Aktivis asal Brasil, Thiago Avila, kembali meringkuk di jeruji besi Israel. Ia dicegat di perairan internasional saat mencoba menembus blokade Gaza. Sebuah misi kemanusiaan yang berujung pada tuduhan terorisme dan jeratan rantai di ruang sidang.
TIAGO Avila tak kuasa menyembunyikan keletihannya. Di ruang sidang pengadilan Ashkelon, Ahad (3/5), aktivis asal Brasil itu muncul dengan tangan terborgol. Di sebelahnya, Saif Abu Kishk, rekan setimnya asal Spanyol, berdiri dengan kaki yang dirantai besi. Bagi Thiago, ini adalah deja vu yang pahit.
Hanya berselang dua hari setelah militer Israel mencegat “Armada Global Sumud Flotilla” di perairan internasional, pengadilan memutuskan untuk memperpanjang penahanan keduanya selama dua hari tambahan. Mereka adalah sisa dari gelombang penculikan massal yang dilakukan Angkatan Laut Israel terhadap puluhan aktivis dari berbagai negara yang mencoba menjebol blokade Jalur Gaza pada Kamis pekan lalu.
Israel memang telah mendeportasi sebagian besar aktivis ke Pulau Kreta, Yunani. Namun, Thiago dan Abu Kishk punya nasib berbeda. Tel Aviv punya “catatan khusus” untuk mereka. Abu Kishk dituding sebagai pentolan Konferensi Rakyat untuk Warga Palestina di Luar Negeri, organisasi yang oleh Israel dan Amerika Serikat dicap berafiliasi dengan Hamas. Sementara Thiago, dituduh sebagai kaki tangan organisasi tersebut dan terlibat dalam “aktivitas ilegal”.
Kesaksian dari Balik Sel
Organisasi hak asasi manusia, Adalah, mengungkap sisi kelam dari penahanan ini. Menurut kesaksian yang diterima, Thiago dan Abu Kishk mengalami kekerasan fisik yang brutal. “Mereka dipukul, disekap dalam sel isolasi, dan matanya ditutup selama berhari-hari saat masih berada di laut,” tulis pernyataan lembaga tersebut.
Sebagai bentuk perlawanan, kedua aktivis itu kini melancarkan aksi mogok makan. Mereka memprotes penahanan yang dianggap melangkahi hukum internasional.
Bukan hanya aktivis yang meradang. Madrid dan Brasilia pun berang. Menteri Luar Negeri Spanyol, Jose Manuel Albares, melontarkan kritik pedas. Ia menyebut Israel tak punya bukti kuat untuk menyandera Abu Kishk. “Penangkapan di perairan internasional ini ilegal secara total. Ini tindakan yang berada di luar yurisdiksi hukum mana pun,” tegas Albares.
Operasi 1.000 Kilometer
Drama di laut ini bermula ketika armada yang terdiri dari sekitar 50 kapal berangkat dari pelabuhan-pelabuhan di Prancis, Spanyol, dan Italia. Misi mereka satu: membawa bantuan medis dan pangan ke Gaza yang kini compang-camping akibat perang.
Namun, sebelum sempat menyentuh garis pantai, militer Israel menyergap. Radio Tentara Israel mengklaim operasi ini dilakukan 1.000 kilometer dari garis pantai mereka, di dekat Pulau Kreta. Ada selisih angka yang mencolok: Israel mengklaim menahan 175 aktivis, sementara penyelenggara armada menyebut 211 orang telah “diculik”.
Lara Souza, istri Thiago, tak mampu menahan gundah saat melihat suaminya dirantai di layar televisi. Kepada Al Jazeera, ia menegaskan bahwa suaminya bukan teroris. “Thiago hanya melakukan pekerjaan kemanusiaan untuk orang-orang yang menghadapi genosida. Memberi bantuan bukan berarti bekerja sama dengan musuh,” ujarnya.
Lara kini tengah bergerilya menghubungi pemerintah Brasil, Spanyol, Italia, hingga Swedia. Namun, jawaban yang ia terima masih klise: “Kami sedang mengusahakan yang terbaik.”
Simbol Perlawanan Amerika Latin
Thiago Avila bukanlah pemain baru dalam aktivisme pro-Palestina. Lahir di Brasilia pada 1986, ia telah menghabiskan dua dekade hidupnya di jalur advokasi sosial dan lingkungan. Namanya mulai dikenal dunia saat ia masuk dalam komite pengarah Koalisi Freedom Flotilla.
Ini adalah kali kedua Thiago mencicipi pengapnya penjara Israel. Tujuh bulan lalu, ia pernah ditangkap dalam misi serupa. Kala itu, ia dideportasi setelah sempat mogok makan dan menolak menandatangani dokumen pengusiran.
Bagi publik Amerika Latin, Thiago kini adalah simbol. Ia adalah pengingat bahwa jarak ribuan kilometer bukan halangan bagi kemanusiaan. Namun bagi Israel, ia adalah ancaman yang harus dibungkam dengan rantai dan sel isolasi. Di Ashkelon, nasib Thiago kini digantungkan pada diplomasi internasional yang seringkali berjalan lebih lambat dari derita para pengungsi di Gaza.
Sumber: Diterjemahkan dan diolah dari Al Jazeera dan AFP










