Gelombang cuaca buruk kembali menghantam Jalur Gaza. Hujan deras yang turun dalam beberapa hari terakhir merendam kamp-kamp pengungsian, memperburuk kondisi warga yang sejak awal sudah hidup dalam keterbatasan.
Di kawasan Al-Mawasi, barat Khan Younis, genangan air terlihat menguasai tenda-tenda darurat. Air masuk ke dalam tempat tinggal sementara, merusak barang-barang yang tersisa. Banyak keluarga terpaksa bertahan di tengah genangan tanpa perlindungan memadai.
Upaya Terbatas di Lapangan
Jurnalis lapangan melaporkan, petugas dari pemerintah kota berupaya menyedot air dari jalan dan area pengungsian. Namun, peralatan yang digunakan sebagian besar sudah tua dan tidak memadai. Volume air yang harus ditangani jauh melampaui kapasitas alat yang tersedia.
Juru bicara Pemerintah Kota Khan Younis, Saeb Laqqan, mengatakan kerusakan jaringan drainase dan saluran pembuangan akibat serangan sebelumnya membuat situasi semakin sulit dikendalikan.
Menurut dia, keterbatasan alat dan perlengkapan menjadi hambatan utama dalam merespons dampak cuaca buruk.
Keluhan Pengungsi
Warga yang tinggal di kamp menggambarkan situasi sebagai tidak layak huni. Tenda-tenda yang mereka tempati tidak mampu menahan air hujan. Banyak yang tergenang sepanjang malam. Seorang pengungsi mengatakan upaya meminta bantuan kepada pemerintah kota dan tim penyelamat tidak membuahkan hasil.
“Bukan karena mereka tidak mau membantu, tapi karena mereka tidak punya alat,” ujarnya.
Pengungsi lain menyebut jalan-jalan di sekitar kamp ikut terendam, memperparah kondisi mobilitas dan distribusi bantuan.
Kawasan Padat, Risiko Lebih Besar
Al-Mawasi saat ini menjadi salah satu titik konsentrasi pengungsi terbesar di Gaza. Ratusan ribu orang tinggal di area yang terbatas, membuat dampak bencana seperti ini terasa lebih luas.
Dalam kondisi normal, hujan deras bisa ditangani dengan sistem drainase yang berfungsi. Namun di Gaza saat ini, sebagian besar infrastruktur tersebut sudah rusak.
Akibatnya, penanganan banjir menjadi tugas yang nyaris tidak mungkin dilakukan secara efektif.
Hidup di Bawah Standar Minimum
Sekitar 1,9 juta warga Palestina di Gaza kini hidup sebagai pengungsi. Mereka tinggal di tenda-tenda yang tidak memenuhi standar dasar tempat tinggal.
Meski gencatan senjata telah berlaku sejak 10 Oktober 2025, kondisi di lapangan belum menunjukkan perbaikan berarti. Akses terhadap bantuan kemanusiaan dan perlengkapan hunian masih sangat terbatas.
Dampak Perang yang Berkepanjangan
Data terbaru menunjukkan lebih dari 72 ribu warga Palestina syahid dan sekitar 172 ribu lainnya terluka sejak konflik dimulai. Selain itu, sekitar 90 persen infrastruktur sipil di Gaza mengalami kerusakan.
Kerusakan ini berdampak langsung pada kemampuan warga menghadapi cuaca ekstrem, terutama di musim hujan. Tanpa sistem drainase, tanpa perlindungan yang layak, setiap hujan menjadi ancaman baru.
Krisis yang Berlapis
Situasi di Gaza saat ini memperlihatkan krisis yang tidak berdiri sendiri. Cuaca buruk memperparah dampak perang, sementara keterbatasan sumber daya membuat respons menjadi sangat terbatas.
Bagi para pengungsi, persoalannya sederhana tapi mendasar, tempat tinggal yang aman. Namun hingga kini, kebutuhan paling dasar itu belum terpenuhi.










