GAZA — Di tengah puing-puing kehancuran akibat agresi militer Israel, para petani di Jalur Gaza berjuang mengolah kembali lahan pertanian mereka yang rusak parah. Di bawah bayang-bayang krisis ekonomi dan kemanusiaan yang akut, mereka bertekad mengembalikan roda produksi pangan meski harus berhadapan dengan melambungnya biaya produksi serta kelangkaan bibit, pupuk, dan peralatan irigasi.
Seorang petani lokal menuturkan kepada Al Jazeera Mubasher bahwa sebelum perang berkecamuk, lahannya merupakan sumber kehidupan yang menghasilkan beragam jenis sayuran dan buah-buahan. Hasil panen tersebut tidak hanya mencukupi kebutuhan seluruh keluarganya, tetapi juga mengisi pasar-pasar lokal.
“Dulu kehidupan kami bagaikan di surga, dikelilingi pepohonan rimbun, tanaman subur, dan sumber air yang melimpah,” kenangnya.
Namun, operasi militer Israel tidak sekadar merusak tanaman, melainkan melumat tanah pertanian menjadi tumpukan kawah rawa dan puing-puing bangunan. Suara kicau burung dan gemercik air irigasi yang dulu menghiasi harinya kini berganti dengan pemandangan kehancuran total.
Setelah pasukan Israel menarik diri, ia bersama keluarganya mulai mengabaikan besarnya biaya demi memulihkan tanah tersebut. Mereka meratakan kembali permukaan tanah dan membeli pipa-pipa irigasi baru dengan harga yang membubung tinggi, di tengah kelangkaan benih yang parah.
“Apa yang kami capai hari ini rasanya seperti kemustahilan yang menjadi nyata,” ujarnya.
Perjuangan dari Titik Nadir
Petani lainnya mengonfirmasi betapa beratnya tantangan yang dihadapi sektor pertanian Gaza saat ini. Ketiadaan pupuk, obat-obatan pertanian, bibit, hingga tingginya biaya bahan bakar untuk mesin pembajak dan pompa air menjadi tembok besar yang harus mereka lompati.
“Kawasan ini dulunya dipenuhi kebun srikaya, kurma, dan delima. Namun semuanya rata dengan tanah. Kami terpaksa memulai segalanya benar-benar dari titik nol di atas bukit-bukit puing,” tuturnya.
Proses merehabilitasi tanah, memberi pemupukan ulang, hingga menanam kembali membutuhkan biaya yang sangat besar. Meski demikian, para petani menolak menyerah demi mengembalikan warna hijau di tanah kelahiran mereka.
Seorang petani di kawasan Al-Dahdouh menceritakan kisah pilunya kehilangan sekitar 750 pohon srikaya langka yang telah ia rawat selama tujuh tahun. Seluruh kebunnya musnah tanpa sisa saat pergerakan pasukan Israel menerjang wilayah tersebut.
Karena ketiadaan bibit pohon buah yang baru, ia beralih menanam sayur-mayur di sisa-sisa lahannya agar tanah tersebut tetap produktif. Selain krisis obat pertanian dan tingginya harga pupuk, para petani kini juga harus bertarung melawan hama tikus yang merusak sebagian besar tanaman di tengah keterbatasan racun dan perangkap.
Kerugian Miliaran Dolar dan Asa yang Tak Padam
Dampak paling parah dialami seorang petani yang dulunya mengelola 10 dunam (sekitar 1 hektar) perkebunan jeruk dan zaitun, peternakan kelinci berkapasitas 3.000 ekor, rumah kaca (greenhouse) tomat, serta gedung kediaman tujuh lantai. Pohon-pohon jeruk miliknya yang telah berusia lebih dari 30 tahun dahulu merupakan salah satu komoditas terbaik di Gaza yang menghasilkan ratusan kilogram panen per tahun.
Perang menghancurkan seluruh investasi hidupnya tanpa sisa, memaksa ia dan keluarganya kini tinggal di dalam tenda darurat.
Untuk mengolah kembali tanahnya, ia terpaksa menggantungkan diri pada utang. Biaya menyewa buldoser untuk meratakan tanah melonjak drastis akibat krisis bahan bakar. Sementara itu, biaya operasional pompa air untuk menyiram lahan seluas 10 dunam mencapai sekitar 1.000 shekel (sekitar Rp5,2 juta) per hari selama musim panas.
“Kami terus bekerja meski menanggung kerugian yang amat besar, demi mengembalikan kehidupan ke tanah ini dan menghidupkan kembali produksi pertanian,” tegasnya.
Laporan resmi Kementerian Pertanian Palestina mencatat bahwa lebih dari 85 persen sektor produksi pertanian di Gaza hancur total akibat agresi militer Israel. Total kerugian ekonomi di sektor ini diperkirakan mencapai 3,5 miliar dolar AS (sekitar Rp56 triliun). Badan-badan PBB memperingatkan bahwa pemulihan penuh sektor pertanian di Gaza akan memakan waktu bertahun-tahun.









