Di antara puing bangunan dan deretan tenda pengungsian, warga Jalur Gaza menyambut Ramadan dengan cara yang sederhana namun sarat makna. Sebuah truk lantunan pujian berkeliling dari satu jalan ke jalan lain, menebarkan nasyid dan selawat, seolah ingin menegaskan bahwa cahaya bulan suci tak bisa dipadamkan oleh perang.
Di kamp-kamp pengungsian, tenda-tenda dihiasi ornamen Ramadan. Dinding bangunan yang hancur dipenuhi lukisan Kubah Shakhrah dan lampu-lampu lentera, menjadi tanda bahwa bulan suci tetap disambut dengan hati terbuka.
Rekaman yang dibagikan para aktivis pada Rabu memperlihatkan warga berkerumun, tersenyum, dan mengikuti lantunan dari truk yang membawa kelompok penyair yang melantunkan syair-syair pujian kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Suasana yang tercipta menghadirkan sentuhan spiritual yang menguatkan, mempererat kembali ikatan sosial yang terkoyak oleh perang dan pengungsian. Di tengah krisis kemanusiaan yang berat, momen-momen singkat seperti ini menjadi ruang bernapas bagi jiwa.
Warganet juga membagikan potret lain dari Ramadan di Gaza: jalan-jalan yang dihias seadanya, gema doa dari masjid dan tenda, serta keluarga yang tetap menjaga tradisi berbuka dan tarawih di ruang terbuka. Semua itu mencerminkan tekad untuk mempertahankan warisan spiritual dan kebersamaan, meski rumah dan lingkungan mereka porak-poranda.
Perayaan ini menjadi bagian dari ragam cara warga menjaga ruh Ramadan, dari salat tarawih di lapangan terbuka hingga lantunan nasyid yang diperdengarkan dari kendaraan yang berkeliling. Meski sederhana, ia menjelma pesan keteguhan: bahwa di tengah reruntuhan, iman tetap tegak, dan kegembiraan Ramadan tetap menemukan jalannya menuju hati.
Sumber: Media Sosial Gaza, Al Jazeera









