KHAN YOUNIS – Dua hari terakhir, langit Gaza tak hanya riuh oleh dengung drone, tapi juga oleh bau mesiu dari perang dalam kota yang berbeda. Bukan lagi sekadar adu infanteri di garis depan, melainkan konfrontasi berdarah antara perangkat keamanan Palestina dengan kelompok yang dijuluki warga setempat sebagai “Geng Kolaborator Israel”.

Senin lalu, di tengah kota Khan Younis, tepatnya di sekitar Bundaran Abu Hamid, tiga kendaraan sipil yang mencurigakan merayap masuk. Gerak-geriknya tak biasa. Intelijen keamanan lokal yang sudah mencium aroma pengkhianatan segera mencegat. Sebuah proyektil langsung menghantam salah satu mobil hingga hangus. Di dalamnya, sejumlah orang yang dituding sebagai agen lapangan Israel tewas seketika.

Hampir bersamaan, di utara Rafah, suasana pecah oleh tembakan membabi buta. Rasha Abu Jazar, seorang warga sipil berusia 43 tahun, syahid diterjang peluru saat gerombolan bersenjata yang diduga disokong militer Israel menyerbu kawasan Masjid Muawiyah.

Saksi mata menyebut, saat milisi lokal membalas tembakan, jet dan artileri Israel segera mengintervensi, bukan untuk menyerang militan, melainkan untuk mengamankan jalur pelarian kelompok “tangan kanan” mereka tersebut.

Strategi Menciptakan Kekosongan

Pola ini bukan kebetulan. Ini menunjukkan sebuah skenario yang sistematis, militer Israel secara konsisten membidik titik-titik polisi sipil Palestina. Di persimpangan Al-Zaqzouq, sebuah rudal dari pesawat tak berawak menghantam pos polisi, tiga petugas syahid. Di tempat lain, seorang polisi tersungkur oleh peluru penembak jitu.

Langkah ini terbaca sebagai upaya mengosongkan kendali keamanan. Saat polisi sipil dilumpuhkan, “milisi kolaborator” merangsek masuk ke pemukiman warga untuk menculik orang (termasuk perempuan dan anak-anak) seperti yang terjadi di lingkungan Al-Zaitun, Selasa pagi.

Para pengamat menyebut wilayah ini sebagai “Zona Kuning”, area abu-abu yang secara teknis di bawah kontrol militer Israel, namun menjadi basis operasi para agen lokal untuk melakukan pembunuhan terarah atau penculikan anggota perlawanan.

[Tabel: Kronologi Ketegangan 48 Jam Terakhir di Gaza]

WaktuLokasiPeristiwaKorban
Senin SoreBundaran Abu Hamid, Khan YounisPenghadangan kendaraan agen kolaboratorMobil hangus, kru tewas/luka
Senin MalamMasjid Muawiyah, RafahSerangan acak geng bersenjata1 Sipil meninggal dunia, 5 luka
Selasa PagiDistrik Al-Zaitun, Gaza TimurPenculikan massal oleh milisi lokal25 warga (termasuk anak & wanita)

Pemerintahan Bayangan di Balik Kekacauan

Mengapa Israel memilih memelihara milisi lokal dibanding menurunkan unit elit mereka seperti Mista’arvim? Jawabannya adalah efisiensi dan kerahasiaan. Milisi lokal ini lebih mengenal medan dan sulit dideteksi oleh warga.

Lebih jauh lagi, kelompok ini diduga dipersiapkan menjadi “pemerintahan bayangan”. Mereka mulai diberi peran administratif, seperti mengelola klasifikasi warga yang keluar-masuk di Gerbang Rafah. Ini adalah upaya menciptakan struktur administratif baru yang patuh pada Tel Aviv, sekaligus meruntuhkan legitimasi birokrasi lama yang masih berafiliasi dengan Hamas.

Kolonel Hatem Karim al-Falahi, pakar strategi militer, melihat ada ambisi yang lebih besar di balik serangan ke pos-pos polisi. “Israel ingin mencegah terbentuknya realitas administratif yang stabil pasca-gencatan senjata,” ujarnya. Dengan menghancurkan polisi sipil, Israel menciptakan anarki. Dalam anarki itulah, mereka bisa memaksakan “kekuatan stabilitas” baru dengan syarat yang mereka tentukan sendiri.

Negosiasi di Ujung Moncong Senjata

Hamas dan faksi-faksi di Gaza menyebut eskalasi ini sebagai cara Israel “menagih” janji perang yang gagal di meja diplomasi. Gencatan senjata memang berlaku secara internasional, namun di lapangan, Israel tampaknya frustrasi karena gagal melucuti senjata perlawanan dan menangkap tokoh-tokoh kunci.

Kini, pengeboman dan operasi intelijen menjadi alat tekan baru. Taisir Muhaisen, konsultan kantor media pemerintah, menegaskan bahwa tidak ada “tenang” yang sesungguhnya selama agen-agen pembunuh dilepaskan ke dalam kota.

Bagi Israel, menghubungkan tahap kedua gencatan senjata dengan syarat pelucutan senjata adalah harga mati. Dan selagi jalur politik tersumbat, kekacauan keamanan adalah senjata pilihan untuk memaksa lawan bertekuk lutut. Gaza kini bukan hanya medan tempur terbuka, tapi juga laboratorium eksperimen anarki yang mematikan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here