Dua warga Palestina bersaudara syahid dan tiga lainnya terluka, Senin (2/3/2026), setelah pemukim Israel melepaskan tembakan dalam serangan ke Kota Qaryut, selatan Nablus, wilayah utara Tepi Barat yang diduduki. Pada waktu yang hampir bersamaan, pasukan penjajah Israel melancarkan gelombang penangkapan di berbagai titik, menyasar lebih dari 40 warga Palestina, termasuk anak-anak dan mantan tahanan.

Kementerian Kesehatan Palestina menyatakan, Muhammad Thaha Muammar (52) syahid akibat luka tembak di kepala. Tak lama berselang, saudaranya, Fahim Thaha Muammar (48), menyusul syahid setelah tertembak di bagian panggul. Dua nyawa melayang dalam satu pagi yang kembali diwarnai darah.

Tim Palestinian Red Crescent yang tiba di lokasi melaporkan sedikitnya tiga korban luka akibat peluru tajam. Di antara mereka terdapat seorang anak berusia 15 tahun yang tertembak di bahu—potret getir bagaimana kekerasan tak lagi mengenal batas usia.

Saksi mata kepada Anadolu Agency menuturkan, sekelompok pemukim menyerbu pinggiran Qaryut dan mulai melakukan pengerukan lahan. Tindakan itu memicu perlawanan warga. Namun, menurut kesaksian tersebut, pemukim melepaskan peluru tajam ke arah warga dengan perlindungan tentara Israel.

Gelombang Penangkapan di Bulan Suci Ramadhan

Di hari yang sama, fajar Ramadhan di Tepi Barat kembali dibelah oleh suara sepatu militer. Pasukan pendudukan Israel menangkap 44 warga Palestina dari berbagai provinsi, termasuk sembilan anak, seorang perempuan muda, dan sejumlah mantan tahanan yang sebelumnya telah dibebaskan.

Kantor berita resmi Palestina, WAFA, melaporkan bahwa operasi penangkapan terkonsentrasi di wilayah utara Tepi Barat. Sejumlah kamp pengungsi dan kota diserbu, beberapa lokasi bahkan diubah menjadi titik interogasi lapangan.

Di wilayah Nablus, pasukan Israel menggerebek Kamp Askar lama dan baru serta sejumlah desa di timur dan selatan kota, menangkap delapan warga. Di Qalqilya, empat warga ditangkap, termasuk seorang perempuan dan mantan tahanan, setelah rumah-rumah mereka digeledah.

Penangkapan juga meluas ke Tulkarm, dengan tujuh warga ditahan usai penggerebekan di sejumlah desa dan pinggiran kota. Di Ramallah dan Al-Bireh, 12 warga (sembilan di antaranya anak-anak) ditangkap dalam operasi yang disertai tembakan peluru tajam. Sementara di Hebron, 13 warga lainnya turut diamankan.

Rangkaian operasi ini berlangsung di tengah bulan suci Ramadhan, ketika umat Islam seharusnya menunaikan ibadah dalam ketenangan. Namun realitas di Tepi Barat justru menunjukkan eskalasi penggerebekan malam, perusakan rumah, dan penahanan massal yang terus berulang.

Menurut data resmi Palestina, lebih dari 9.300 warga Palestina kini mendekam di penjara Israel, termasuk 66 perempuan dan 350 anak. Sejak pecahnya agresi Israel ke Gaza pada Oktober 2023 yang berlangsung selama dua tahun, serangan di Tepi Barat (mulai dari pembunuhan, penangkapan, pengusiran hingga ekspansi permukiman) terus meningkat.

Dalam periode tersebut, lebih dari 1.118 warga Palestina syahid di Tepi Barat, sekitar 11.700 lainnya terluka, dan hampir 22 ribu orang ditangkap, termasuk di wilayah timur Al-Quds. Angka-angka itu bukan sekadar statistik; ia adalah jejak luka yang menebal hari demi hari, membentuk realitas pahit yang terus dipaksakan di atas tanah yang diduduki.

Sumber: Al Jazeera, Wafa, Anadolu Agency

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here