini, “tabungan” dukungan dari generasi muda Republik pun mulai terkuras habis. Bahkan di kalangan Evangelis kulit putih di bawah usia 50 tahun, dukungan terhadap Israel tak lagi sekokoh dahulu.

Kegelisahan di Komunitas Yahudi AS

Keretakan ini juga menjalar ke dalam tubuh komunitas Yahudi Amerika sendiri. Sebanyak 55% hingga 60% pemilih Yahudi menentang opsi militer dalam konflik dengan Iran dan lebih memilih jalur diplomasi.

Yang lebih mencolok, 30% warga Yahudi Amerika kini mengaku lebih bersimpati kepada warga Palestina ketimbang Israel—sebuah angka yang terus merangkak naik di kalangan anak muda. Hubungan emosional yang dulunya bersifat tanpa syarat kini mulai dipenuhi dengan prasyarat hukum dan moral.

Tekanan Politik: Dari Kata Menjadi Aksi

Krisis ini telah masuk ke lorong-lorong kekuasaan di Capitol Hill. Sebanyak 40 dari 47 anggota Senat dari Partai Demokrat tercatat mendukung legislasi yang melarang penjualan buldozer ke Israel. Sebanyak 37 anggota lainnya mendukung pelarangan ekspor bom seberat setengah ton.

Langkah ini menandai pergeseran krusial: dukungan militer AS tak lagi bersifat cek kosong. Bahkan suara-suara yang selama ini dikenal dekat dengan Israel mulai berani membedakan antara mendukung eksistensi negara Israel dengan mendukung kebijakan pemerintahannya yang kontroversial. Posisi lobi kuat seperti AIPAC pun mulai dipertanyakan efektivitasnya di beberapa daerah pemilihan.

Kesimpulan: Aliansi yang Kian “Mahal”

Secara struktural, perang di Gaza, kekerasan pemukim ilegal di Tepi Barat, dan persepsi bahwa Israel menyeret AS ke dalam perang regional telah mengubah citra Israel di mata publik Amerika. Dari semula “sekutu utama yang mutlak” menjadi “sekutu yang terlalu mahal ongkosnya”.

Studi ini menyimpulkan bahwa kehilangan terbesar Israel bukanlah sekadar angka dalam jajak pendapat, melainkan hilangnya “kepastian dukungan”. Ketika dukungan terhadap Israel mulai diperdebatkan di jalanan, di Kongres, hingga di meja makan keluarga Yahudi Amerika, maka salah satu pilar kekuatan strategis jangka panjang Israel benar-benar berada di ujung tanduk.


Sumber: Media Riset Israel (INSS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here