AL-QUDS – Gelombang provokasi terhadap kesucian Masjidil Aqsa kembali meningkat tajam. Bertepatan dengan apa yang diklaim sebagai “Hari Kemerdekaan” Israel, kelompok-kelompok ekstremis Yahudi kembali meluncurkan seruan masif untuk menyerbu kompleks masjid suci tersebut sembari mengibarkan bendera Zionis di titik jantung kiblat pertama umat Islam.

Melalui kanal media sosial, organisasi radikal (salah satu yang paling vokal adalah “Beyadenu”) secara terang-terangan mengajak para pemukim ilegal untuk bergabung dalam serbuan kolektif pada Rabu (22/4). Mereka menyebarkan tautan pendaftaran bagi siapa saja yang ingin berpartisipasi dalam aksi pengibaran bendera di dalam area masjid.

Narasi di Atas Tanah Rampasan

Dalam kampanye mereka, kelompok ini menggunakan istilah “Gunung Bait Suci” untuk menggantikan nama Masjidil Aqsa. Mereka mempropagandakan narasi bahwa kedaulatan Israel belum lengkap tanpa menguasai penuh Al-Aqsa.

“Tidak ada hari kemerdekaan tanpa Gunung Bait Suci, tempat segalanya bermula. Kami akan mengibarkan bendera Israel dengan bangga di depan mata dunia,” tulis salah satu unggahan provokatif mereka.

Ironisnya, perayaan yang diklaim sebagai kemerdekaan tersebut merupakan luka abadi bagi bangsa Palestina. Sejarah mencatat, proklamasi Israel oleh David Ben-Gurion pada 1948 dilakukan di atas tanah Palestina yang dirampas, yang memicu peristiwa Nakba—sebuah tragedi pengusiran massal yang membuat jutaan warga Palestina menyandang status pengungsi hingga detik ini.

Pengosongan Paksa dan Dukungan Penguasa

Aksi pengibaran bendera di Al-Aqsa sebenarnya bukan hal baru, namun kini polanya kian sistematis. Jika dulu umat Islam yang berada di sana bisa memprotes dengan pekikan takbir, kini suasana di pelataran masjid justru tampak “hening” yang dipaksakan.

Otoritas keamanan Israel secara bertahap membatasi akses jemaah Muslim dan “membersihkan” jalur yang akan dilalui para pemukim. Langkah ini mendapatkan restu langsung dari Menteri Keamanan Nasional, Itamar Ben-Gvir, yang secara terbuka memfasilitasi pelanggaran status quo tersebut.

Data Departemen Wakaf Islam menunjukkan tren yang mengerikan. Jumlah pemukim yang menyerbu Al-Aqsa saat perayaan Israel terus menanjak: 474 orang pada 2023, naik menjadi 526 pada 2024, dan mencapai 515 orang pada 2025.

Agenda Terselubung: Menghapus Jejak Islam

Direktur Pusat Internasional Yerusalem, Hassan Khater, menyebut langkah ini sebagai upaya sistematis untuk menghubungkan Al-Aqsa dengan seluruh hari besar nasional Israel, bukan lagi sekadar hari besar keagamaan.

“Mereka tidak hanya merayakan sesaat, tapi melangkah maju untuk mendominasi penuh dan mengisolasi Al-Aqsa dari umat Islam,” ujar Khater kepada Al-Jazeera. Ia menyesalkan sikap dunia Arab dan Islam yang dinilai cenderung diam, sehingga memberikan celah bagi organisasi ekstremis untuk mengeksekusi rencana jangka panjang mereka.

Lebih mengkhawatirkan lagi, kelompok radikal ini mulai menyebarkan video hasil teknologi kecerdasan buatan (AI) yang menggambarkan peledakan Masjidil Aqsa dan pembangunan “Kuil Ketiga” di atas reruntuhannya. Di tengah situasi dunia yang terdistraksi oleh berbagai perang besar, kelompok ini melihat celah emas untuk melakukan tindakan nekat yang tak terduga.

Upaya Merampas Kedaulatan

Berdasarkan data lembaga Al-Quds International, dalam kurun waktu 2024-2025 saja, tercatat lebih dari 506 aksi penyerbuan dengan total keterlibatan 133.722 pemukim. Luar biasanya, sekitar 74% dari total jumlah penyerbu dalam satu dekade terakhir terkonsentrasi hanya pada rentang waktu empat tahun terakhir (2022-2025).

Ini membuktikan adanya percepatan “Yahudisasi” lapangan yang luar biasa. Pendudukan Israel bukan lagi sekadar hadir secara fisik, melainkan mencoba merampas kedaulatan Islam secara total atas Al-Aqsa dan memaksakan narasi Zionis sebagai fakta sejarah yang baru.

Bagi warga Yerusalem dan para Murabithun (penjaga Al-Aqsa), mereka tetap menjadi benteng pertahanan pertama dan terakhir. Namun, tanpa langkah nyata dari dunia internasional untuk menghentikan provokasi ini, Al-Aqsa sedang berada dalam ancaman penghapusan sejarah yang paling serius dalam sejarah modern.


Sumber: Al-Jazeera / Laporan Koresponden Palestina

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here