GAZA – Diya Abu al-Rus, seorang guru di Jalur Gaza, syahid dalam serangan udara Israel. Serangan itu terjadi ketika ia sedang dalam perjalanan menuju sekolah tempatnya mengajar. Peristiwa ini menambah daftar korban dari kalangan tenaga pendidikan di tengah upaya ratusan ribu anak Gaza kembali mengakses pendidikan setelah sekolah-sekolah mereka hancur akibat perang dan pengungsian.

Kementerian Pendidikan dan Pendidikan Tinggi Palestina menyampaikan belasungkawa atas syahidnya Abu al-Rus. Ia merupakan guru di Sekolah Malaysia yang berada di bawah Direktorat Pendidikan Wilayah Tengah Gaza.

Dalam pernyataannya, kementerian menyebut serangan terhadap Abu al-Rus ketika hendak menjalankan tugas mengajar sebagai kejahatan baru terhadap keluarga besar dunia pendidikan Palestina. Kementerian juga menilai tindakan tersebut sebagai serangan terhadap masa depan generasi Palestina.

Kementerian Pendidikan menegaskan Israel bertanggung jawab penuh atas peristiwa itu. Mereka mendesak masyarakat internasional dan lembaga-lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa segera bertindak untuk menghentikan serangan terhadap guru dan pelajar, sekaligus meminta pertanggungjawaban para pemimpin Israel atas kejahatan terhadap pendidikan Palestina.

Berdasarkan laporan lapangan, Abu al-Rus syahid akibat serangan pesawat nirawak di sekitar pembangkit listrik, sebelah utara Kamp Pengungsi Nuseirat, Gaza tengah. Serangan tersebut berlangsung bersamaan dengan tembakan artileri dan penembakan di sejumlah wilayah Jalur Gaza.

Korban pendidikan terus bertambah

Syahidnya Abu al-Rus terjadi hanya beberapa hari setelah Kementerian Pendidikan Palestina merilis data korban dari kalangan pendidikan. Dalam laporan bertanggal 28 Oktober 2026, kementerian mencatat 12 pelajar dan empat tenaga pendidikan syahid di Gaza selama periode 18–27 Oktober.

Korban pelajar terdiri atas anak-anak berusia 6 hingga 16 tahun. Salah satunya Tahania Muhammad Shallafah, tujuh tahun, murid kelas satu di Sekolah Bosnia di bawah Direktorat Pendidikan Rafah. Ia syahid akibat tembakan pasukan Israel.

Dalam daftar korban tenaga pendidikan terdapat guru Ahmad Zuhair Abu Audah serta tiga pegawai pendidikan, yakni Shadi Abu Ataya, Sami Baroud, dan Ashraf Dahlan.

Nama lain yang tercatat adalah Fatima al-Bayuk, delapan tahun. Ia sebelumnya menjadi satu-satunya anggota keluarga yang selamat setelah rumahnya dibombardir pada akhir 2023. Namun, Fatima kemudian syahid akibat luka yang dideritanya setelah terkena tembakan pasukan Israel di sebelah timur Deir al-Balah.

Sementara itu, Kepala Hubungan Masyarakat Kementerian Pendidikan Palestina, Ahmad al-Najjar, menyatakan jumlah pelajar yang syahid di Gaza telah melampaui 22 ribu orang. Dalam keterangannya dua hari sebelum laporan tersebut, ia juga menyebut lebih dari 1.100 guru dan akademisi syahid sejak perang di Gaza dimulai.

Dampak perang tidak hanya dirasakan oleh mereka yang menjadi korban langsung. Lebih dari 650 ribu anak dan pelajar usia sekolah masih menghadapi ancaman terhadap hak mereka untuk memperoleh pendidikan.

Belajar di tengah reruntuhan

Kerusakan bangunan pendidikan di Gaza telah mencapai skala yang sangat besar. Data UNICEF yang dipublikasikan pada Oktober 2026 menunjukkan sekitar 98 persen bangunan sekolah di wilayah tersebut mengalami kerusakan atau hancur.

Lebih dari setengah juta anak memang telah kembali mengikuti kegiatan belajar melalui ruang-ruang pendidikan sementara selama musim gugur. Namun, sekitar 200 ribu anak lainnya masih belum memiliki akses ke pendidikan terorganisasi. Sebagian dari mereka telah bertahun-tahun kehilangan kesempatan mengikuti pembelajaran tatap muka secara rutin.

Laporan Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) pada 15 Oktober 2026 mencatat terdapat 695 ruang pendidikan sementara yang beroperasi di Gaza. Tempat-tempat tersebut menampung sekitar 564 ribu anak, termasuk hampir 19 ribu anak penyandang disabilitas.

Namun, kegiatan belajar di ruang-ruang darurat itu masih menghadapi banyak kendala. Keterbatasan pendanaan, pembatasan masuknya bahan ajar cetak, serta minimnya kemampuan percetakan lokal menjadi hambatan. Persediaan kertas dan tinta yang semakin langka juga menyulitkan upaya mengejar ketertinggalan pelajaran dan memperluas akses pendidikan.

Perjalanan ke sekolah pun tidak aman

Sehari sebelum Abu al-Rus syahid, Kementerian Pendidikan Palestina menerbitkan laporan mengenai kesulitan yang harus dihadapi guru dan pelajar untuk mencapai tempat belajar. Kelangkaan kendaraan dan bahan bakar memaksa mereka berjalan kaki dalam jarak jauh atau menggunakan sarana transportasi seadanya.

Alia Abd Rabbo, guru di Sekolah Menengah Putri Muscat, mengatakan para tenaga pengajar kerap harus berjalan kaki, menggunakan gerobak yang ditarik hewan, atau mengandalkan kendaraan alternatif yang sering mengalami kerusakan. Kondisi tersebut membuat mereka terlambat tiba di sekolah dan mengganggu jalannya kegiatan belajar.

Kesulitan serupa dialami para pelajar. Mannatullah al-Wahidi, yang mengungsi dari Gaza utara ke wilayah tengah, mengatakan mereka terkadang harus mengubah rute perjalanan karena khawatir terkena tembakan. Akibatnya, perjalanan menuju tempat belajar menjadi lebih jauh dan melelahkan.

Dalam laporan yang sama, seorang pelajar bernama Muhammad Yaghi menggambarkan rutinitas hariannya yang dimulai dengan mencari air dan roti, kemudian mengantre untuk mendapatkan makanan. Setelah itu, ia baru berangkat ke sekolah dalam keadaan terlambat dan kelelahan. Kondisi tersebut membuatnya kesulitan berkonsentrasi maupun mengulang pelajaran.

Syahidnya Diya Abu al-Rus memperlihatkan bahwa persoalan pendidikan di Gaza jauh melampaui kerusakan gedung, kekurangan buku, dan sulitnya transportasi. Ketika seorang guru dapat menjadi korban serangan dalam perjalanan menuju sekolah, pembukaan kembali ruang-ruang belajar belum cukup untuk menjamin hak pendidikan anak-anak Palestina.

Selama guru dan pelajar masih menghadapi ancaman serangan dalam perjalanan mereka, kegiatan belajar di Gaza tetap berlangsung di bawah bayang-bayang bahaya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here