GAZA – Perjanjian gencatan senjata yang disepakati sejak akhir tahun lalu tampaknya tidak lebih dari sekadar coretan di atas kertas bagi militer Israel. Pada Sabtu (20/6/2026), rentetan serangan udara dan penembakan kembali mengguncang sejumlah titik di Jalur Gaza sejak fajar, merenggut nyawa sedikitnya 10 warga sipil Palestina, termasuk empat orang yang berasal dari satu keluarga yang sama.
Salah satu serangan paling memilukan terjadi di Kamp Pengungsian Al-Bureij, Gaza tengah. Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa mengonfirmasi tiga warga syahid dalam serangan udara tersebut. Salah satu korban adalah Ahmed Wishah, seorang videografer dan fotografer untuk saluran Al Jazeera Mubasher.
Kematian Ahmed meninggalkan duka yang teramat dalam bagi dunia pers. Ia menyusul sang kakak, Mohammad Wishah (yang merupakan jurnalis dan koresponden Al Jazeera Mubasher) yang telah lebih dulu syahid akibat dibunuh dalam serangan Israel pada 8 April lalu.
Satu Keluarga Habis dalam Hitungan Detik
Beberapa jam sebelum serangan di Al-Bureij, fajar di pusat Kota Gaza pecah oleh suara ledakan dahsyat di dekat persimpangan Al-Tayaran. Sebuah jet tempur Israel menjatuhkan bom tepat di atas rumah kediaman keluarga Al-Safadi saat penghuninya masih terlelap.
Saksi mata di lokasi kejadian menggambarkan evakuasi yang dramatis di tengah puing-puing beton yang hancur total. Serangan kilat itu menghabisi satu keluarga inti dalam hitungan detik. Pasangan suami istri, Hussein dan Rana Al-Safadi, tewas seketika bersama dua putri kecil mereka, Zeina (6 tahun) dan Lana (13 tahun). Beberapa anggota keluarga lain dan tetangga sekitar yang terluka langsung dilarikan ke fasilitas medis terdekat.
Amukan militer Israel tidak berhenti di situ. Di wilayah utara Gaza, sebuah pesawat tanpa awak (drone) melepaskan tembakan ke arah warga yang sedang berjalan kaki di dekat Bundaran Al-Saftawi, menewaskan seorang pria bernama Ahmed Munir Al-Zhaza (38 tahun).
Sementara itu di Beit Lahia, seorang wanita paruh baya syahid setelah ditembak langsung oleh pasukan infanteri Israel. Di sisi selatan, Kompleks Medis Nasser di Khan Younis melaporkan satu korban jiwa dan tujuh luka-luka akibat hantaman rudal drone di wilayah barat kota.
Rapor Merah Pelanggaran: 3.338 Kali Ingkar Janji
Eskalasi berdarah ini terjadi di tengah berjalannya kesepakatan gencatan senjata yang secara resmi mulai berlaku sejak 10 Oktober 2025 lalu. Kantor Media Pemerintah di Gaza merilis laporan komprehensif tepat setelah kesepakatan tersebut memasuki hari ke-251.
Hasilnya mencengangkan. Selama 251 hari “gencatan senjata” tersebut, Israel tercatat telah melakukan 3.338 kali pelanggaran di lapangan. Rentetan pelanggaran ini telah menewaskan 1.012 warga Palestina, melukai 3.208 orang, dan berujung pada penahanan politik terhadap 100 warga sipil lainnya.
Selain agresi fisik, Israel juga menggunakan blokade bantuan sebagai senjata tak bersuara. Dari total 150.600 truk bantuan logistik dan medis yang seharusnya masuk ke Gaza untuk meredam bencana kelaparan, Tel Aviv hanya meloloskan 54.023 armada saja.
Kondisi serupa terjadi di Gerbang Perbatasan Rafah yang baru dibuka kembali secara terbatas dan di bawah pengawasan ketat sejak 2 Februari lalu—setelah ditutup total sejak Mei 2024. Israel hanya mengizinkan 36% pasien kritis dan warga yang memenuhi syarat untuk keluar dari Gaza guna mendapatkan perawatan darurat.
Sejak badai genosida ini berkecamuk pada 7 Oktober 2023 hingga pertengahan 2026 ini, data internal Palestina mencatat total korban jiwa telah menembus lebih dari 73.000 orang syahid dan 173.000 lainnya luka-luka. Dengan hancurnya 90% infrastruktur sipil, setiap peluru dan bom yang dijatuhkan di tengah klaim gencatan senjata ini mempertegas satu hal: bagi warga Gaza, ruang aman hanyalah sebuah mitos yang mahal harganya.










