“Ya, Cohen… jangan sampai meleset.” Dengan kalimat itu, seorang tentara Israel memberi aba-aba pada rekannya, sebelum sang penembak jitu menembak seorang pria Palestina tak bersenjata yang tengah berjalan menuju pusat distribusi bantuan kemanusiaan di Gaza.

Video yang beredar luas memperlihatkan momen itu: para tentara saling menyemangati sang sniper, menjerit, “Dia datang ke arahmu, Cohen, tidak mungkin kau meleset. Arahkan di atas sopir… oh, dia jatuh.” Detik berikutnya, tubuh pria itu ambruk, sementara suara tawa dan sorakan terdengar di balik kamera.

Hiburan dari Darah Warga Sipil

Bagi publik, rekaman ini bukan sekadar dokumentasi kekerasan, tapi potret mentalitas militer Israel yang memperlakukan pembunuhan warga sipil sebagai tontonan. Warga yang hanya ingin mencapai bantuan—di tengah blokade, kelaparan, dan kepungan perang—dibunuh bukan karena ancaman, melainkan demi “hiburan.”

Tak heran jika video itu memicu gelombang kemarahan di media sosial. Banyak yang menyebutnya sebagai “eksekusi lapangan” dan “kejahatan yang melampaui batas kemanusiaan.” Aktivis menegaskan, Israel tidak hanya melakukan pembunuhan sistematis, tetapi juga mendokumentasikannya, lalu membiarkannya tersebar sebagai pesan: mereka tak gentar pada hukum internasional maupun opini dunia.

Bukti Pola yang Sistematis

Pengguna media sosial menilai kejadian ini bukan insiden tunggal. Ia hanyalah bagian dari pola yang sudah berlangsung berbulan-bulan: penembak jitu Israel menargetkan warga sipil setiap hari, termasuk anak-anak dan perempuan, bahkan ketika mereka hanya berusaha mengais makanan dari pusat distribusi yang oleh warga disebut “pusat kematian.”

Pola ini sejalan dengan strategi militer Israel sejak awal perang: menjadikan rakyat Palestina target utama. Dengan dukungan politik dan militer dari Amerika Serikat, tentara Israel tak sekadar mengabaikan hukum internasional—mereka mendemonstrasikan kekebalan hukumnya secara terang-terangan.

Angka yang Membekukan Nurani

Sejak 7 Oktober 2023, agresi Israel di Gaza telah menewaskan dan melukai sekitar 222 ribu orang Palestina—sebagian besar perempuan dan anak-anak. Lebih dari 9 ribu orang hilang, ratusan ribu lainnya terusir dari rumah, dan krisis pangan menewaskan sedikitnya 313 orang, termasuk 119 anak, hanya sampai akhir Agustus ini.

Video terbaru ini menjadi pengingat getir bahwa tragedi di Gaza bukan sekadar “pertempuran bersenjata.” Ia adalah proses panjang dari sebuah “permainan kematian” yang dilakukan di hadapan dunia, dengan warga sipil sebagai target utama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here