Perang yang dilancarkan Israel di Jalur Gaza meninggalkan puluhan ribu warga Palestina dalam kondisi luka-luka. Sebagian besar dari mereka membutuhkan perawatan lanjutan di luar Gaza, namun keterbatasan akses dan fasilitas medis membuat proses penyelamatan nyawa menjadi kian sulit.

Hazam Joudeh adalah salah satu korban luka berat tersebut. Ia mengalami cedera serius di bagian kepala yang menyebabkan hilangnya sekitar seperempat tengkoraknya akibat serangan Israel.

Dalam keterangannya kepada Al Jazeera Mubasher, Hazam mengatakan dirinya sangat membutuhkan perawatan medis lanjutan di luar Jalur Gaza. Saat ini, ia hidup di sebuah tenda pengungsian di Deir al-Balah, Gaza tengah, dengan kondisi yang jauh dari layak.

Hazam mengungkapkan, ketiadaan alat pemanas di tengah cuaca dingin ekstrem memperparah penderitaannya. Suhu dingin berdampak langsung pada sarafnya yang rusak akibat cedera kepala, sekaligus memperburuk gangguan penglihatan dan keseimbangan tubuh yang ia alami sejak luka tersebut.

Dia menjelaskan bahwa pengobatan yang dibutuhkannya tidak tersedia di rumah sakit-rumah sakit Gaza. Hazam memerlukan operasi rekonstruksi tulang kepala, prosedur medis kompleks yang mustahil dilakukan di tengah keterbatasan fasilitas dan kondisi sanitasi di wilayah yang terus dibombardir.

Tak hanya dirinya, dua putri Hazam juga membutuhkan pengobatan di luar Gaza. Berdasarkan laporan medis, anak sulungnya menderita cerebral palsy, sementara anak keduanya mengalami gangguan penglihatan serius.

Hazam mengatakan, ia dan istrinya berupaya melakukan apa pun untuk menghangatkan diri dan anak-anak mereka. Namun tenda yang mereka tempati tak mampu melindungi dari dingin dan hujan. Air kerap masuk ke dalam tenda, membasahi pakaian dan alas tidur keluarga.

Menurut Hazam, cuaca dingin menyebabkan sakit kepala berkepanjangan akibat cedera di kepalanya. Selain itu, banyaknya serpihan logam yang masih tertanam di tubuhnya memicu gangguan saraf yang membuatnya kesulitan bergerak.

Dia mendesak agar penyeberangan Rafah segera dibuka bagi korban luka dan pasien yang membutuhkan perawatan medis. Hazam menegaskan, operasi yang ia perlukan melibatkan pembukaan kepala secara menyeluruh dan membutuhkan ruang operasi dengan standar sterilisasi tinggi, sesuatu yang saat ini tidak mungkin dipenuhi di Gaza.

Dua putrinya, Maryam dan Habiba, turut menyuarakan harapan yang sama: bisa keluar dari Gaza demi mendapatkan pengobatan yang layak. Keduanya menceritakan bagaimana hujan kerap merembes ke dalam tenda mereka yang rapuh, memperparah kondisi hidup keluarga di tengah keterbatasan dan ketidakpastian.

Sumber: Al Jazeera Mubasher

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here