PALESTINA 48- Pernyataan tegas Menteri Luar Negeri Inggris Ed Miliband terkait krisis kemanusiaan di Jalur Gaza memicu reaksi keras dari Tel Aviv. Miliband membeberkan kesaksian lapangan yang ia dengar langsung dari para petugas medis sebagai kondisi yang “sangat mengerikan”, termasuk laporan penahanan pasokan obat-obatan hingga gugurnya anak-anak yang tengah menanti perawatan medis darurat.

Pernyataan Miliband dirilis seusai menggelar pertemuan tertutup bersama para pekerja kemanusiaan, tenaga medis, dan perwakilan organisasi internasional. Sebagian dari mereka baru saja kembali dari Gaza, sementara sebagian lainnya terhubung langsung secara real-time dari lokasi bencana di dalam Jalur Gaza.

Tak lama setelah pertemuan berakhir, Miliband mengunggah video resmi yang memperlihatkan rasa terkejutnya atas realitas pahit di lapangan yang disampaikan para sukarelawan.

Miliband: Inggris Harus Mengambil Sikap Lebih Tegas

Menlu Inggris itu menegaskan bahwa pemerintahannya harus mengambil posisi yang “jauh lebih tegas” dalam merespons situasi di Gaza. Ia menuturkan, kesaksian yang ia terima membuka tabir krisis kemanusiaan yang teramat parah, di mana bantuan medis yang sangat dibutuhkan justru tertahan di perbatasan, memicu kematian anak-anak yang membutuhkan pertolongan cepat.

Menurut Miliband, fakta-fakta menyedihkan ini menuntut London untuk tidak tinggal diam dan segera mengambil langkah diplomatik yang konkret serta lebih berani guna menekan keterpurukan di Gaza.

Reaksi Israel: Tudingan Cerita Tanpa Fakta

Kementerian Luar Negeri Israel merespons dingin dan menolak mentah-mentah tuduhan tersebut. Melalui pernyataan resminya, pihak Israel menuduh Miliband hanya bersandar pada “cerita rekaan” ketimbang fakta di lapangan. Israel mengklaim tidak ada pembatasan atas masuknya obat-obatan dan bantuan medis ke Gaza.

Tel Aviv mengklaim telah memasukkan sekitar 22,5 ribu ton pasokan medis ke Gaza sejak kesepakatan ganjatan senjata diberlakukan. Mereka juga menyebut warga Gaza tetap diizinkan keluar untuk menjalani pengobatan di luar negeri, termasuk 200 pasien dalam dua pekan terakhir.

Kemenlu Israel bahkan mengungkit keanggotaan Inggris dalam International Gaza Support Center, lembaga yang memfasilitasi pengiriman bantuan medis. Israel menilai London sebenarnya paham atas data tersebut, lalu menuduh Menlu Inggris sengaja mengabaikan fakta demi kepentingan narasi politik domestik.

Realitas Lapangan: Angka-Angka Kritis Krisis Kesehatan

Perdebatan diplomatik ini mengemuka di tengah jeritan krisis kesehatan yang makin melumpuhkan Gaza. Data Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza mencatat bahwa sektor kesehatan berada di ambang kolaps akibat blokade yang terus berlangsung.

Kemenkes Gaza melaporkan defisit obat kanker dan penyakit darah telah menembus angka 61 persen. Secara keseluruhan, kelangkaan obat-obatan mencapai 47 persen, stok pasokan medis menyusut hingga 58 persen, sementara krisis bahan laboratorium medis berada di tingkat yang sangat mengkhawatirkan, yakni 85 persen.

Kelangkaan ini merambah ke seluruh fasilitas vital, mulai dari layanan kesehatan ibu dan anak, perawatan primer, obat kesehatan jiwa, hingga ruang ICU dan tindakan darurat. Bahkan, pemeriksaan laboratorium mendasar seperti tes darah lengkap (CBC) dan kimia klinik sering kali tak bisa dilakukan, membenturkan para dokter pada ketidakpastian saat menyelamatkan nyawa pasien kritis.

Kondisi diperparah oleh serangan udara Israel yang merusak gudang penyimpanan obat di Kompleks Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa. Dua dari empat fasilitas penyimpanan obat hancur total, sementara sisanya rusak berat beserta bangunan rawat jalan. Hancurnya persediaan obat ini kian memutus harapan sembuh bagi ribuan warga yang terluka.

Agresi Merekam Kehancuran Sektor Kesehatan

Sejak agresi militer meletus pada 7 Oktober 2023, sektor kesehatan Gaza memang menjadi sasaran tembak yang sistematis. Puluhan rumah sakit dan pusat kesehatan terpaksa berhenti beroperasi, baik akibat hantam peluru dan bom secara langsung, maupun karena krisis bahan bakar yang tak kunjung teratasi.

Laporan terbaru Kemenkes Gaza mencatat penderitaan mendalam di kalangan tenaga medis: sebanyak 1.701 pekerja kesehatan gugur sejak awal Perang Gaza. Dari jumlah tersebut, 320 di antaranya merupakan dokter spesialis dan konsultan senior, di samping deretan perawat dan staf medis lainnya. Gugurnya ribuan pahlawan medis ini melumpuhkan daya jangkau penanganan kesehatan di tengah ribuan korban yang terus berjatuhan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here