LAUT MEDITERANIA – Deru mesin kapal Global Sumud Flotilla memecah kesunyian pagi di perairan lepas pantai, membawa misi suci yang tak sekadar membawa bantuan, tetapi juga harga diri bangsa-bangsa yang peduli pada kemanusiaan. Koordinator Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), Dr. Maimon Herawati, melaporkan langsung dari kapal induk tersebut saat posisi mereka telah mencapai lebih dari 200 kilometer meninggalkan Barcelona, Spanyol.
“Alhamdulillah, ini pagi kedua perjalanan kami mendobrak blokade Gaza. Saat ini kami sudah berada di laut lepas,” lapor Maimon dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Jumat (17/4).
Bersama figur publik Chiki Fawzi, Maimon menjadi saksi hidup bagaimana solidaritas dunia berusaha meruntuhkan tembok blokade yang selama belasan tahun mencekik warga Gaza. Meski sempat tertahan cuaca buruk, kini angin mulai bersahabat.
Perjalanan yang sempat terkendala gangguan mesin pun berhasil diatasi berkat bantuan kapal logistik dari NGO Open Arms Barcelona. Hanya butuh waktu satu jam bagi tim teknis untuk memulihkan keadaan, dan Global Sumud Flotilla kembali membelah ombak menuju sasarannya.
Gencatan Senjata: Antara Retorika dan Realita
Di tengah perjalanan, kabar mengenai kesepakatan gencatan senjata sempat berembus. Namun, bagi Maimon dan para aktivis di Global Sumud Flotilla, optimisme diplomatik itu harus disikapi dengan kewaspadaan tingkat tinggi.
Berkaca pada sejarah panjang pendudukan, gencatan senjata sering kali hanya menjadi tabir asap bagi penjajah untuk mengatur ulang strategi genosida yang lebih keji dan pencaplokan tanah yang lebih luas.
“Tidak ada harapan yang bisa digantungkan selama genosida di dalam Gaza masih terus berlangsung dan bantuan kemanusiaan masih diblokade,” tegas Maimon.
Hingga hari ini, gerbang-gerbang darat menuju Gaza masih terkunci rapat oleh kebijakan tangan besi. Maimon mencatat, kurang dari 100 truk bantuan yang diizinkan masuk setiap harinya. Angka ini sangat jauh dari kebutuhan dasar minimal warga Gaza yang mencapai lebih dari 600 truk per hari. Kelaparan dan krisis medis bukan lagi ancaman, melainkan realitas harian yang sengaja diciptakan.
Gaza yang Menanti
Di balik dinginnya jeruji blokade, rakyat Gaza dikabarkan telah mendengar deru mesin kapal-kapal Global Sumud Flotilla ini. Kabar keberangkatan mereka telah merembes masuk ke celah-celah reruntuhan di Gaza, menjadi secercah cahaya bagi mereka yang nyaris putus asa.
“Kami mendapat kabar bahwa saudara-saudara kita di Gaza sudah mendengar keberangkatan ini. Mereka menunggu-nunggu kedatangan Freedom Flotilla,” ungkap Maimon dengan nada haru.
Dukungan dan doa dari tanah air sangat diharapkan untuk mengiringi laju kapal ini. Kehadiran GPCI dalam misi internasional ini menegaskan posisi Indonesia yang tak akan pernah bergeser dalam mendukung kemerdekaan Palestina dan tegaknya kemanusiaan di atas muka bumi.









