GAZA — Di tengah puing-puing bangunan yang hancur dihantam bom, ribuan warga Palestina di Jalur Gaza terpaksa menjalani hari di bawah atap miring dan dinding yang retak melintang. Krisis pemukiman yang kian parah tak memberi mereka banyak pilihan, bertahan di dalam rumah yang siap runtuh kapan saja, atau nekat keluar melangkah menuju ketidakpastian.
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Gaza mendata ada sekitar 3.000 bangunan yang kini dikategorikan rawan ambruk. Angka ini adalah ancaman langsung bagi keselamatan warga. Kesaksian para penghuninya memperlihatkan betapa ironisnya pilihan yang tersisa bagi mereka yang kehilangan tempat tinggal.
Di satu sudut kota, tanda-tanda bencana itu muncul perlahan. Reruntuhan batu-batu kecil mulai berguguran di pagi hari, sebelum akhirnya memburuk saat malam tiba. Seorang lansia menceritakan detik-detik mencekam ketika ia mendengar suara dentuman keras sekitar pukul 03.00 dini hari.
Begitu sorot lampu senter diarahkan ke dinding, ia melihat retakan di tembok meluas cepat. Tanpa berpikir panjang, ia berteriak meminta para tetangga segera keluar.
Proses evakuasi hanya berlangsung hitungan menit. Sekitar 18 orang berhasil menyelamatkan diri ke jalanan tepat sebelum bangunan itu roboh rata dengan tanah. Di tengah tumpukan puing, mereka hanya sempat mengais beberapa barang seadanya.
Kini mereka terlunta-lunta di jalanan, berbalut selembar kain seadanya, bingung mencari tempat berteduh berikutnya.
Bagi lansia tersebut, runtuhnya rumah itu hanyalah awal dari ujian baru. Keluarga yang tadinya berkumpul di bawah satu atap kini terpecah, terpaksa mencari perlindungan di tengah makin menyusitnya ruang aman di Gaza.
Menghitung Hari di Dalam “Atap Maut”
Di lokasi lain, sebuah keluarga merasakan getaran hebat pada struktur bangunan sebelum menyadari posisi rumah mereka mulai miring. Lansia yang tinggal di sana bercerita bagaimana mereka berhamburan keluar sambil berteriak memperingatkan warga lain.
Dari luar, mereka hanya bisa menatap pasrah seluruh perabotan, barang dagangan, dan alat kerja yang tertinggal di dalam.
“Kami selamat, tapi kami kehilangan semuanya,” ujarnya.
Bagi keluarga ini, kehilangan tempat tinggal terasa kian berat karena modal usaha dan sumber mata pencaharian mereka ikut tertimbun reruntuhan.
Ada pula keluarga yang sadar betul rumah yang mereka tempati sudah tak layak huni, namun tak punya pilihan lain. Seorang pemuda menceritakan bagaimana tiang utama rumahnya sudah retak parah. Karena tak menemukan tempat lain untuk menampung seluruh anggota keluarga, mereka terpaksa bertahan.
Serpihan semen dan batu kerap jatuh saat mereka beraktivitas di dalam. Setiap langkah terasa membahayakan, tetapi di dalam ruangan-ruangan tersisa itulah mereka mencoba menyambung hidup.
Ketakutan serupa dialami seorang ibu yang tinggal di rumah retak. Saban malam ia dihantui kecemasan kalau-kalau atap rumahnya runtuh menimpa anak-anaknya yang sedang tidur. Di dapurnya yang rusak berat, sebuah lubang menganga membuat aktivitas memasak sehari-hari jadi seperti pertaruhan nyawa.
Antara Bertahan dan Melayang Nyawa
Potret memprihatinkan lain terlihat di bagian atap sebuah gedung yang rusak. Seorang pemuda nekat mendirikan tenda di atas atap bangunan keluarganya. Padahal, risiko atap itu ambles merobohkan lantai di bawahnya mengintai setiap saat.
Tangga menuju atap sudah miring, lantai semen tidak rata, dan tiang penyangga bangunan tampak makin mengkhawatirkan.
“Tidur di dalam tenda di atas atap seperti ini tidak pernah tenang,” tuturnya sambil merapikan selimut. Pertanyaan apakah atap ini sanggup menahan beban hingga esok hari terus berputar di kepalanya.
Di bangunan sebelahnya, seorang pria memantau setiap getaran kecil yang terjadi. Ketika saudaranya berjalan di kamar lantai atas, seluruh rumah terasa bergoyang. Setiap kali ada reruntuhan batu yang bergeser di sekitar rumah, mereka langsung berlari ke luar karena takut bongkahan beton menimpa warga yang melintas.
Pria ini menyimpulkan kondisi keluarganya dengan getir. Kamar tersisa itu adalah satu-satunya tempat bernaung yang mereka miliki, meski tak lagi layak disebut rumah. Setelah kehilangan beberapa anggota keluarga akibat perang, ia takut bangunan retak ini akan memakan korban baru dari keluarganya.
“Ini adalah satu-satunya tempat berlindung yang tersisa,” katanya. “Tapi tempat ini bisa saja berubah jadi kuburan kami.”










