Jurnalis Palestina, Samer Khweireh, akhirnya meninggalkan penjara Israel setelah menjalani penyanderaan administratif selama sembilan bulan, membawa pengalaman yang ia sebut sebagai “kelahiran kembali” di tengah kondisi berat yang dialami ribuan tahanan Palestina.
Saat dibebaskan, momen itu jauh dari biasa. Begitu turun dari bus pengangkut tahanan, Samer langsung bersujud di tanah sambil menangis, sulit mempercayai dirinya kembali ke kebebasan dan ke pelukan keluarga yang ia pikir mungkin tak akan pernah ia lihat lagi.
Samer menceritakan, kebahagiaannya baru lengkap ketika memeluk anak-anaknya yang ia sebut “permata hatinya”. Ketakutan terbesar selama di penjara, menurutnya, adalah kemungkinan tidak pernah bertemu mereka lagi.
Dia menggambarkan kondisi para tahanan sebagai sesuatu yang “tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata”, bahkan menyebut penjara sebagai “planet tersendiri” yang jauh berbeda dari kehidupan di luar.
Menurutnya, apa yang terjadi di balik jeruji jauh melebihi apa yang bisa dibayangkan atau dituliskan.
Samer juga menyampaikan pesan langsung kepada publik Palestina dan dunia internasional: jangan lupakan para tahanan.
“Mereka ibarat orang mati yang hanya bernapas,” katanya.
Satu-satunya harapan mereka adalah Allah dan doa para pembebas. Ia menekankan pentingnya perbaikan kondisi hidup para tahanan, setidaknya jika penyelesaian total masalah penahanan masih sulit dicapai.
Dilema Keluarga
Di sisi lain, istri Samer menggambarkan sembilan bulan yang penuh cemas dan menunggu kabar. Ia sering tidak mengetahui lokasi atau status hukum suaminya, terlebih karena Samer sempat menghadapi masalah kesehatan serius.
Informasi tentang kondisi Samer hanya datang secara sporadis melalui pengacara, badan urusan tahanan, atau para tahanan yang dibebaskan.
Momen paling berat bagi sang istri adalah setiap kali mendengar kabar seorang tahanan meninggal di kelompok usia yang sama dengan Samer.
Ia selalu dihantui pertanyaan: apakah Samer yang berikutnya? Menurutnya, tahanan yang keluar dari penjara tampak seperti orang yang lolos dari neraka, bukan sekadar dibebaskan dari sel.
Kekhawatirannya meningkat ketika membayangkan kondisi Samer saat dibebaskan, dan ternyata benar, penahanan itu telah mengubah wajah dan kondisi kesehatannya secara drastis.
Anak-anak Samer juga menyimpan cerita sendiri. Salah satu putrinya mengingat fajar saat penahanan, ketika mereka terbangun oleh kehadiran pasukan Israel dalam rumah, sebelum ayahnya pergi meninggalkan mereka dengan pesan agar tetap kuat dan bertahan.
Putri lainnya mengenang saat melihat foto keluarnya Samer di internet, yang terasa seperti mimpi, sebelum menyadari perubahan fisiknya yang signifikan.
Sumber: Al Jazeera Mubasher










