AL-QUDS – Eskalasi upaya provokasi dan “Yahudisasi” terhadap situs suci umat Islam di Palestina kian mencapai titik yang mengkhawatirkan. Dalam kurun waktu 24 jam terakhir, otoritas pendudukan Israel dan kelompok pemukim sayap kanan melakukan serangkaian tindakan yang dinilai sebagai pelecehan terang-terangan terhadap kesucian Masjidil Aqsa dan Masjid Ibrahimi.

Direktur Masjid Ibrahimi, Muataz Abu Sneineh, mengecam keras pemasangan lampu berbentuk “Bintang Daud” di atap masjid yang terletak di Hebron tersebut. Menurutnya, langkah ini bukan sekadar urusan pencahayaan, melainkan upaya paksa untuk mengubah identitas bangunan suci tersebut.

“Pemasangan simbol tersebut adalah preseden berbahaya. Ini merupakan bagian dari rencana besar untuk mengadopsi narasi Yahudi (Yahudisasi) dan memaksakan realitas baru di lapangan dengan kekuatan senjata,” tegas Abu Sneineh.

Al-Aqsa di Bawah Tekanan “Hari Kemerdekaan” Israel

Situasi tak kalah genting terjadi di Al-Quds. Pada Selasa (21/4) pagi, puluhan pemukim Israel dilaporkan menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa dengan mengibarkan bendera Israel. Aksi ini bertepatan dengan peringatan “Hari Peringatan Prajurit yang Gugur” (Yom HaZikaron) yang dilakukan beberapa jam sebelum perayaan “Hari Kemerdekaan” Israel.

Berdasarkan data Departemen Wakaf Islam di Al-Quds, tercatat sebanyak 233 pemukim masuk melalui Gerbang Al-Mughrabi dalam dua gelombang serbuan. Tak hanya sekadar masuk, para pemukim terekam melakukan ritual “Sujud Epik” (posisi telungkup penuh di atas tanah) di area timur masjid.

Mereka juga melakukan aksi mengheningkan cipta selama satu menit di dalam kompleks masjid, bertepatan dengan bunyi sirene yang meraung di seluruh penjuru wilayah pendudukan pada pukul 11.00 waktu setempat.

Bungkamnya Suara Azan

Ironi memilukan terjadi pada Senin malam sebelumnya. Kantor Gubernur Al-Quds melaporkan bahwa suara azan Isya tidak terdengar sama sekali di area pelataran Masjid Al-Aqsa maupun wilayah sekitarnya. Larangan kumandang azan ini diduga kuat berkaitan dengan perayaan di Tembok Buraq (Tembok Ratapan) yang terletak bersisian dengan Al-Aqsa.

Kejadian bungkamnya suara azan ini menjadi fenomena yang kian sering berulang, seiring dengan meningkatnya seruan dari organisasi-organisasi ekstremis Yahudi seperti “Beyadenu”. Organisasi ini bahkan memajang foto-foto tentara dan warga sipil Israel yang tewas, terutama mereka yang dikenal vokal mendukung aksi penyerbuan ke Al-Aqsa.

Narasi Sejarah yang Bertabrakan

Bagi warga Palestina, peningkatan aksi provokasi ini adalah upaya menghapus jejak sejarah mereka. Sementara Israel bersiap merayakan apa yang mereka sebut sebagai “Hari Kemerdekaan” pada 5 Mei mendatang (berdasarkan penanggalan Ibrani), warga Palestina memperingatinya sebagai hari permulaan musibah besar atau Nakba.

Sejarah mencatat, pada tanggal tersebut di tahun 1948, David Ben-Gurion memproklamirkan berdirinya negara Israel di Museum Tel Aviv, tepat sehari sebelum mandat Inggris atas Palestina berakhir. Namun bagi dunia Islam, situs-situs seperti Al-Aqsa dan Masjid Ibrahimi adalah garis merah yang tidak boleh diganggu gugat oleh klaim politik manapun.

Hingga berita ini diturunkan, seruan untuk melakukan penyerbuan massal ke Al-Aqsa pada puncak perayaan Israel terus bergulir di media sosial kelompok ekstremis, memicu kekhawatiran akan terjadinya bentrokan fisik di wilayah tersebut.


Sumber: Kantor Berita Palestina / Al-Jazeera

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here