YERUSALEM – Hari Jumat yang seharusnya khidmat di kompleks Masjid Al-Aqsa kembali diwarnai ketegangan. Polisi Israel mencegat Syekh Ikrima Sabri, khatib utama sekaligus Ketua Komite Tinggi Islam di Al-Quds, saat hendak memasuki rumah ibadah tersebut melalui Gerbang Singa (Bab al-Asbat). Pencegalan ini dilakukan tanpa penjelasan medis maupun alasan hukum yang jelas.
Kantor Syekh Sabri mengonfirmasi kepada kantor berita Anadolu bahwa aparat kepolisian langsung memblokade langkah sang ulama sesaat sebelum salat Jumat dimulai. Tim hukum yang mendampingi Sabri menegaskan bahwa tindakan ini adalah bentuk pelanggaran prosedur, mengingat tidak ada surat keputusan hukum resmi yang mendasari pelarangan tersebut.
“Ini adalah tindakan ilegal. Mereka mencegah seorang khatib menjalankan tugasnya tanpa ada dasar hukum yang sah,” tulis pernyataan resmi dari kantor Syekh Sabri, Jumat (17/4).
Dua Tahun dalam “Kurungan” Administratif
Pencegalan ini bukanlah insiden tunggal. Bagi Sabri, ini adalah kelanjutan dari rangkaian tekanan yang dialaminya selama dua tahun terakhir. Sejak 2024, ruang geraknya telah dibatasi melalui serangkaian keputusan administratif, mulai dari larangan perjalanan luar negeri hingga interogasi berulang di kantor polisi.
Komite Tinggi Islam di Yerusalem melontarkan kritik pedas terhadap insiden ini. Dalam pernyataan resminya, komite tersebut menggunakan istilah yang lugas: “premanisme polisi”. Mereka menegaskan bahwa Kepolisian Israel tidak memiliki kedaulatan atas Masjid Al-Aqsa dan setiap upaya pelarangan ibadah dianggap sebagai tindakan batal demi hukum.
“Legitimasi di Al-Aqsa berada di tangan pengelola Muslim (Wakaf), bukan militer. Apa yang kita lihat hari ini adalah hukum rimba berseragam yang mengubah Yerusalem menjadi barak militer,” tulis pernyataan tersebut.
Vakum Hukum dan Kebebasan Beragama
Komite tersebut juga menekankan posisi Syekh Sabri sebagai rujukan Islam utama di Palestina yang seharusnya dilindungi oleh prinsip kebebasan beribadah universal. Namun, realitas di lapangan menunjukkan pola sebaliknya: kepolisian justru semakin memperketat kontrol, membatasi akses jemaah, dan secara perlahan menggerogoti wewenang Departemen Wakaf Islam.
Selama beberapa tahun terakhir, Sabri memang menjadi target utama otoritas keamanan Israel. Selain pelarangan masuk ke Al-Aqsa, ia berkali-kali ditangkap untuk diinterogasi terkait khotbah-khotbahnya yang dianggap provokatif oleh Tel Aviv. Namun bagi jemaah di Yerusalem, Sabri adalah simbol ketahanan yang kini sedang dipaksa menjauh dari mimbar oleh todongan senjata dan barikade besi.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Kepolisian Israel belum memberikan keterangan resmi mengenai alasan spesifik di balik pencegalan tersebut. Di Gerbang Singa, pintu masuk itu tetap terjaga ketat, menyisakan tanya tentang sejauh mana hukum internasional masih berlaku di balik tembok Kota Tua.










