PALESTINA — Idul Adha yang seharusnya menjadi momen penuh sukacita dan gema takbir berubah kelam bagi ribuan tahanan Palestina di Penjara Janot, Israel. Alih-alih diizinkan menggelar sajadah untuk salat Id, mereka justru dihadiahi pentungan dan isolasi. Otoritas penjara sengaja memperketat cengkeraman mereka, memberangus hak paling mendasar para tawanan Palestina, beribadah.
Laporan resmi dari Kantor Informasi Tahanan Palestina (Asra Media Office) membeberkan bagaimana sipir di fasilitas penahanan super-ketat itu mengamuk begitu mendengar para tahanan mulai melantunkan takbir. Di mata sipir Janot, pujian kepada Allah itu dianggap sebagai bentuk pembangkangan dan “provokasi” politik. Akibatnya, tindakan represif segera dilepaskan, lengkap dengan rentetan makian yang mengiris harga diri para tahanan.
Penjara Padang Pasir yang Pelit Ibadah
Kompleks Penjara Janot bukanlah fasilitas sembarangan. Terletak jauh di pedalaman Gurun Negev yang gersang di selatan Israel, kompleks ini membawahi dua penjara dengan reputasi maut: Nafha dan Ramon. Di benteng beton bersorot lampu penjagaan inilah, hak-hak kemanusiaan para tahanan seperti diuapkan oleh panasnya gurun.
Informasi yang dihimpun dari sumber-sumber internal menyebutkan bahwa perlakuan buruk di Janot bukan lagi insiden kasual, melainkan menu harian. Sebelum urusan salat Id ini mencuat, para tahanan sudah lebih dulu akrab dengan urusan perut yang tak higienis, makanan basi yang dijatah ketat, hingga larangan menyentuh kitab suci Al-Qur’an.
“Mereka sengaja mengisolasi dan menghukum siapa saja yang kedapatan berdoa atau membaca Al-Qur’an secara berkelompok,” tulis pernyataan resmi lembaga tersebut.
Bagi organisasi hak asasi manusia, Janot adalah lubang hitam penegakan hukum, di mana segregasi dan penyiksaan psikologis berjalan beriringan dengan pembiaran medis.
Komodifikasi Rasa Sakit dan Abai Medis
Bukan rahasia lagi bahwa sistem penjara Israel kerap mengadopsi kebijakan pengabaian medis (medical negligence) sebagai bentuk hukuman terselubung. Banyak tahanan di Janot yang menderita luka tembak sisa penangkapan, infeksi kronis, hingga komplikasi penyakit dalam, hanya diberikan obat pereda nyeri seadanya—jika tidak mau disebut dibiarkan membusuk.
Kondisi fisik yang rontok itu diperparah oleh runtuhnya mental mereka. Terisolasi dari dunia luar, ditambah absennya kunjungan keluarga selama berbulan-bulan, membuat depresi menjadi epidemi tersendiri di balik jeruji besi Negev.
Atas dasar itulah, koalisi lembaga kemanusiaan internasional kini didesak untuk segera menggedor pintu Tel Aviv. Harus ada intervensi langsung untuk memeriksa kelayakan fasilitas Janot sebelum angka kematian tahanan meroket lebih tinggi.
Lebaran Sunyi 9.000 Jiwa
Data yang dirilis oleh Perhimpunan Tahanan Palestina (Palestinian Prisoners Club) memberikan angka yang berbicara: ada sekitar 9.400 warga Palestina yang merayakan Idul Adha dalam sunyinya sel tahanan. Tragisnya, angka itu mencakup 360 anak-anak di bawah umur dan 84 perempuan.
| Profil Tahanan Palestina di Penjara Israel | Jumlah |
| Total Tahanan | ~9.400 orang |
| Anak-Anak (di bawah umur) | 360 anak |
| Perempuan | 84 wanita |
Laporan bersama dari sejumlah organisasi pemantau HAM, baik dari internal Palestina maupun kelompok sayap kiri Israel sendiri, mengonfirmasi bahwa pola “penyiksaan, pemiskinan nutrisi (kelaparan), dan pengabaian medis” pasca-eskalasi konflik regional memang sengaja diintensifkan. Kebijakan sipir Janot yang melarang salat Id hanyalah satu bab kecil dari buku tebal pelanggaran kemanusiaan yang sedang ditulis Israel di Gurun Negev.
Sumber: Anadolu Agency










