Pasukan Israel menyerbu enam sekolah di Hebron dan menahan sejumlah guru, menurut keterangan resmi Kementerian Pendidikan Palestina. Di hari yang sama, seorang jurnalis juga ditangkap di Betlehem, menambah daftar panjang pekerja media yang dibungkam.
Dalam operasi militer itu, tentara Israel menggeledah sekolah-sekolah di kawasan Haret al-Sheikh dan wilayah selatan Hebron. Mereka menyita foto-foto, buku pelajaran, serta menahan para guru untuk diinterogasi.
Kementerian Pendidikan Palestina mengecam keras tindakan tersebut. “Ini bukan sekadar pelanggaran terhadap hak pendidikan, tapi bentuk nyata dari kebijakan sistematis Israel untuk menargetkan lembaga-lembaga pendidikan, menebar ketakutan di kalangan murid maupun tenaga pengajar,” bunyi pernyataan resmi. Kementerian juga menegaskan bahwa langkah itu melanggar hukum internasional, termasuk konvensi perlindungan pendidikan.
Pihaknya menyerukan agar lembaga hak asasi manusia—baik lokal maupun internasional—segera turun tangan menghentikan praktik intimidasi ini, sekaligus memberikan jaminan perlindungan bagi sekolah, siswa, dan guru.
55 Jurnalis di Balik Jeruji
Di sisi lain, serangan terhadap kebebasan pers kian nyata. Klub Tahanan Palestina melaporkan bahwa tentara Israel menangkap jurnalis Asid Amarna di Betlehem. Penahanan ini menambah jumlah jurnalis yang kini berada di balik jeruji menjadi 55 orang.
Dari jumlah tersebut, 50 di antaranya ditangkap sejak awal perang genosida Israel di Gaza pada 7 Oktober 2023, termasuk satu jurnalis perempuan. Secara total, sejak hari pertama serangan ke Gaza, setidaknya 197 jurnalis pernah ditahan atau ditangkap, meski sebagian kemudian dibebaskan.
Mayoritas dari mereka dituduh melakukan “provokasi” melalui media sosial atau laporan jurnalistik. Ada pula yang ditahan secara administratif tanpa dakwaan, hanya dengan alasan “berkas rahasia.”
Kekerasan yang Meluas
Bersamaan dengan genosida di Gaza, gelombang kekerasan di Tepi Barat dan Al-Quds terus meningkat. Data Palestina mencatat, sejak Oktober lalu pasukan Israel dan pemukim bersenjata telah membunuh sedikitnya 1.016 warga, melukai sekitar 7.000 orang, serta menangkap lebih dari 18.500 orang.
Pola yang tampak jelas adalah konsistensi Israel dalam mempersempit ruang hidup warga Palestina—dari ruang kelas hingga ruang redaksi. Pendidikan dan jurnalisme, dua pilar penting bagi masa depan bangsa, kini menjadi sasaran penindasan yang sistematis.