KHAN YOUNIS — Selama tiga tahun terakhir, keluarga Adham Al-Banna hidup dalam duka yang pekat. Mereka meyakini sepenuhnya bahwa Adham telah gugur sebagai syuhada di medan laga, menyusul tiga saudara kandungnya yang telah lebih dulu syahid. Namun, sebuah kabar mengejutkan tiba-tiba menjungkirbalikkan takdir, menyalakan kembali lentera harapan di rumah mereka yang sempat redup.
Senin lalu, otoritas penjajah Israel membebaskan 17 tawanan Palestina dari Jalur Gaza. Menggunakan ambulans Komite Internasional Palang Merah (ICRC), para tawanan tersebut dipindahkan melalui perbatasan Kerem Shalom menuju Rumah Sakit Nasser di Khan Younis untuk menjalani pemeriksaan medis.
Di antara deretan pria berwajah pias yang keluar dari ambulans, terseliplah sosok Adham Al-Banna. Kehadirannya seketika menciptakan gelombang kejutan emosional yang hebat, perpaduan antara histeria, tangis tidak percaya, dan sujud syukur. Anggota keluarga yang datang tak pernah mengira bahwa nama Adham akan kembali berdengung dalam sebuah kepulangan, bukan dalam bait-bait doa bagi yang telah tiada.
“Kisah di Luar Logika Akal Sehat”
Cerita kepulangan Adham Al-Banna langsung viral dan memicu respons emosional yang luas di kalangan warga Palestina. Potongan video penyambutannya yang mengharukan tersebar di media sosial sebagai simbol bertahannya kemanusiaan di tengah gempuran penderitaan yang tak berkesudahan.
Jurnalis Palestina, Mohammad Haniyeh, menggambarkan kisah Adham sebagai narasi yang “melompati batas fiksi”. Menurutnya, atmosfer penyambutan Adham di Khan Younis sangat berbeda dibandingkan tawanan lainnya.
“Dia seolah-olah bangkit dari kematian. Ini adalah kisah fiksi di setiap detailnya,” tulis Haniyeh melalui akun pribadinya di platform X. Ia menambahkan, “Di Gaza, kita hari ini hidup di dalam dunia yang melampaui imajinasi. Beberapa kenyataan yang kita saksikan di sini bahkan terlalu mustahil untuk dicerna oleh akal sehat.”
Sementara itu, Ketua Pemantau Hak Asasi Manusia Euro-Mediterania (Euro-Med Human Rights Monitor), Ramy Abdu, mengonfirmasi bahwa Adham Al-Banna, yang berasal dari Jabalia di utara Jalur Gaza, sebenarnya merupakan korban penghilangan paksa (enforced disappearance) di dalam penjara Israel selama tiga tahun berturut-turut.
Selama periode kegelapan itu, Israel memutus semua akses informasi, membuat pihak keluarga berasumsi bahwa Adham telah tewas dalam salah satu serangan militer.
Tabir Gelap ‘Penghilangan Paksa’ oleh Israel
Fenomena “hidupnya kembali” Adham Al-Banna membuka kembali kotak pandora yang selama ini menghantui ribuan keluarga di Gaza. Kasus ini memicu diskusi hangat di kalangan aktivis mengenai nasib ribuan orang yang dinyatakan hilang di Gaza.
Berapa banyak keluarga yang hari ini mengubur puing-puing rumah mereka sembari meratapi kematian anak-anaknya, padahal sang buah hati sebenarnya masih bernapas di balik jeruji besi Israel?
Para aktivis kemanusiaan menilai, kembalinya Adham mengemas dua pesan sekaligus: sebuah pesan harapan bagi keluarga yang masih menanti, sekaligus potret buram kekejaman sistemik Israel yang sengaja memutus kontak para tahanan dengan dunia luar.
Praktik penghilangan paksa ini merupakan pelanggaran berat hukum humaniter internasional. Lembaga-lembaga advokasi hukum melaporkan bahwa militer Israel sengaja menahan warga Gaza di kamp-kamp rahasia tanpa mendaftarkan nama mereka, tanpa tuduhan hukum, dan tanpa akses bagi pengacara maupun Palang Merah.
Akibatnya, keluarga korban dibiarkan tersiksa dalam ketidakpastian yang kejam, terjebak di antara ruang duka dan ruang tunggu.
Bagi Gaza, kepulangan Adham Al-Banna bukan sekadar kebahagiaan satu keluarga. Ia adalah jendela harapan yang mendobrak dinding keputusasaan, membuktikan bahwa di tanah para nabi ini, mukjizat terkadang masih menyelinap di antara celah-celah jeruji besi penjajah. (Sumber: Media Sosial / Al Jazeera)










