GAZA — Hari Ahad yang cerah di Jalur Gaza kembali berubah menjadi merah. Meski kesepakatan gencatan senjata global secara teoritis masih mengikat kedua pihak, mesin perang Israel terbukti tidak pernah benar-benar mematikan mesinnya.

Hingga Ahad malam, rangkaian serangan udara dan bombardir artileri secara sporadis telah merenggut sedikitnya 13 nyawa warga sipil dan mengirim lebih dari 35 orang ke ruang-ruang darurat rumah sakit yang serba kekurangan.

Pukulan paling mematikan terjadi menjelang senja di utara Gaza. Kantor Berita Palestina (Wafa) melaporkan sebuah drone intai militer Israel menembakkan rudal taktis, membidik sebuah mobil sipil yang tengah melintas di dekat Sekolah Al-Buraq, lingkungan Al-Nasr, barat laut Kota Gaza.

Empat penumpang di dalamnya (termasuk seorang perempuan) syahid seketika dengan kondisi tubuh mengenaskan. Ambulans yang tiba di lokasi terpaksa mengevakuasi para korban di bawah ancaman jet-jet tempur yang masih menderu di langit.

Pembantaian di Atas Pasir Mawasi

Beberapa jam sebelumnya, wilayah selatan Jalur Gaza lebih dulu dihantam ledakan. Kawasan Mawasi di Khan Younis (sebuah zona pesisir gersang yang kini dipadati oleh lautan tenda plastik pengungsi) menjadi sasaran serangan udara jets tempur Israel. Lima warga Palestina tewas di tempat dan 15 lainnya menderita luka parah akibat hantaman pecahan proyektil.

Sumber dari Kementerian Dalam Negeri di Gaza mengonfirmasi bahwa hantaman tersebut sengaja diarahkan ke sebuah pos penjagaan Kepolisian Sipil Palestina yang berada di sisi barat Khan Younis. Alih-alih menyasar milisi bersenjata, bom-bom konvensional itu justru meluluhlantakkan pos administrasi publik dan merobek tenda-tenda keluarga pengungsi yang berdiri hanya beberapa meter di sekitarnya.

       

Eksekusi Anak Nelayan dan Teror Selat Gaza

Amis darah juga tercium dari garis pantai Deir al-Balah, Gaza Tengah. Kompleks Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa menerima jasad Mohammad Musa Abu Jiyab, seorang anak laki-laki yang baru berusia 15 tahun. Bocah yang sehari-hari bekerja membantu keluarganya sebagai nelayan tradisional itu tewas setelah kapal perang Angkatan Laut Israel memuntahkan tembakan senapan mesin berat ke arah perahu-perahu nelayan yang tengah mencari ikan beberapa mil dari bibir pantai.

Operasi maritim Israel hari itu tidak berhenti pada pembunuhan Abu Jiyab. Dua kapal patroli cepat Angkatan Laut Israel merangsek masuk, mengepung dua perahu nelayan lainnya, dan melepaskan tembakan jarak dekat yang melukai seorang nelayan hingga kritis. Empat nelayan lain yang berada di atas perahu disergap, ditutup matanya, lalu digelandang bersama seluruh peralatan kerja mereka menuju pangkalan militer rahasia di luar Gaza.

Meluber Hingga Kamar Jenazah Al-Shifa

Di pusat Kota Gaza, ruang jenazah Rumah Sakit Al-Shifa kembali kedatangan dua keranda baru. Keduanya adalah korban tewas dari kawasan pemukiman Al-Zaytoun yang terkena hantaman artileri berat berat tepat di dinding rumah mereka.

Sementara itu, grafik kematian akibat “pembantaian Sabtu” di kamp pengungsian kawasan Al-Jawazat terus merangkak naik. Seorang perempuan paruh baya mengembuskan napas terakhirnya di ruang perawatan intensif setelah tubuhnya gagal bertahan dari infeksi luka bakar mesiu. Kematian perempuan ini menggenapi total korban tewas dalam insiden Al-Jawazat menjadi sembilan orang, termasuk tiga perempuan dan seorang balita.

Mekanisme Pelanggaran yang Mengakar

Gencatan senjata, bagi militer Israel, tampaknya hanyalah jeda teknis untuk mengatur ulang koordinasi serangan. Sepanjang hari, unit-unit mekanis Israel yang bersiaga di utara Kamp Al-Bureij dan garis batas timur Khan Younis terus melepaskan tembakan artileri secara berkala ke arah lahan pertanian warga. Di laut, moncong-moncong meriam kapal perang tak berhenti mengintimidasi garis pantai Kota Gaza.

Jika ditarik garis lurus sejak perang pembersihan etnis ini meletus pada Oktober 2023, data agregat kemanusiaan di Gaza telah melampaui ambang batas nalar modern. Dukungan logistik militer yang terus mengalir dari sekutu Barat telah memicu kehancuran kolosal:

Indikator Dampak AgresiAkumulasi Data Riil (2023 – Juni 2026)
Korban Jiwa Massal± 73.000 Orang (Didominasi anak-anak dan kelompok perempuan)
Korban Luka/Cacat FisikOleh dari 173.000 Orang
Kehancuran Sektor Properti90% Total Infrastruktur Publik Rusak Total

Sejak paksa damai dideklarasikan secara sepihak pada Oktober 2025 lalu, strategi Israel bergeser dari pengeboman karpet (carpet bombing) menjadi operasi pelayuan senyap. Lewat kombinasi blokade logistik makanan, pemutusan obat-obatan esensial, dan serangan taktis harian, sedikitnya 951 nyawa baru terenggut dan 2.984 orang cacat permanen.

Dunia mungkin mengira Gaza sedang berada dalam fase pemulihan kemanusiaan, namun bagi dua juta jiwa yang terkurung di dalam penjara terbuka terbesar di dunia itu, perang tidak pernah berakhir, ia hanya berganti wajah dari desing jet tempur menjadi antrean peti mati yang terus memanjang setiap harinya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here