GAZA – Selama bertahun-tahun, wartawan di Jalur Gaza bekerja di tengah berbagai ancaman. Namun, dalam tiga tahun terakhir, peran mereka menghadapi situasi yang jauh lebih berbahaya. Melalui kerja mereka, dunia dapat menyaksikan secara langsung kehancuran akibat serangan Israel, juga kehidupan sehari-hari warga yang berlangsung di antara ancaman kematian. Ironisnya, para wartawan itu bukan hanya saksi tragedi. Mereka juga menjadi bagian dari penderitaan yang mereka laporkan.

Di balik gambar-gambar yang rutin muncul dalam siaran berita dan media sosial, ada kehidupan pribadi para wartawan yang jarang mendapat tempat dalam pemberitaan. Mereka memiliki keluarga, kecemasan, harapan, dan kebutuhan sehari-hari yang kerap luput dari perhatian publik.

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah sineas mencoba mengangkat sisi kehidupan tersebut melalui film dokumenter. Tiga di antaranya adalah Citizen Osama karya sutradara Palestina Ahmad Hassouna, Put Your Soul on Your Hand and Walk karya sutradara Iran Sepideh Farsi, serta Eyes of Gaza garapan Mahmoud Atassi.

Ketiganya menggunakan pendekatan sinematik yang berbeda. Namun, film-film itu memiliki kesamaan: menempatkan wartawan bukan lagi sebagai sosok di balik kamera yang merekam kehidupan orang lain, melainkan sebagai tokoh utama yang kehidupannya ikut disorot. Kamera mengajak penonton melihat ketakutan, hubungan keluarga, dan sisi kemanusiaan mereka di luar pekerjaan jurnalistik.

Manusia di balik kamera

Publik sudah terbiasa melihat wartawan Palestina mengenakan rompi pelindung, berbicara di depan kamera dengan latar bangunan yang hancur, sementara suara ledakan terdengar di sekitar mereka. Pemandangan itu menjadi bagian dari rutinitas pemberitaan genosida.

Film-film dokumenter tentang kehidupan wartawan Gaza berusaha melampaui gambaran yang berulang tersebut. Mereka menunjukkan sisi personal yang biasanya tidak sempat muncul dalam laporan berita karena keterbatasan waktu dan tuntutan pekerjaan.

Dalam Citizen Osama, Ahmad Hassouna mengikuti kehidupan juru kamera foto Osama al-Ashi. Di tengah tugas mendokumentasikan genosida, Osama berusaha menjalankan tanggung jawabnya sebagai anggota keluarga, terutama setelah pertama kali menjadi seorang ayah.

Penonton melihat Osama mencari makanan, popok, dan susu untuk bayinya. Ia juga harus menghadapi kecemasan kedua orang tuanya yang khawatir terhadap keselamatannya. Di sela-sela situasi tersebut, film ini menghadirkan humor dan kejadian sehari-hari yang memperlihatkan kepribadian Osama di luar pekerjaannya.

Osama tidak digambarkan sebagai sosok yang selalu gagah berani atau rela berkorban tanpa rasa takut. Ia tampil sebagai manusia biasa yang berusaha mempertahankan kehidupan keluarga di tengah keadaan yang luar biasa sulit.

Upaya mempertahankan kehidupan personal juga terlihat dalam Put Your Soul on Your Hand and Walk. Dalam film ini, Sepideh Farsi berkenalan dengan juru foto Palestina Fatima Hassouna melalui serangkaian panggilan video.

Percakapan keduanya tidak selalu berkisar pada genosida. Mereka membicarakan puisi, makanan, impian bepergian, hingga hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari. Senyum dan selera humor Fatima membuat penonton mengenalnya sebagai manusia dengan kepribadian utuh, bukan semata-mata wartawan yang memberikan kesaksian tentang genosida.

Sementara itu, Eyes of Gaza memperluas sudut pandang dengan mengikuti kehidupan tiga wartawan Palestina. Kamera merekam mereka ketika bekerja, beristirahat, hingga berusaha memenuhi kebutuhan dasar. Film ini memperlihatkan kenyataan bahwa orang yang melaporkan penderitaan warga Gaza juga hidup dalam keadaan yang sama.

Ketika genosida menentukan bentuk film

Genosida tidak hanya menjadi latar cerita dalam film-film tersebut. Kondisi di Gaza juga menentukan bagaimana film dibuat, mulai dari kemampuan sutradara menjangkau tokoh hingga peralatan yang dapat digunakan untuk merekam.

Hal itu terlihat jelas dalam Put Your Soul on Your Hand and Walk. Karena tidak dapat memasuki Gaza, Sepideh Farsi mengandalkan panggilan video dengan Fatima Hassouna. Rekaman percakapan melalui telepon kemudian menjadi bahan utama film.

Selama hampir satu tahun, layar ponsel menjadi jendela bagi Farsi untuk mengikuti kehidupan Fatima. Kualitas gambar yang terbatas dan sambungan komunikasi yang kerap terputus memperlihatkan jarak antara keduanya. Pada saat yang sama, gangguan tersebut menggambarkan rapuhnya komunikasi dengan seseorang yang hidup di bawah ancaman serangan.

Rekaman itu memperoleh makna yang jauh lebih memilukan setelah Fatima Hassouna syahid bersama sejumlah anggota keluarganya dalam serangan udara Israel pada 16 April 2025. Peristiwa tersebut terjadi sehari setelah film itu diumumkan terpilih untuk ditayangkan di Festival Film Cannes.

Mahmoud Atassi menghadapi kendala serupa ketika menggarap Eyes of Gaza. Namun, ia memilih pendekatan berbeda. Proses pengambilan gambar dilakukan dari jarak jauh dengan bantuan seorang juru kamera yang berada di dalam Gaza. Produksi film mengandalkan peralatan terbatas dan kamera-kamera lama.

Cara tersebut memungkinkan kru mengikuti para wartawan ketika bekerja maupun menjalani aktivitas sehari-hari.

Dalam kedua film itu, keadaan darurat akibat genosida menjadi bagian dari bahasa sinematik. Sutradara tidak sepenuhnya leluasa menentukan sudut pengambilan gambar, jenis lensa, atau pencahayaan. Kemampuan merekam kehidupan di tengah ancaman serangan dan terputusnya komunikasi justru menjadi faktor yang menentukan bentuk serta alur film.

Dari peliput berita menjadi penjaga ingatan

Nilai penting film-film dokumenter tersebut terletak pada kemampuannya menyimpan pengalaman pribadi wartawan Palestina. Hal ini menjadi semakin mendesak karena para wartawan sendiri terus menghadapi ancaman pembunuhan. Kesempatan mereka untuk melanjutkan pekerjaan mendokumentasikan genosida pun selalu berada dalam risiko.

Fungsi itu terlihat kuat dalam Put Your Soul on Your Hand and Walk. Setelah Fatima Hassouna syahid, film tersebut berubah menjadi rekaman perjalanan hidupnya selama hampir satu tahun. Panggilan video menyimpan suara, tawa, dan percakapannya tentang masa depan. Foto-foto yang diambil Fatima juga memberi kesempatan kepada penonton untuk melihat Gaza melalui sudut pandangnya.

Dengan demikian, Fatima tetap hadir dalam film itu bukan hanya sebagai sosok yang memberikan kesaksian, tetapi juga sebagai wartawan yang memiliki cara pandang dan rekam jejaknya sendiri dalam memotret dunia.

Dalam Eyes of Gaza dan Citizen Osama, pengamatan terhadap kehidupan para wartawan ketika bekerja juga memiliki arti penting. Kedua film itu merekam kondisi yang melatarbelakangi lahirnya foto dan laporan jurnalistik. Detail semacam ini biasanya tidak ikut disampaikan kepada publik ketika sebuah berita diterbitkan.

Penonton tidak hanya melihat hasil liputan, tetapi juga mengetahui situasi yang harus dihadapi para wartawan agar kesaksian mereka sampai kepada dunia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here