Kondisi bayi perempuan bernama Misk Al-Adini kian mengkhawatirkan. Di usianya yang baru enam bulan, tubuhnya tak mampu bergerak normal. Kepala terkulai tanpa kendali, anggota tubuhnya lemah, dan sejak hari-hari pertama kelahirannya ia telah kehilangan kemampuan mengontrol gerak akibat kerusakan pada sebagian jaringan otak. Ibunya kini hidup dalam kecemasan terus-menerus, menanti satu-satunya harapan: rujukan medis ke luar Gaza.
Menurut penuturan sang ibu, Misk saat ini mengalami gangguan kesehatan berat, mulai dari asidosis parah (peningkatan keasaman darah), malnutrisi akut, diare kronis, muntah terus-menerus, demam tinggi yang tak kunjung turun, hingga sesak napas dan ketidakmampuan menyusu. “Setiap jam yang berlalu membuat kondisinya semakin dekat dengan bahaya,” ujar sang ibu dengan suara bergetar.
Ibu Tanpa Pilihan
Di hadapan kondisi putrinya, sang ibu nyaris tak memiliki pilihan. Keterbatasan obat-obatan, ketiadaan alat medis penunjang, serta tidak adanya perawatan spesialis membuat dokter di Gaza menyampaikan kenyataan pahit: kemampuan medis yang tersedia tidak memadai, pengobatan tidak bisa dilanjutkan, dan risiko kematian semakin besar.
Situasi ini mencerminkan kondisi sistem kesehatan Gaza yang nyaris lumpuh total setelah lebih dari dua tahun agresi Israel. Rumah sakit rusak berat, banyak fasilitas kesehatan berhenti beroperasi, sementara tenaga medis bekerja di luar batas kemampuan mereka, di tengah kekurangan logistik dan ancaman berkelanjutan.
Kepungan Pembatasan yang Mematikan
Misk membutuhkan perawatan medis lanjutan di luar Gaza secepatnya. Ini bukan sekadar opsi, melainkan syarat untuk bertahan hidup. Namun, pembatasan ketat Israel membuat proses perjalanan medis nyaris mustahil.
Kalangan medis menyebut, pembatasan izin keluar wilayah telah menjadi jerat mematikan bagi pasien. Permohonan rujukan menumpuk tanpa kejelasan, respons tertunda, sementara waktu terus berjalan—dan bagi bayi seperti Misk, waktu adalah nyawa.
Setelah lebih dari dua tahun agresi, sistem kesehatan Gaza berada di titik runtuh: rumah sakit hancur, obat-obatan langka, peralatan rusak, dan ratusan tenaga medis gugur atau ditahan. Dalam kondisi ini, ribuan pasien kritis—termasuk ratusan anak—membutuhkan perawatan di luar wilayah. Banyak di antara mereka kehilangan nyawa karena izin berobat tak kunjung datang.
Seruan Kemanusiaan Mendesak
Ibu Misk mempertanyakan kenyataan yang harus dihadapi anaknya: mengapa seorang bayi yang bahkan belum mengenal dunia harus “dihakimi” oleh batas wilayah dan kebijakan penutupan? Mengapa akses pengobatan berubah menjadi kemewahan, sementara hak hidup tertunda tanpa kepastian?
Misk tidak membutuhkan simpati semata. Ia membutuhkan jalur aman, keputusan cepat, dan akses pengobatan segera di luar Gaza. Keselamatannya adalah tanggung jawab kemanusiaan yang nyata. Setiap penundaan hanya memperpanjang deretan korban yang sejatinya bisa diselamatkan.
“Selamatkan Misk sebelum terlambat,” demikian seruan ibunya, sebuah panggilan nurani yang tak semestinya diabaikan.
Sumber: Palinfo










