GAZA — Kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza tampaknya hanya menjadi coretan tak berarti di atas kertas bagi Tel Aviv. Militer Israel dilaporkan kembali melancarkan aksi sepihak dengan meledakkan sejumlah bangunan pemukiman di wilayah timur Khan Younis, bagian selatan Jalur Gaza.
Langkah ini menjadi bukti kuat rentetan pelanggaran komitmen yang terus dipertontonkan pasukan pendudukan di berbagai titik kantong pengungsian tersebut.
Kekerasan di lapangan sama sekali belum surut. Sejumlah media lokal Palestina melaporkan sedikitnya dua warga sipil terluka parah akibat timah panas yang dilepaskan tentara Israel. Korban pertama merupakan seorang wanita di kawasan Al-Faluja, sebelah barat kamp pengungsian Jabalia, Gaza Utara. Sementara korban kedua adalah seorang pria yang ditembak di Jalan Al-Madrasah, lingkungan Al-Amal, barat laut Khan Younis.
Tak hanya serangan darat, keganasan militer Israel juga menyasar wilayah timur Kota Gaza melalui operasi peledakan bangunan-bangunan sipil secara masif. Di saat yang sama, dentuman artileri berat mengguncang wilayah barat laut Rafah, sementara kapal-kapal cepat Angkatan Laut Israel tanpa henti memuntahkan peluru ke arah perairan Khan Younis dan wilayah tengah Gaza.
Fasilitas Medis Kembali Jadi Sasaran
Kondisi memilukan juga kembali menimpa sektor kesehatan yang sudah lumpuh. Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza mengutuk keras serangan sebuah tak berawak (drone) Israel yang menjatuhkan bom tepat ke arah Rumah Sakit “Kamal Adwan” di Beit Lahia, Gaza Utara. Insiden ini menyebabkan dua petugas medis menderita luka kritis.
“Skenario penargetan sistematis terhadap fasilitas kesehatan dan jajaran tim medis ini tidak hanya mengancam nyawa pasien, tetapi juga melumpuhkan total sisa-sisa kemampuan sistem kesehatan dalam memberikan pertolongan darurat yang menyelamatkan nyawa,” tulis pernyataan resmi Kementerian Kesehatan Palestina.
Merespons situasi yang kian tak terkendali ini, otoritas kesehatan di Gaza mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bersama seluruh lembaga kemanusiaan internasional untuk segera turun tangan. Mereka menuntut perlindungan nyata bagi fasilitas medis dan mendesak dunia internasional memaksa Israel menghentikan kejahatan kemanusiaan yang terus berulang ini.
Ironi di Balik Angka
Hingga saat ini, di tengah klaim gencatan senjata yang dimulai sejak 10 Oktober lalu, korban jiwa justru terus berjatuhan. Alih-alih membawa kedamaian, periode pasca-kesepakatan ini justru diwarnai blokade ketat terhadap distribusi barang, bantuan logistik, dan ruang gerak warga.
Data terbaru yang dirilis Kementerian Kesehatan Palestina mencatat angka yang sangat mengerikan. Sejak kesepakatan “gencatan senjata” digulirkan, sebanyak 1.094 warga Palestina justru gugur, dan 3.507 lainnya luka-laun. Selain itu, tim penyelamat berhasil mengevakuasi 799 jenazah dari balik reruntuhan bangunan.
Jika ditarik sejak awal agresi pada 7 Oktober 2023, akumulasi kekejaman ini telah menelan korban jiwa hingga 73.120 syuhada dan menyebabkan 173.635 orang luka-luka. Angka-angka ini menjadi saksi bisu dari kehancuran total Gaza, di mana 90 persen infrastruktur di wilayah tersebut kini telah rata dengan tanah. Dunia masih terus menyaksikan, sementara Gaza terus bersimbah darah di bawah bayang-bayang janji perdamaian yang semu.
(Sumber: Al Jazeera / Media Palestina)










