KHAN YOUNIS — Pekikan takbir dan suara rasi zikir berbaur dengan air mata di bawah tenda-tenda darurat kawasan Al-Mawasi, sebelah barat Khan Younis, selatan Jalur Gaza. Senyum yang merekah di wajah para mempelai dalam resepsi pernikahan massal (collective wedding) yang diinisiasi oleh lembaga kemanusiaan Turki, Ilik Association, bukan sekadar perayaan sosial biasa. Di tanah Gaza yang sedang dikepung genosida, setiap upaya untuk mempertahankan garis keturunan dan merajut kebahagiaan telah bermutasi menjadi sebuah tindakan perlawanan (act of defiance) yang nyata.
Hal yang paling menggetarkan nurani dalam resepsi ini adalah profil para mempelai pria. Sebagian besar dari mereka merupakan penyintas tunggal (sole survivors) dari pembantaian massal militer Israel yang telah melenyapkan seluruh anggota keluarga besar mereka tanpa sisa. Melalui pelaminan darurat ini, warga Gaza mengirimkan pesan empiris kepada dunia dan kekuatan penjajah: mereka menolak punah dan memilih untuk terus beranak-pinak di atas puing-puing rumah mereka yang hancur.
Kesaksian Penyintas Tunggal: Merebut Kebahagiaan dari Ruang Maut
Salah satu mempelai pria, Abdul Rahman Abdul Ghafoor (20-an tahun), berdiri di pelaminan dengan keteguhan iman yang kokoh. Pemuda ini dievakuasi dari reruntuhan bangunan dalam kondisi hidup tiga hari pasca-serangan udara masif jet tempur Israel pada subuh 23 Oktober 2023. Rumah keluarganya runtuh total, mengubur seluruh orang tua dan saudara kandungnya sekaligus. Selama satu minggu di rumah sakit, Abdul Rahman bahkan tidak menyadari bahwa ia telah menjadi sebatang kara di dunia.
“Saya adalah satu-satunya yang tersisa hidup dari keluarga saya setelah perang merenggut semua orang yang saya cintai. Hari ini, saya berdiri di sini sebagai seorang pengantin untuk menegaskan kepada dunia dan kepada penjajah bahwa kami berhak atas kehidupan dan kebahagiaan. Di Gaza, kebahagiaan itu tidak dihadiahkan, melainkan direbut dengan paksa dari jantung kematian dan kehancuran,” ujar Abdul Rahman Abdul Ghafoor, Mempelai Pria.
Di sudut lain pelaminan, tampak Mohammed Shurrab (53 tahun) bersanding dengan sepupunya, Inas Shurrab (37 tahun). Inas merupakan seorang janda dari pejuang sipil yang gugur syahid dalam fase awal agresi. Pernikahan ini menjadi fase rekonsiliasi psikologis bagi keduanya untuk membangun kembali institusi keluarga yang sempat hancur akibat bombardemen.
Pernikahan sebagai Benteng Perlindungan Anak Yatim
Dimensi heroisme domestik yang sangat kental juga ditunjukkan oleh Amjad Al-Farra (23 tahun). Pemuda yang kini terpaksa menetap di sebuah tenda plastik di Al-Mawasi ini kehilangan dua saudara kandungnya yang gugur terkena pecahan selongsong peluru, sementara ayahnya hingga kini masih mendekam di dalam sel tahanan militer Israel.
Amjad mengambil keputusan taktis untuk menikahi janda dari almarhum saudara kandungnya. Langkah ini diambil bukan demi motif romantis, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab ideologis untuk menjadi pelindung dan ayah pengganti bagi empat anak yatim yang ditinggalkan—dua laki-laki dan dua perempuan.
”Saya berada di sini hari ini sebagai pengantin bagi istri mendiang saudara saya, untuk menjadi sandaran hidup baginya dan bagi keempat anak yatimnya, serta menggantikan peran ayah mereka yang telah syahid,” tegas Amjad bertenaga.
Statistik dan Sokongan Logistik Pernikahan Massal
Proyek sosial bertajuk “Kebahagiaan di Atas Luka” ini memberikan sokongan finansial dan material yang signifikan guna mengarsiteki awal baru kehidupan para korban perang:
Koordinator Proyek Ilik Association, Insinyur Mohammed Abu Ajlan, menegaskan kepada Al Jazeera Net bahwa proyek ini merupakan bukti empiris mengenai ketahanan psikologis (psychological resilience) bangsa Palestina. Lembaga tersebut berkomitmen untuk menggelar gelombang pernikahan massal berikutnya dalam waktu dekat guna menjangkau ratusan pemuda penyintas lainnya.
Di Gaza hari ini, sebuah pernikahan di dalam tenda pengungsian bukan sekadar penyatuan dua insan, melainkan proklamasi politik dan biologis bahwa generasi baru Palestina akan tetap lahir, tumbuh, dan melanjutkan estafet perjuangan membebaskan tanah air mereka.









(Sumber: Al Jazeera Net)










