Warga Palestina di Jalur Gaza menyambut Idul Fitri dengan cara yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya: bersujud di atas reruntuhan rumah dan masjid yang telah hancur. Di antara debu dan sisa bangunan, shalat tetap ditegakkan, membawa campuran rasa syukur yang tertahan dan duka yang belum reda. Ini menjadi Idul Fitri pertama yang mereka lalui tanpa dentuman perang sejak 7 Oktober 2023, meski jejak kehancuran masih nyata di setiap sudut.
Salat Id digelar di ruang-ruang darurat. Sejumlah tenda didirikan sebagai pengganti masjid yang luluh lantak akibat serangan Israel. Namun, tak sedikit warga yang memilih salat di ruang terbuka, di halaman yang dulu adalah rumah mereka, atau di tengah lingkungan yang kini tinggal puing. Pilihan itu bukan tanpa alasan: ada upaya mempertahankan makna hidup, meski realitas terus menekan.
Di tengah kondisi serba terbatas, kehadiran perempuan dan anak-anak menjadi pemandangan yang menonjol. Mereka datang bersama, membentuk barisan keluarga yang sederhana, namun sarat makna, seolah ingin memastikan bahwa tradisi tak ikut runtuh bersama bangunan.
Khutbah Idul Fitri yang disampaikan di berbagai titik tak hanya berbicara tentang ibadah, tetapi juga tentang bertahan sebagai komunitas. Para khatib menyerukan pentingnya merapatkan barisan, memperkuat solidaritas sosial, dan menjaga hubungan keluarga yang tergerus oleh perang. Mereka juga mengingatkan jemaah untuk mengunjungi keluarga para syuhada, menguatkan yang terluka, serta mendampingi keluarga tahanan.
Usai salat, suasana berubah sejenak. Di beberapa lokasi, relawan membagikan permen dan meniup balon untuk anak-anak. Upaya kecil itu tampak sederhana, tapi di tengah kehancuran, ia menjadi cara untuk menghadirkan kembali sepotong kebahagiaan yang nyaris hilang.





















