GAZA – Kebebasan bagi Yahya Abu Saif bukanlah sebuah perayaan. Saat dilepaskan dari tahanan Israel baru-baru ini, pria penyandang disabilitas asal Gaza ini justru memanggul beban trauma yang lebih berat dari kursi rodanya. Di tengah perang yang telah menyapu bersih sebagian besar anggota keluarganya, Abu Saif harus menghadapi kenyataan pahit: setahun di penjara Sde Teiman adalah “tahun terpanjang dan terburuk” dalam hidupnya.
Sde Teiman, fasilitas penahanan yang kini punya reputasi kelam, menjadi saksi bagaimana keterbatasan fisik Abu Saif bukan menjadi alasan bagi sipir untuk menaruh iba. Di sana, Abu Saif dilarang menggunakan kursi rodanya sendiri. Ia dipaksa merayap, menyeret tubuhnya di atas lantai penjara yang dingin, sementara interogasi dan penyiksaan terus berjalan tanpa jeda medis.
“Setiap hari terasa sama, tapi dengan beban nyeri yang terus menumpuk,” tutur Abu Saif kepada Al Jazeera. Baginya, Sde Teiman bukan sekadar penjara berdinding beton, melainkan ruang isolasi di mana tubuh manusia diuji hingga batas terjauhnya dalam kondisi cacat yang dipaksakan.
Vonis Mati Lewat Pembiaran
Kisah Abu Saif adalah pucuk gunung es dari nestapa ribuan tahanan Palestina. Di balik jeruji, penyakit kronis bukan sekadar masalah kesehatan, melainkan alat penekan sistematis.
Afaf Abu al-Sabah, seorang ibu dari Gaza, menceritakan nasib anaknya, Fadi, yang ditangkap pada 2019 saat hendak menjalani pengobatan resmi ke Tepi Barat. Fadi, yang kakinya dipenuhi plat logam akibat cedera lama, seharusnya bebas pada Mei 2024. Namun, otoritas Israel menggunakan “Undang-Undang Darurat Perang” untuk memperpanjang masa penahanannya tanpa batas waktu yang jelas.
“Apa yang dialami anak saya adalah hukuman mati perlahan,” ujar Afaf. Fadi dipindahkan dari satu penjara ke penjara lain (mulai dari Ashkelon hingga Nafha) tanpa pernah mendapatkan akses rumah sakit, meski kondisinya terus merosot.
Angka di Balik Jeruji
Hingga April 2025, data dari Palestinian Prisoners’ Club menunjukkan statistik yang menggetarkan:
- 9.600 Tahanan: Total warga Palestina yang mendekam di penjara Israel, termasuk 350 anak-anak dan 84 perempuan.
- 1.200 Pasien Kronis: Tahanan yang menderita penyakit berat mulai dari kanker, gagal ginjal, hingga gangguan jiwa akut tanpa perawatan layak.
- 89 Nyawa Melayang: Jumlah tahanan yang tewas akibat kelalaian medis, kelaparan, atau penyiksaan selama investigasi. Sebanyak 52 di antaranya berasal dari Gaza.
- 3.532 Tahanan Administratif: Mereka yang ditahan tanpa dakwaan, tanpa pengadilan, dan tanpa kepastian kapan akan pulang.
Abdullah al-Zaghari, Ketua Palestinian Prisoners’ Club, menyebut bahwa sejak 7 Oktober, kebijakan di dalam penjara berubah menjadi “politik balas dendam”. Pasokan air diputus secara berkala, jatah makan dikurangi drastis, dan penyakit kulit seperti skabies dibiarkan mewabah tanpa obat.
Tes bagi Kemanusiaan Global
Islam Abdu, pejabat media di Kementerian Urusan Tawanan Gaza, menyebut isu tahanan sakit sebagai “pelanggaran paling berbahaya”. Menurutnya, penundaan pemeriksaan medis dilakukan secara sengaja agar kondisi pasien mencapai titik yang tak bisa diselamatkan.
Senada dengan itu, Abdul Qadir Hailan dari Yayasan Al-Dameer menegaskan bahwa apa yang terjadi di penjara-penjara Israel pasca-7 Oktober adalah ujian bagi sistem keadilan internasional. Lembaga-lembaga hak asasi manusia terus dihalangi untuk melakukan verifikasi lapangan, sementara Palang Merah Internasional kehilangan akses kunjungan.
Di Sde Teiman dan penjara lainnya, hukum internasional seolah berhenti di depan pintu gerbang. Bagi pasien seperti Abu Saif atau Fadi, setiap detik yang berlalu bukan hanya soal menunggu kebebasan, tapi soal bertahan hidup dari kebijakan yang secara perlahan namun pasti sedang mematikan mereka dari dalam.










