DEIR AL-BALAH – Muhammad Abu Jiyab (16) mengira laut hari itu adalah ruang aman untuk melarikan diri sejenak dari trauma perang. Ahad (7/6), remaja Palestina ini merekam dirinya sendiri melompat dan menyelam ke dalam air yang jernih di lepas pantai Deir al-Balah, Jalur Gaza tengah.
Namun, Muhammad tidak pernah tahu bahwa video dokumentasi pendek yang merekam senyum lebar di wajahnya itu akan menjadi kenangan terakhir dalam hidupnya. Beberapa menit setelah video itu diambil, sebutir peluru dari penembak jitu militer Israel menembus kepalanya.
Kegembiraan yang terekam kamera itu seketika berubah menjadi tragedi berdarah. Jagat media sosial pun langsung diguncang oleh video memilukan yang memperlihatkan momen ketika tubuh kaku Muhammad ditarik dari dalam air oleh para nelayan lokal. Menggunakan perahu motor kecil, jasad remaja itu dibawa ke tepi pantai dengan kondisi kepala bersimbah darah.
Kematian Muhammad memicu gelombang duka dan kemarahan publik yang luar biasa di platform X (dulu Twitter). Salah seorang netizen menuliskan kepedihan hatinya:
“Remaja yang juga seorang nelayan ini, Muhammad Abu Jiyab, pergi ke laut hanya untuk mencari sesuap nasi demi menyambung nyawa keluarganya di masa genosida, kelaparan, dan kepungan blokade. Ia tidak membawa apa-apa selain jaring ikan dan harapan untuk pulang hidup-hidup. Namun laut yang ia datangi untuk mencari kehidupan, justru mengembalikannya dalam keadaan dipanggul di atas pundak sebagai jenazah.”
Teror Sunyi di Atas Ombak Gaza
Tragedi yang menimpa Muhammad bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari pola teror yang terstruktur. Pada hari yang sama, angkatan laut Israel juga menangkap empat nelayan Palestina lainnya di lepas pantai Kota Gaza tanpa alasan yang jelas.
Para nelayan lokal mengungkapkan bahwa militer Israel memang sengaja menargetkan mata pencaharian mereka. Penembakan acak, penghancuran kapal, hingga penyitaan jaring menjadi makanan sehari-hari yang telah menewaskan dan melukai banyak pencari nafkah di laut Gaza.
Aksi penembakan Muhammad terjadi di tengah eskalasi operasi militer Israel yang kembali memanas. Di darat, korban sipil terus berjatuhan. Sumber medis dari rumah sakit Gaza melaporkan bahwa hanya dalam waktu satu hari (Senin), serangan sporadis militer Israel di wilayah utara dan selatan Gaza telah menewaskan 5 warga sipil (termasuk seorang lansia dan satu anak kecil) serta melukai 32 orang lainnya.
Insiden-insiden berdarah ini memicu gelombang protes keras dari otoritas Palestina. Israel dituduh secara sengaja dan terang-terangan telah merobek kesepakatan gencatan senjata yang sebenarnya telah berjalan di Jalur Gaza sejak 10 Oktober 2025 lalu.
Angka yang Bukan Sekadar Statistik
Otoritas medis di Gaza merilis pembaruan data yang mengerikan mengenai total korban jiwa sejak pecahnya perang pada 7 Oktober 2023. Hingga hari ini, jumlah korban tewas telah menyentuh angka 72.980 jiwa, sementara korban luka-luka melesat hingga lebih dari 171.000 orang. Mayoritas mutlak dari angka raksasa tersebut adalah kelompok paling rentan: anak-anak dan perempuan.
Bagi dunia, angka 72.980 mungkin hanyalah deretan statistik yang dibacakan dalam ruang sidang PBB. Namun bagi warga Gaza, di dalam angka tersebut ada nama Muhammad Abu Jiyab, seorang anak muda yang impian sederhananya untuk berenang, mencari ikan, dan menatap masa depan, harus kandas secara brutal oleh sebutir peluru di tepi pantai kotanya sendiri.










