Di Al-Quds, sebuah izin bangunan bisa lebih berharga daripada emas, karena selama 59 tahun tak ada satu pun yang terbit. Di sini, seorang pria bisa ditangkap 190 kali namun tetap menolak pergi. Inilah potret warga Al-Quds, dikepung aturan yang mencekik, tapi kian lekat memeluk tanahnya.
BAYANGKAN sebuah kota di mana waktu seolah membeku bagi para penduduk aslinya, namun bergerak beringas bagi mereka yang datang untuk menggusur. Sejak perang di Gaza meletus pada 7 Oktober 2023, Al-Quds bukan lagi sekadar kota suci yang tegang, ia telah berubah menjadi laboratorium raksasa bagi tindakan “pembersihan” yang sistematis.
Bagi warga Palestina di sini, penindasan bukan lagi sekadar berita di televisi, melainkan detail-detail kecil yang mengganggu napas, dari penggerebekan tengah malam, larangan beribadah di Al-Aqsa, hingga buldozer yang meruntuhkan rumah hasil jerih payah seumur hidup.
Menurut data terbaru dari Lembaga Studi Palestina, sekitar 362.000 warga Palestina kini bertahan di Al-Quds. Tragisnya, sepertiga dari mereka (sekitar 121.000 jiwa) terisolasi di balik tembok pemisah yang pongah. Mereka ada secara administratif, namun terbuang secara geografis.
Jeruji yang Menjadi Rumah Kedua
Jehad Qous baru berusia 32 tahun, namun portofolio hidupnya mencatat angka yang mencengangkan: ia telah ditangkap 73 kali. Sejak 2014, ia menjadi langganan surat perintah larangan memasuki Masjid Al-Aqsa dan Kota Tua.
“Mereka mencoba menanamkan teror di benak anak muda,” ujar Jehad. Baginya, penangkapan berulang ini adalah strategi untuk membuat warga Palestina kehilangan napas. “Siapa pun yang vokal akan diseret, dan mereka yang diam pun tetap dihantui ancaman.”
Catatan resmi Provinsi Al-Quds tahun 2025 melukiskan gambaran yang lebih kelam, 804 penangkapan dalam setahun, termasuk 81 anak di bawah umur dan 53 perempuan. Sebanyak 183 orang dijebloskan ke dalam “tahanan administratif”, sebuah lubang hitam hukum di mana seseorang dipenjara berdasarkan “berkas rahasia” tanpa tuduhan dan tanpa batas waktu.
Bagi Jehad, hukuman yang paling menyakitkan bukan hanya sel yang dingin, tapi keterputusan sosial. “Saya tinggal di Kota Tua, tapi saya dilarang mengunjungi kerabat yang rumahnya hanya sepelemparan batu. Saya merasa seperti memutus tali silaturahmi secara paksa,” keluhnya.
Berdamai dengan Buldozer
Jika Jehad bergelut dengan jeruji, Mohammed Mashahra bertarung dengan buldozer. Awal tahun ini, ia menjadi satu dari 40 warga Al-Quds yang dipaksa meruntuhkan rumahnya sendiri. Ya, menghancurkan dengan tangan sendiri demi menghindari denda fantastis jika pemerintah kota yang meruntuhkannya.
Rumah seluas 120 meter persegi di Sur Baher itu ia bangun dengan keringat sendiri pada 2018. Meski telah membayar denda awal sebesar 24.000 dolar AS, surat perintah penghancuran tetap datang dengan dalih “bangunan tanpa izin”. Padahal, selama hampir enam dekade, izin bangunan bagi warga Palestina di sana nyaris mustahil didapatkan.
Eksistensi di Balik 12 Ekor Angsa
Lain lagi cerita Fakhri Abu Diab, seorang peneliti dan aktivis pembela tanah Silwan. Setelah rumahnya diruntuhkan dan denda 14.000 dolar AS dijatuhkan, otoritas Israel melangkah lebih jauh: menyita 12 ekor angsa peliharaannya.
“Penyitaan angsa-angsa itu adalah serangan terhadap segala hal yang mengikat kami dengan tanah ini,” kata Abu Diab. Meski kini ia tinggal di sebuah karavan sempit, ia menolak pindah ke Tepi Barat. “Tujuan mereka adalah mengusir kami. Kita mungkin tak bisa menghentikan proyek mereka sepenuhnya, tapi kita bisa menghambatnya dengan cara tetap diam di sini.”
Yudaisasi Bawah Tanah
Silwan, wilayah yang dijaga ketat oleh Abu Diab dan kawan-kawannya, adalah benteng pertahanan terakhir di sisi selatan Al-Aqsa. Sejak 2012, penggalian terowongan besar-besaran dilakukan di bawah rumah warga untuk mencari jejak-jejak peradaban yang sesuai dengan narasi Torat.
Bahkan, ada upaya memalsukan sejarah di atas tanah. Sekitar 9.870 “makam fiktif” ditanam di area tersebut hingga akhir 2025 guna memberikan kesan adanya peradaban Yahudi kuno yang dominan di sana. Proyek yang disebut “Holy Basin” atau Cekungan Suci ini bertujuan mengubah total lanskap Yerusalem menjadi apa yang mereka klaim sebagai mautnya negara Yahudi 3.000 tahun lalu.
Strategi Mengusir Tanpa Senjata
Sekitar 40% bangunan di Silwan kini terancam roboh atau digusur. Kebijakan ini disebut sebagai “Urbanicide”, pembunuhan karakter kota. Skemanya licik, warga Palestina didorong untuk pindah ke lingkungan di luar tembok pemisah, seperti Kafr Aqab atau kamp Shuafat, dengan iming-iming biaya hidup lebih murah.
Abu Diab memperingatkan bahwa ini adalah perang demografi. “Suatu hari nanti, otoritas Israel akan mengeluarkan wilayah-wilayah di balik tembok itu dari batas kota dan mencabut hak tinggal penduduknya. Saat itulah, mereka memenangkan perang populasi tanpa perlu melepaskan satu peluru pun.”










