Di tengah kondisi kemanusiaan yang sangat sulit dan serangan udara yang terus menggempur Gaza, sebuah keluarga Palestina memutuskan untuk tetap hidup dan bekerja, meski beberapa anggota keluarga menderita cacat permanen dan sumber penghidupan utama mereka hancur setelah roti mereka dihancurkan dalam serangan Israel.
Muhammad Ali (59), kepala keluarga, mengungkapkan, serangan Israel menyebabkan lengannya harus diamputasi, begitu pula sejumlah anggota keluarganya, sementara toko roti mereka hancur total.
“Serangan itu menghancurkan segalanya. Kami hanya punya satu pilihan: mulai dari awal lagi,” katanya.
Setelah kehilangan toko roti utama, keluarga Ali mendirikan sebuah toko roti sederhana di dalam tenda di pinggir jalan di Khan Younis, Gaza selatan. Toko ini kini menjadi sumber penghidupan bagi tujuh keluarga, sebagian besar pekerjanya adalah korban yang terluka.
“Setiap pekerja sebelumnya menanggung 5–6 orang sebelum perang. Sekarang toko kecil ini adalah penyelamat kami. Ini menjaga harga diri kami dan memastikan anak-anak kami tidak bergantung pada orang lain,” ujar Ali.
Beban Fisik dan Psikologis

Alaa Qumhan (35), salah satu anak keluarga, menceritakan bahwa serangan Israel membuat kakinya diamputasi dan penglihatannya hilang di salah satu mata. Meski begitu, ia tetap bekerja di toko roti, meski dokter memperingatkan risikonya.
“Saya tidak punya pilihan lain. Saya punya keluarga dengan tujuh anggota, semuanya anak-anak,” katanya.
Qumhan menambahkan bahwa bekerja di toko roti merupakan beban fisik dan psikologis besar bagi para penyintas, terutama dalam cuaca ekstrem. Mereka hidup di tenda yang minim perlindungan, namun kecacatan tidak menghentikan mereka.
“Meski sakit dan lelah, kami kembali bekerja untuk hidup dan melayani orang,” ujarnya.
Kisah keluarga Ali mencerminkan realitas ribuan keluarga Palestina di Gaza, yang kehilangan anggota keluarga, anggota tubuh, dan sumber penghidupan akibat perang, namun tetap berusaha bertahan hidup dan bekerja dengan sisa kemampuan yang mereka miliki, di tengah kondisi kemanusiaan yang sangat sulit.
Menurut data Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, perang yang dilakukan Israel menyebabkan sekitar 6 ribu orang mengalami amputasi dan membutuhkan rehabilitasi jangka panjang. PBB juga mencatat, Gaza kini menjadi rumah bagi kelompok anak-anak dengan amputasi terbesar di dunia.
Sumber: Al Jazeera Mubsher










