PALESTINA 48 — Mantan tentara Israel, Ayelet Kreuzer, mengungkap praktik manipulasi informasi yang dilakukan Unit Juru Bicara Militer Israel dalam menyampaikan perkembangan operasi militer di Jalur Gaza dan Tepi Barat. Ia mengaku pernah terlibat dalam penyusunan informasi untuk media, termasuk pemberian label “militan” kepada warga Palestina yang tidak bersalah.

Kesaksian itu disampaikan Kreuzer melalui unggahan yang sekaligus mengumumkan penunjukannya sebagai juru bicara baru organisasi Breaking the Silence (Membungkam Keheningan). Organisasi nonpemerintah Israel tersebut dikenal menerbitkan kesaksian mantan tentara mengenai pelanggaran militer di wilayah Palestina yang diduduki.

Kreuzer mengatakan dirinya tumbuh dalam komunitas Haredi atau Yahudi ultra-Ortodoks. Tiga tahun lalu, ia membatalkan pengecualian wajib militer dan bergabung dengan tentara Israel selama perang.

“Saya bergabung dengan militer untuk mengambil bagian dalam sesuatu yang saat itu saya yakini sebagai pembelaan negara,” tulisnya.

Ia mengaku tidak pernah membayangkan masa dinasnya akan berakhir dengan bergabung bersama Breaking the Silence. Setelah keluar dari militer, ia semula membayangkan melakukan perjalanan panjang atau melanjutkan pendidikan.

“Tidak pernah terlintas dalam pikiran saya bahwa setelah dinas militer (alih-alih melakukan perjalanan besar atau mulai kuliah) saya justru akan memecah keheningan. Apalagi mengambil peran lebih besar dalam organisasi ini dan mulai bekerja di sana,” ujarnya.

Melihat Cara Militer Membentuk Opini Publik

Selama bertugas di Unit Juru Bicara Militer Israel, Kreuzer mengatakan ia tidak hanya mengenal situasi di Tepi Barat dan Gaza, tetapi juga memahami bagaimana militer memilih cara menyampaikan kenyataan tersebut kepada publik.

Ia mengaku melihat besarnya kendali unit itu dalam membentuk persepsi masyarakat Israel. Menurut Kreuzer, informasi yang disampaikan kerap dimanipulasi secara problematis, seolah unit tersebut hanya bekerja sebagai lembaga hubungan masyarakat, bukan institusi yang wajib mempertanggungjawabkan informasi kepada publik.

Kreuzer mengatakan orientasi komunikasi militer kepada masyarakat Israel adalah memperkuat kepercayaan publik terhadap tentara. Sementara itu, hak masyarakat untuk mengetahui kebenaran justru ditempatkan sebagai kepentingan sekunder.

Adapun komunikasi kepada publik internasional, menurut dia, diarahkan untuk memperkuat dan memperluas legitimasi operasi militer. Dalam kedua sasaran tersebut, kebenaran menjadi sesuatu yang dikorbankan.

Pengakuan Kreuzer tidak berhenti pada kritik terhadap kebijakan komunikasi militer. Ia mengatakan pernah ikut menyiapkan informasi yang disampaikan kepada media.

“Selama dinas, saya memanipulasi detail yang dipublikasikan di media. Saya melihat bagaimana label ‘militan’ juga ditempelkan kepada warga Palestina yang tidak bersalah, dan bagaimana pernyataan disusun sesuai dengan audiens yang dituju serta tujuan yang telah ditetapkan,” tulisnya.

Ia mengaku selama ini tidak pernah mampu diam menghadapi ketidakadilan. Namun, ketika berada di unit tersebut, dirinya justru dituntut menjalankan pekerjaan hubungan masyarakat untuk kepentingan ketidakadilan itu.

Korban Gaza dalam Bahasa Humas Militer

Kreuzer juga mengungkap bagaimana Unit Juru Bicara Militer Israel menyampaikan informasi mengenai korban serangan di Gaza.

Ia mengatakan terbiasa menyusun berita tentang puluhan orang yang tewas dalam satu serangan, kemudian secara otomatis menambahkan kalimat bahwa militer menyesalkan setiap korban luka yang berasal dari kalangan nonkombatan.

“Belajar menyusun berita tentang kematian puluhan orang dalam satu serangan, kemudian secara otomatis menambahkan bahwa kami menyesalkan setiap korban luka yang mencakup orang-orang yang tidak terlibat. Itu menjadi bagian dari rutinitas dinas saya,” ujarnya.

Di akhir unggahannya, Kreuzer menegaskan keputusan untuk tidak lagi diam. Ia juga menyerukan kepada mantan tentara Israel lainnya yang bertugas selama perang agar berani menyampaikan kesaksian.

“Karena itu, saya tidak akan diam. Jika kalian bertugas selama perang, jangan diam juga,” tulisnya.

Breaking the Silence menyambut penunjukan Kreuzer melalui unggahan di platform X. Organisasi itu menyatakan kebanggaannya atas bergabungnya Kreuzer dan menegaskan pentingnya menyampaikan kebenaran mengenai praktik pendudukan Israel.

Sebaliknya, Channel 7 berbahasa Ibrani menilai pengungkapan Kreuzer sebagai serangan terhadap Unit Juru Bicara Militer Israel.

Gaza Terus Menanggung Korban

Kesaksian Kreuzer muncul ketika korban perang di Gaza terus bertambah. Pada Senin, Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza melaporkan 15 warga syahid dalam 24 jam terakhir. Dengan tambahan tersebut, jumlah korban syahid sejak perang Israel dimulai pada 8 Oktober 2023 mencapai 74.609 orang.

Sebagian besar korban merupakan perempuan dan anak-anak. Selain korban jiwa, Israel telah menghancurkan sekitar 90 persen infrastruktur Gaza. Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan biaya rekonstruksi wilayah itu mencapai US$ 71,4 miliar.

Israel juga membatasi masuknya bahan pangan, obat-obatan, perlengkapan medis, material tempat tinggal, dan rumah prefabrikasi yang jumlahnya telah disepakati. Sekitar 2,4 juta warga Palestina, termasuk 2,15 juta pengungsi, masih hidup dalam kondisi kemanusiaan yang sangat buruk.

Pada November 2024, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) menerbitkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant. Keduanya dituduh melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

Sementara itu, Mahkamah Internasional (ICJ), lembaga peradilan utama PBB, masih menangani gugatan Afrika Selatan terhadap Israel atas dugaan genosida terhadap warga Palestina di Gaza. Sejumlah negara telah bergabung dalam perkara tersebut.

Kesaksian Kreuzer menambah sorotan terhadap cara militer Israel membangun narasi perang. Pengakuannya memperlihatkan bagaimana informasi mengenai operasi militer, korban, dan warga Palestina dapat disusun melalui kepentingan komunikasi yang telah ditentukan sebelumnya.

Sumber: Al Jazeera dan Anadolu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here