LAUT MEDITERANIA – Di tengah luasnya Laut Mediterania, perjuangan kemanusiaan untuk Palestina menghadapi ujian teknis yang tak ringan. Koordinator Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), Dr. Maimon Herawati, melaporkan bahwa kapal induk Shafshaf yang ia tumpangi mengalami kendala serius pada sistem kemudi (steering), Sabtu (18/4/2026).
Akibat kerusakan tersebut, kapal yang membawa misi Global Sumud Flotilla ini kehilangan kendali arah berlayar. Upaya darurat dengan menggunakan kemudi manual sempat dilakukan, namun risiko tabrakan di laut lepas membuat tim mengambil keputusan cepat. Kapal besar milik NGO Search and Rescue Spanyol, Open Arms, akhirnya turun tangan menggandeng dan menarik (towing) kapal Shafshaf agar tetap berada dalam jalur menuju Gaza.
“Menarik melihat kapal digandeng oleh kapal lain di tengah laut seperti ini. Mirip truk yang ditarik mobil derek di jalan raya, tapi ini terjadi di samudera,” ujar Maimon dalam pesan yang diterima redaksi. Meski terkendala teknis, Maimon memastikan dirinya bersama figur publik Chiki Fawzi dalam kondisi sehat walafiat. “Alhamdulillah kami tidak mabuk laut, semua aman atas doa teman-teman di tanah air.”
Nestapa 10 Ribu Tawanan Palestina
Meski fokus pada perbaikan kapal, pikiran para aktivis ini tetap tertuju pada nasib warga Palestina yang mendekam di balik jeruji besi. Maimon mengingatkan bahwa momentum ini bertepatan dengan Hari Tahanan Palestina. Ironisnya, di saat dunia memperingati hak asasi, sekitar 10.000 warga Palestina masih disekap di penjara-penjara Israel.
Banyak di antara mereka ditahan melalui sistem administratif tanpa proses pengadilan yang jelas. Maimon mencontohkan kasus dr. Hussam, seorang tenaga medis yang diculik secara paksa tepat di depan rumah sakit tempatnya bertugas.
“Kondisinya kian mengkhawatirkan karena pemerintah penjajah Israel baru saja mengeluarkan undang-undang yang mengizinkan hukuman mati bagi tahanan Palestina. Ini adalah pelanggaran HAM berat yang harus diketahui dunia,” tegas pengajar komunikasi ini.
Jihad Informasi Mendobrak Kebisuan
Dari atas dek kapal yang sedang ditarik itu, Maimon memberikan catatan kelam mengenai komposisi tahanan tersebut. Di antara ribuan nyawa itu, terdapat ratusan anak di bawah umur dan perempuan yang dilaporkan mengalami kekerasan seksual selama dalam penahanan.
Ia mengajak masyarakat Indonesia untuk tidak berhenti menyuarakan isu ini di media sosial. Menurutnya, tekanan digital melalui penyebaran informasi yang masif adalah kunci untuk menggagalkan kebijakan hukuman mati tersebut serta mendesak pembebasan mereka yang ditahan tanpa alasan hukum yang sah.
“Semoga kerja-kerja kita di media sosial mampu memberikan tekanan kuat kepada pemerintah penjajah. Kita harus menggagalkan undang-undang zalim ini dan melepaskan mereka yang ditahan hanya karena keinginan sepihak penjajah,” pungkasnya sebelum menutup laporan dengan salam.
Misi Global Sumud Flotilla terus melaju, meski kini harus bertumpu pada tali penarik kapal lain. Bagi para relawan, kerusakan kemudi hanyalah hambatan kecil dibandingkan tekad untuk menjemput kemerdekaan bagi saudara-saudara di Gaza.










