GAZA – Setelah hampir tiga tahun terperangkap di bawah puing-puing bangunan yang hancur, jasad sekitar 100 warga Palestina di Distrik Al-Zaytoun, Gaza, akhirnya berhasil dievakuasi oleh tim Pertahanan Sipil. Ironisnya, lebih dari 60 korban di antaranya adalah anak-anak yang masa depannya terenggut seketika oleh bom-bom Israel.
Wartawan Al Jazeera di Gaza, Ghazi Al-Aloul, melaporkan bahwa 55 korban tewas yang dievakuasi merupakan anggota keluarga besar Malaka, di samping korban jiwa dari keluarga Al-Balawi dan Salmi. Petugas Pertahanan Sipil harus bekerja ekstra keras selama berjam-jam secara manual akibat krisis alat berat.
Pihak Pertahanan Sipil Gaza terus mendesak komunitas internasional untuk menekan Israel agar mengizinkan masuknya alat berat guna mempercepat proses evakuasi. Namun, otoritas pendudukan tetap menolak membiarkan peralatan tersebut masuk.
Menurut perkiraan lokal, saat ini masih ada sekitar 8.000 jasad dan reruntuhan tulang-belulang yang tertimbun di bawah puing-puing bangunan di seluruh pelosok Gaza.
Di tengah keterbatasan, tahap kedua operasi pencarian jasad kini mulai digeser ke Provinsi Tengah, mencakup wilayah Kota Deir Al-Balah serta Kamp Nuseirat dan Al-Maghazi.
Tangis Mencekam di Pemakaman Akhir
Momen pelepasan jenazah pada Sabtu malam menjadi salah satu pemandangan paling menyayat hati. Sanak keluarga berkumpul melambaikan tangan terakhir kepada orang-orang tercinta yang selama bertahun-tahun statusnya tak menentu.
Bagi keluarga korban, evakuasi ini bukan sekadar pencarian murni di balik puing, melainkan penutupan atas luka panjang yang mengendap bertahun-tahun. Reruntuhan rumah yang dulunya menyimpan kenangan kini berbuah menjadi saksi duka atas kepulangan mereka.
Berbagai rekaman video dan foto yang beredar luas di media sosial mengabadikan pemakaman massal tersebut. Para aktivis dan jurnalis menyuarakan duka mendalam atas kenyataan pahit yang dihadapi warga Gaza.
Jurnalis Basyir Abu Syi’ar menuliskan duka mendalam melihat “tatapan perpisahan pada jasad dan wajah yang tak lagi dikenali murni bentuknya.” Sementara jurnalis Aziz Khalil Al-Bahtini menyebut momen ini sebagai “perpisahan terakhir setelah melintasi lebih dari seribu hari pencarian di balik puing-puing kenangan.”
Aktivis Al-Hakim turut menyuarakan kepedihan tersebut. “Di Gaza, bahkan upacara pemakaman pun harus tertunda… Perpisahan butuh waktu bertahun-tahun,” tulisnya. Ia menggambarkan betapa hancurnya perasaan orang tua yang setelah bertahun-tahun mencari anaknya, hanya menemukan sisa-sisa tulang belulang.
Sejak 7 Oktober 2023, militer Israel terus melancarkan agresi di Jalur Gaza. Meski kesepakatan gencatan senjata sempat tercapai, data terbaru Kementerian Kesehatan Gaza per awal September mencatat total korban jiwa telah menembus 73.470 orang dan melukai 174.540 warga lainnya, yang mayoritasnya adalah anak-anak dan perempuan.










