LONDON — Nick Maynard bukan dokter hijau yang gampang mual melihat darah. Sebagai profesor bedah dari Universitas Oxford, ia terbiasa berurusan dengan anatomi tubuh yang rusak. Namun, apa yang ia saksikan selama menjadi relawan medis di Jalur Gaza telah menggeser batas pemahamannya tentang kekejaman manusia.
Dalam wawancara panjang bersama jurnalis Amerika Serikat, Tucker Carlson, Maynard membeberkan kesaksian yang melucuti narasi “perang defensif” yang selama ini didengungkan Tel Aviv. Di depan kamera, ia bersaksi tentang sebuah pola kejahatan yang terstruktur: sniper yang menjadikan organ vital bocah-bocah kelaparan sebagai sasaran latihan tembak, hingga laporan pemerkosaan sistematis terhadap para sejawat dokter di dalam sel tahanan militer.
Ironinya, kata Maynard, semua kebrutalan ini berjalan mulus berkat satu hal: kebungkaman institusi media dan pasokan logistik dari pemerintah Barat.
Ladang Sentimen dan Target Selangkangan
Bagi Maynard, kekejaman di Gaza bukan lagi sekadar dampak ikutan dari sebuah perang (collateral damage). Ada metodologi yang mengerikan di sana. Dari ruang instalasi gawat darurat (IGD) tempatnya bekerja, ia dan tim dokter setempat membaca sebuah anomali yang sadis dalam luka tembak yang dialami anak-anak Palestina.
Pola itu berganti setiap beberapa hari, mirip sebuah instruksi dalam modul latihan menembak.
“Hari ini kami bisa menerima 19 remaja dengan peluru yang bersarang persis di kepala dan leher. Besoknya, polanya berubah, semua korban anak datang dengan dada atau perut yang jebol,” urai Maynard.
Puncak kengerian itu terjadi persis sehari sebelum ia meninggalkan Rumah Sakit Nasser. Ruang trauma kedatangan empat anak kecil. Mereka tidak tertembak di kaki atau lengan, melainkan di bagian selangkangan. Penembak jitu militer Israel (IDF) sengaja mengarahkan moncong senapan mereka untuk menghancurkan alat kelamin anak-anak tersebut secara langsung.
Eksekusi ini kerap terjadi di titik-titik pembagian bantuan makanan. Tempat warga mengantre demi mengganjal perut yang busung justru diubah menjadi perangkap maut. Begitu gerbang besi yang sempit dibuka sedikit untuk menyalurkan logistik, senapan mulai menyalak ke arah kerumunan yang kelaparan.
Dokter yang Diperkosa dan Dihabisi
Selain menyasar anak-anak, ada upaya sistematis untuk meruntuhkan fondasi sistem kesehatan Gaza dengan cara menghabisi para operatornya. Maynard kehilangan salah satu sejawatnya, seorang dokter spesialis bedah plastik muda. Dokter tersebut diseret dari rumahnya bersama sang ibu, tangannya diborgol ke belakang, lalu dieksekusi dengan peluru di kepala.
Bagi mereka yang tidak langsung dieksekusi di tempat, nasib yang lebih buruk telah menunggu di fasilitas penahanan militer Israel. Maynard mengonfirmasi laporan mengerikan mengenai seorang dokter spesialis ortopedi senior yang diculik. Selama dua minggu penuh di dalam tahanan, dokter tersebut diperkosa secara berulang-ulang dan disiksa hingga tewas. Jasadnya bahkan tidak pernah dikembalikan kepada pihak keluarga.
Informasi dari para penyintas medis yang berhasil bebas melengkapi potongan teka-teki itu. Mereka dipaksa duduk bersimpuh dengan mata tertutup dan tangan terikat selama dua bulan penuh tanpa kejelasan status hukum. Selama interogasi, setruman listrik dialirkan ke alat kelamin mereka untuk memeras pengakuan.
Drone di Ruang Operasi
Teknologi mutakhir ikut ambil bagian dalam mempermudah penetrasi teror. Maynard menerima laporan dari rekan sejawatnya tentang penggunaan anjing pelacak hidup yang punggungnya dipasangi kamera pengintai dan senapan otomatis yang dikendalikan dari jarak jauh. Anjing-anjing robotik organik ini dilepas masuk ke koridor rumah sakit untuk menyisir dan menembaki siapa saja yang bergerak.
Tidak kalah mengerikan adalah invasi quadcopter—drone tak berawak berukuran kecil yang dipersenjatai. Maynard menceritakan insiden saat sebuah drone berhasil menyusup masuk melalui jendela ruang bedah RS Nasser. Drone itu langsung melepaskan tembakan ke arah dada seorang perawat yang sedang menyiapkan peralatan operasi darurat.
Di wilayah pengungsian Al-Mawasi, drone-drone ini terbang rendah dan menembak secara acak ke arah tenda-tenda plastik. Maynard sendiri yang mengoperasi seorang perempuan yang tengah hamil tiga bulan. Peluru dari drone nyaris saja menembus rahimnya. Beruntung, lewat operasi taktis, nyawa ibu dan janinnya masih bisa diselamatkan.
Sensor Halus di Balik Ruang Redaksi London
Melihat kenyataan yang begitu berdarah di lapangan, Maynard mengaku berang dengan sikap bias media di negaranya sendiri, Inggris. Ia mencontohkan bagaimana BBC mengelola narasi demi mempertahankan apa yang mereka sebut sebagai “keberimbangan yang semu”.
Dalam sebuah program, BBC mengundang seorang dokter dari Gaza untuk memberikan kesaksian. Namun, segera setelah segmen itu selesai, mereka menampilkan juru bicara militer Israel yang tanpa bukti langsung menuding dokter tersebut sebagai komandan militer Hamas.
Ketika Maynard dan sejumlah jurnalis senior mendesak agar dokter Palestina itu diberikan hak jawab, manajemen stasiun televisi menolak dengan alasan teknis: masing-masing pihak sudah mendapatkan jatah durasi tujuh menit yang adil. Frustrasi dengan sensor halus dan intervensi dari meja atas, beberapa jurnalis di dalam ruang redaksi memilih meletakkan jabatan mereka sebagai bentuk protes.
Di level kebijakan, sokongan London terhadap Tel Aviv tetap kokoh di bawah meja. Inggris terus mengirimkan suku cadang untuk jet tempur F-35 yang membom Gaza, serta mengizinkan penerbangan pengintai harian dari pangkalan militer mereka di Siprus untuk memasok data intelijen bagi militer Israel.
“Setiap suara yang mencoba membuka kotak pandora ini akan langsung dihantam dengan tuduhan anti-Semitisme,” punggung Maynard. “Itu adalah senjata pemungkas untuk meneror karier profesional siapa pun yang berani menjadi saksi atas genosida ini.”
Dalam pengantar episodenya, Tucker Carlson bahkan memberikan catatan penutup yang sinis. Ia membandingkan situasi ini dengan genosida Rwanda 1994, sembari menyindir para politikus Washington yang dulu membangun reputasi lewat buku-buku pembelaan HAM, namun kini menutup mata saat anggaran negara mereka dipakai untuk mendanai kuburan massal di Gaza. “Ini hanya masalah waktu,” tulis Carlson lewat akun X-nya. “Kelak, seluruh museum Holocaust di dunia harus menyediakan satu ruang khusus untuk memamerkan apa yang terjadi di Gaza hari ini.”
Sumber: Diterjemahkan dan Diolah dari Al Jazeera










