Seorang pemuda Palestina, Mustafa Hamad, meninggal dunia pada Jumat (27/3) setelah sebelumnya mengalami luka tembak dalam operasi militer Israel di kamp pengungsi Qalandiya, utara Al-Quds Timur.
Sumber medis di Kompleks Medis Palestina, Ramallah, menyebut Hamad sempat tiba di unit gawat darurat dalam kondisi kritis sebelum akhirnya dinyatakan meninggal. Prosesi pemakaman dihadiri Gubernur Ramallah dan Al-Bireh, Laila Ghannam.
Bentrokan di Pintu Kamp
Insiden ini berawal dari penggerebekan militer Israel ke kamp Qalandiya. Sehari sebelumnya, Bulan Sabit Merah Palestina melaporkan dua pemuda terluka akibat peluru tajam dalam operasi tersebut.
Sumber lokal menyebut bentrokan pecah di pintu masuk kamp. Pasukan Israel menggunakan peluru tajam, peluru logam, dan gas air mata. Sejumlah pemuda Palestina membalas dengan lemparan batu.
Gelombang Penangkapan
Di wilayah lain, operasi penangkapan berlangsung hampir bersamaan.
Di Qalqilya, pasukan Israel menangkap mantan tahanan Yasser Hammad bersama putrinya, Ikhlas Hammad. Penangkapan juga terjadi di Kamp Ein, Nablus, terhadap Muawiya Basyuni, serta di Anabta, Tulkarm, terhadap Mohammad Lutfi Shahada.
Penggerebekan dilaporkan terjadi di sejumlah titik lain, termasuk Kafr Malik di timur laut Ramallah, Az-Zawiya di barat Salfit, serta kamp Aqabat Jabr di Jericho.
Di Nablus, kehadiran militer meningkat tajam. Kendaraan ambulans dilaporkan sempat terhambat di pos pemeriksaan Beit Furik.
Kekerasan Meluas
Selain operasi militer, serangan oleh pemukim Israel juga dilaporkan meningkat. Di wilayah Jabal Al-Funduqomiya, selatan Jenin, pemukim melepaskan suar.
Sumber medis mencatat seorang pemuda mengalami luka akibat pecahan peluru di dekat pagar pembatas Baqa Timur. Seorang remaja berusia 14 tahun juga terluka di bagian kaki dalam bentrokan di kamp Al-Arroub, utara Hebron.
Rangkaian kejadian ini berlangsung di tengah operasi harian yang terus berlanjut di Tepi Barat.
Seruan ke Al-Aqsa
Di Al-Quds, seruan untuk berkumpul di sekitar Masjid Al-Aqsa menguat. Warga diminta mendatangi titik-titik terdekat dan melaksanakan salat sebagai bentuk penolakan terhadap tindakan provokatif Israel.
Seruan tersebut menekankan bahwa kehadiran warga di sekitar Al-Aqsa menjadi bentuk pertahanan langsung terhadap upaya perubahan status kawasan.
Eskalasi Berkelanjutan
Sejak perang di Gaza meletus pada Oktober 2023, situasi di Tepi Barat ikut memanas. Operasi militer, pembongkaran rumah, pemindahan paksa, dan ekspansi permukiman terus dilaporkan.
Data terakhir menunjukkan lebih dari 1.100 warga Palestina syahid di wilayah ini, dengan sekitar 11.700 lainnya terluka. Penangkapan juga meningkat, dengan jumlah mencapai sekitar 22 ribu orang.
Sejumlah pihak internasional memperingatkan potensi langkah lebih jauh, termasuk kemungkinan aneksasi wilayah Tepi Barat oleh Israel.
Tekanan yang Terus Naik
Peristiwa di Qalandiya dan wilayah lain menunjukkan satu pola yang konsisten: eskalasi yang tidak mereda. Di satu sisi, operasi militer dan penangkapan terus berlangsung. Di sisi lain, seruan mobilisasi warga juga menguat.
Di antara keduanya, ruang aman bagi warga sipil semakin menyempit.










