GAZA — Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) menegaskan, entitas penjajah Israel telah sepenuhnya mengkhianati kesepakatan gencatan senjata yang telah ditandatangani. Hamas menyebut Israel sengaja mencoba memaksakan realitas baru di lapangan di bawah ancaman bom dan blokade ketat di Jalur Gaza.

Dalam pernyataan pers resminya, Hamas menyatakan bahwa militer Israel terus melanjutkan agresi brutalnya di berbagai wilayah Gaza.

Hamas kembali mendesak para mediator internasional dan negara-negara penjamin kesepakatan untuk segera bertindak memikul tanggung jawab politik serta hukum mereka. Hamas meminta dunia memaksa pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk menghormati komitmen yang telah disepakati dalam perjanjian gencatan senjata.

Selain itu, Hamas menyerukan kepada masyarakat dunia untuk mengeskalasi gerakan solidaritas mereka bagi perjuangan Palestina, menekan sekutu-sekutu Israel, serta menerapkan boikot menyeluruh (comprehensive boycott) guna menyeret entitas penjajah tersebut mempertanggungjawabkan kejahatannya.

Korban Jiwa Terus Berjatuhan Pasca-Gencatan Senjata

Klaim perdamaian di atas kertas berbanding terbalik dengan realitas berdarah di lapangan. Pada hari Kamis, lima warga Gaza kembali dinyatakan gugur akibat serangan udara dan artileri Israel yang secara konsisten melanggar poin-poin gencatan senjata.

Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, dampak dari pelanggaran gencatan senjata ini sangat mengerikan:

  • Korban Jiwa Pasca-Gencatan Senjata (Sejak 10 Oktober): 1.127 orang syahid dan 3.616 lainnya terluka.
  • Proses Evakuasi: Sebanyak 800 jenazah baru berhasil dievakuasi dari balik puing-puing bangunan pasca-serangan terbaru.
  • Akumulasi Korban Sejak 7 Oktober 2023: Jumlah korban tewas secara keseluruhan telah menembus 73.250 jiwa dan korban luka-luka mencapai 173.727 orang.

Angka-angka ini menjadi bukti tak terbantahkan mengenai tingginya ongkos kemanusiaan yang harus dibayar oleh warga sipil Gaza akibat keengganan Israel menghentikan mesin perangnya secara permanen. Dunia dipaksa menyaksikan bagaimana kesepakatan damai sengaja dikosongkan maknanya untuk menjustifikasi pendudukan dan pengusiran yang terus berjalan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here