GAZA — Duka di Gaza tak pernah benar-benar selesai; ia hanya berganti wajah setiap harinya. Bagi Ummu Muhammad, tatapan terakhirnya ke wajah sang putra sulung, Muhammad, bukan sekadar perpisahan biasa. Itu adalah momen ketika tiang terakhir dari penyangga hidupnya roboh diluluhlantakkan oleh jet tempur Israel.

Sebelum Muhammad gugur, gempuran udara Zionis telah lebih dahulu merenggut nyawa suaminya, empat putra lainnya, dan dua putri kandungnya. Muhammad (yang menjadi sandaran terakhir keluarga) kini menyusul mereka ke liang lahat, meninggalkan dua anak balita serta seorang bayi dalam kandungan istrinya yang tak akan pernah sempat menatap wajah sang ayah.

Di tengah prosesi pemakaman yang dipenuhi isak tangis, tak banyak kata yang keluar dari bibir Ummu Muhammad selain ungkapan ketabahan yang bercampur kepedihan mendalam. Ia mengenang bagaimana Muhammad mengambil alih tanggung jawab keluarga sejak sang ayah wafat, menafkahi ibu dan adik-adiknya, serta berulang kali berjanji tak akan pernah meninggalkan ibunya sendirian.

Namun, ganasnya perang memaksa janji itu terhenti, menambah panjang daftar nama keluarganya yang terhapus dari catatan sipil akibat bom.

Maut di Tengah Riuh Negosiasi

Laporan koresponden Al Jazeera dari Kota Gaza mengonfirmasi bahwa kepedihan Ummu Muhammad bukanlah insiden tunggal, melainkan realitas harian warga Gaza. Di bagian barat Kota Gaza, serangan udara yang menghantam sebuah apartemen permukiman membumihanguskan seluruh anggota keluarga, termasuk dua anak kecil yang salah satunya masih berupa janin.

Di Khan Younis, pemboman lain menewaskan tiga warga Palestina, termasuk seorang anak-anak. Pada saat yang sama, serangan presisi menembus sebuah kendaraan dan unit apartemen di wilayah Tengah (Central Governorate), melukai puluhan warga sipil lainnya.

Rangkaian serangan mematikan ini berlanjut tepat ketika panggung politik internasional dipenuhi wacana putaran negosiasi baru untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata. Menurut para pengamat, eskalasi militer yang terus memuncak justru mengirimkan sinyal kontradiktif dari lapangan terhadap diplomasi yang tengah berjalan.

Para analis menilai bahwa intensifikasi gempuran sengaja dirancang untuk memaksakan kalkulasi politik dan peta kekuatan baru sebelum kesepakatan final dicapai. Tragisnya, warga sipil Palestina kembali menjadi pihak yang membayar harga paling mahal lewat pertumpahan darah yang tak kunjung usai.

Di Gaza, masyarakat tak lagi terlalu memedulikan detail rumit meja perundingan di luar negeri. Yang mereka harapkan hanyalah satu: menyambut pagi tanpa raungan jet tempur dan raungan sirene ambulans.

Namun, hari yang kerap digadang-gadang membawa fajar perdamaian itu justru kembali diakhiri dengan iring-iringan jenazah, tangisan para ibu yang kehilangan anak, serta gugurnya bayi-bayi sebelum sempat mengenyam kehidupan. Pemakaman demi pemakaman tetap menjadi pemandangan paling dominan di tanah yang kian habis dieksploitasi oleh Perang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here