JAKARTA — Derasnya arus globalisasi dan lompatan teknologi digital ibarat pisau bermata dua bagi generasi Z. Di satu sisi, internet membuka cakrawala pengetahuan; di sisi lain, kemudahan akses budaya asing perlahan mengikis sekat-sekat identitas nasional dan meminggirkan nilai-nilai nasionalisme di kalangan remaja.
Merespons alarm degradasi karakter kebangsaan tersebut, tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dari Universitas Bina Sarana Informatika (BSI) menggelar program edukasi bertajuk “Program Edukasi Upaya Menumbuhkan Rasa Cinta Tanah Air”. Program edukasi itu menyasar ratusan siswa di SMP Negeri 26 Jakarta.
Program ini dirancang sebagai intervensi edukatif yang bertujuan memperkuat karakter kebangsaan siswa tepat pada fase krusial pembentukan identitas diri mereka.
Relevansi Nasionalisme di Era Disrupsi
Cinta tanah air pada abad ke-21 tidak lagi didefinisikan lewat angkat senjata, melainkan melalui ketahanan budaya dan komitmen sosial sehari-hari. Tim pengabdi Universitas BSI menekankan bahwa nasionalisme kontemporer harus termaterialisasi dalam tindakan nyata: menjaga persatuan di ruang siber, menghargai keberagaman suku dan agama, mematuhi hukum, serta berkontribusi bagi ekosistem lokal.
Melalui dialog interaktif, para siswa SMPN 26 Jakarta diajak memetakan posisi mereka sebagai elemen penting dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Cinta tanah air tidak boleh berhenti menjadi slogan di atas kertas atau kata-kata saat upacara. Ia harus mewujud dalam keputusan sehari-hari. Generasi muda adalah pemegang estafet yang menentukan apakah cita-cita pendiri bangsa ini tetap tegak atau runtuh di masa depan,” ujar tim Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas BSI.
Pendidikan Karakter Lewat Pengalaman Empiris
Mengacu pada teori pendidikan karakter (character education), pemahaman nilai-nilai kebangsaan tidak akan efektif jika hanya disajikan dalam bentuk doktrinasi satu arah atau hafalan tekstual. Karakter memerlukan habituasi (pembiasaan) dan pengalaman empiris (nyata).
Oleh karena itu, Universitas BSI mengemas kegiatan ini menggunakan metode pembelajaran aktif:
1.Penyampaian Materi Reflektif:Tahap Kognitif.
Pemaparan materi menggunakan analogi kontekstual yang dekat dengan kehidupan remaja, memicu siswa mengenali tantangan riil bangsa saat ini.
2.Diskusi Kelompok Terfokus:Tahap Afektif.
Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk merefleksikan perilaku nasionalisme, seperti urgensi menggunakan produk lokal secara bijak hingga taktik menangkal hoaks yang memecah belah.
3.Permainan Edukatif Kebangsaan:Tahap Internalisasi.
Simulasi berbasis permainan kelompok untuk melatih kerja sama, penekanan nilai gotong royong, dan penghormatan terhadap perbedaan pendapat.
4.Sesi Komitmen Bersama:Tahap Evaluasi.
Siswa merumuskan rencana aksi konkret (action plan) sederhana yang bisa langsung mereka terapkan di lingkungan sekolah dan rumah.
Sekolah sebagai Laboratorium Kebangsaan
Tingginya antusiasme yang ditunjukkan oleh para siswa SMPN 26 Jakarta sepanjang program membuktikan bahwa ruang pembelajaran yang tepat mampu mengaktivasi kepedulian sosial mereka. Sekolah memiliki posisi geopolitik yang strategis dalam ekosistem pendidikan untuk mengonversi potensi tersebut menjadi aksi nyata.
Bagi Universitas BSI, agenda PkM ini menegaskan komitmen korporat akademis mereka untuk mencetak sumber daya manusia yang seimbang: unggul secara intelektual (academic excellence), namun memiliki jangkar moral kebangsaan yang kokoh.
Sebab, pada akhirnya, kemajuan Indonesia di panggung global tidak hanya ditentukan oleh tingginya angka Intelligence Quotient (IQ) generasi penerusnya, melainkan oleh seberapa besar rasa kepemilikan dan cinta mereka terhadap masa depan tanah airnya sendiri.










