Sehari sebelum Ramadhan tiba, di antara puing rumah dua lantai yang dihancurkan pasukan pendudukan di Nablus, Umm Ammar berdiri memeluk kenangan. Rumah yang baru berusia 10 tahun itu dahulu menampung tiga generasi: dirinya dan suami, putri mereka, juga sang putra bersama istri yang tengah mengandung dan anak-anaknya. Kini yang tersisa hanya debu dan dinding yang patah.
Dengan suara bergetar, ia mengenang bagaimana hari pertama Ramadhan biasanya menjadi pertemuan terbesar keluarga, meja panjang, tawa yang saling bersahut, dan doa yang menyatu. “Ramadhan kali ini yang paling berat,” tuturnya. Bukan hanya karena kehilangan rumah, tetapi karena tercerai-berainya keluarga yang dulu berkumpul di bawah satu atap.
Kisah Umm Ammar bukan pengecualian. Setiap Ramadhan, spiritualitas yang seharusnya menguatkan justru dibayangi pengetatan militer. Pos-pos pemeriksaan menutup jalan dan menahan orang-orang berpuasa menjelang berbuka. Pasar-pasar lesu akibat pembatasan. Ratusan keluarga menghadapi ancaman pembongkaran dan perampasan tanah.
Sahur yang Diteror
Di Yabad, barat Jenin, malam sahur berubah menjadi detik-detik ketakutan. Pada malam keempat Ramadhan, pasukan pendudukan menyerbu rumah tahanan administratif yang lumpuh, Adnan Hamarsha. Dua tahun empat bulan ia ditahan tanpa kepastian. Keluarganya bersiap menyambut kebebasan di hari kedua Ramadhan—namun yang datang justru perpanjangan penahanan.
Tak hanya menggeledah, tentara merusak isi rumah dan memukul putranya, Omar, sebelum menyeretnya pergi. Putrinya, Laila, menyebut ini sebagai “permainan psikologis”, keluarga menunggu di pos pemeriksaan hingga larut malam untuk menjemput sang ayah, lalu pulang dengan harapan yang patah. Beberapa jam kemudian, kabar pahit itu tiba: penahanan diperpanjang.
Serangan dilakukan tepat pukul empat dini hari, saat sahur. Bahkan jamaah masjid terdekat diusir. Ramadhan, yang seharusnya menghadirkan ketenangan, dijadikan panggung tekanan.
Aktivis Palestina Salah al-Khawaja menyebut pola ini sebagai teror sistematis. Penggerebekan saat sahur dan fajar, menurutnya, bukan semata operasi keamanan, melainkan upaya merusak ritus sosial dan budaya Ramadhan. Tradisi musahharati (penabuh sahur) pun kian dibungkam karena intimidasi.
Pos Pemeriksaan dan Pembatasan Al-Aqsa
Di jalan-jalan antar kota, penutupan mendadak dan kemacetan yang direkayasa menjelang berbuka memisahkan keluarga dari meja makan mereka. Waktu yang mestinya dipenuhi doa berubah menjadi antrean panjang dan rasa terhina.
Puncak pembatasan terjadi di Masjid Al-Aqsa. Otoritas pendudukan memberlakukan syarat usia: laki-laki di atas 55 tahun dan perempuan di atas 50 tahun yang diizinkan masuk ke Yerusalem untuk shalat. Pemeriksaan ketat dan prosedur yang merendahkan diberlakukan atas nama “pertimbangan keamanan”. Mantan tahanan, keluarga syuhada, dan kerabat para tawanan kerap dicegah meski memenuhi syarat usia.
Pada Jumat pertama Ramadhan, skema baru diterapkan: jalur khusus dengan kewajiban perekaman sidik jari serta pembatasan waktu keluar-masuk. Siapa pun yang terlambat kembali bisa dicap “dicari” dan dilarang memasuki Al-Aqsa di kemudian hari.
Langkah-langkah ini dibarengi pernyataan provokatif Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, yang membanggakan kehadirannya di area Bab al-Maghariba pada Jumat pertama Ramadhan, pesan politik yang mempertebal ketegangan.
Al-Quds yang Diredam
Di Al-Quds, pembatasan mencapai titik paling ketat sejak peristiwa 7 Oktober. Warga Kota Tua dilarang memasang lampu dan ornamen Ramadhan. Tradisi musahharati dihentikan, meriam Ramadhan dibungkam, distribusi iftar ke Al-Aqsa dipersulit, bahkan lembaga budaya seperti Burj al-Luqluq ditutup.
Lebih dari 1.400 warga Al-Quds menerima perintah pengasingan dari Al-Aqsa, termasuk khatib, imam, dan jurnalis. Di dalam kompleks, tentara kerap berpatroli di antara saf perempuan di sekitar Kubah Shakhrah, mempertegas bayang-bayang intimidasi.
Namun di balik pembatasan dan dingin malam, ribuan keluarga tetap memadati Al-Aqsa sejak malam pertama tarawih. Mereka datang membawa anak-anak dan sajadah, menegaskan bahwa Ramadhan tidak bisa dipadamkan oleh larangan dan senjata.
Pendudukan boleh mencoba menggerogoti bulan suci dengan pembongkaran, penahanan, dan pembatasan. Tetapi setiap azan magrib yang berkumandang di antara pos pemeriksaan dan setiap sujud di pelataran Al-Aqsa menjadi pesan yang sama: iman dan keteguhan tak mudah diruntuhkan.










