Ghassan Al-Dahini, lahir pada 3 Oktober 1987 di Rafah, Gaza Selatan, kini menjadi sorotan setelah ditunjuk sebagai pemimpin baru milisi “Al-Quwat Al-Sha’biyya” menggantikan Yasser Abu Shabab yang tewas pada 4 Desember 2025. Dahini berasal dari suku Badui Al-Turabin, suku yang sama dengan Abu Shabab, yang sebelumnya dituduh bekerja sama dengan Israel.

Latar Belakang dan Asal-usul
Al-Dahini tumbuh di Rafah dan berasal dari salah satu suku Arab terbesar di selatan Palestina, Al-Turabin, yang memiliki akar sejarah hingga suku Quraisy. Suku ini menyebar ke Gaza, Mesir, dan Yordania setelah ekspansi Islam, dengan konsentrasi signifikan di Gaza. Sejarah keluarga dan sukunya kini terkait erat dengan kontroversi kolaborasi dengan pihak Israel.

Karier Militer
Sebelum terlibat dalam milisi, Al-Dahini adalah perwira di aparat keamanan Otoritas Palestina dengan pangkat Letnan Satu. Ia kemudian bergabung dengan kelompok bersenjata “Jaysh al-Islam” yang memiliki hubungan ideologis dengan ISIS.

Saat eskalasi agresi Israel di Gaza setelah 7 Oktober 2023, milisi “Al-Quwat Al-Sha’biyya” muncul ke permukaan pada 2024 di bawah pimpinan Yasser Abu Shabab. Milisi ini, yang diperkirakan beranggotakan 100–300 pejuang, beroperasi dekat posisi militer Israel dan bergerak di bawah pengawasan langsung pihak Israel. Basis mereka terutama berada di timur Rafah, dekat perbatasan Karem Abu Salem, titik utama distribusi bantuan kemanusiaan, serta di barat Rafah, dekat pos distribusi bantuan AS dan Israel, tempat ratusan warga Palestina tewas saat mencoba mengakses bantuan.

Pada 30 Januari 2026, milisi secara resmi mengumumkan penunjukan Al-Dahini sebagai pemimpin baru melalui akun resmi mereka di Facebook. Dalam pernyataannya kepada Channel 12 Israel yang diberitakan Times of Israel, Al-Dahini menegaskan bahwa ia “tidak takut kepada Hamas.” Video resmi milisi menunjukkan Al-Dahini memeriksa pasukannya, mengirim pesan bahwa kelompok itu tetap aktif meski kehilangan pemimpin sebelumnya.

Sumber media Palestina menyebut Al-Dahini sebenarnya sudah menjadi komandan operasional utama milisi, meski secara formal ia hanya menjabat wakil komandan, sementara Abu Shabab menjadi wajah publik kelompok tersebut setelah direkrut oleh Israel.

Tuduhan Kolaborasi dengan Israel
Hamas menempatkan Al-Dahini dalam daftar buronan utama, menuduhnya bekerja sama dengan Israel, merampas bantuan kemanusiaan, serta mengumpulkan intelijen terkait jalur terowongan dan posisi militer.

Beberapa video yang beredar menunjukkan Al-Dahini memimpin penangkapan dan interogasi anggota Hamas di terowongan Rafah. Grup Abu Shabab mengklaim penangkapan ini “sesuai arahan keamanan dan koordinasi dengan koalisi internasional.”

Media sosial juga menampilkan Al-Dahini berdiri di samping mayat yang diklaim anggota Hamas, yang menurut milisi telah “dinetralisir” dalam operasi anti-teror. Dalam rekaman lain, unit yang dipimpin Al-Dahini menangkap Adham Al-Akkar, komandan brigade sayap militer Hamas, bersama puluhan pejuang lainnya yang terjebak di terowongan, sementara Israel menolak membiarkan mereka keluar.

Dalam video itu, Al-Dahini bahkan menegaskan akan menggelar “pengadilan ala Inkuisisi Spanyol” terhadap anggota Hamas, menekankan ancaman penangkapan lebih lanjut.

Sumber: Al Jazeera

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here