AL-QUDS — Di tengah gempuran ekspansi pemukim dan pencaplokan lahan di Al-Quds, Aisha Al-Maslouhi memilih bertahan. Wanita Palestina keturunan Maroko ini dengan tegas menolak semua tawaran dan iming-imimg uang dalam jumlah fantastis demi mempertahankan satu kamar kecil berserta fasilitasnya yang ia tinggali persis di perbatasan Kompleks Masjid Al-Aqsa.

Dua dekade pendudukan Al-Quds yang melarang akses warga Palestina dari Tepi Barat dan Jalur Gaza, serta kepungan Tembok Pemisah dan pos pemeriksaan militer, menjadi luka mendalam bagi Aisha. Dari kediamannya yang bersahaja, ia terus menyerukan tanggung jawab umat Islam global terhadap keberlangsungan Al-Aqsa.

“Masjid Al-Aqsa dan Kota Al-Quds adalah amanah bagi setiap manusia yang beriman kepada Allah SWT,” tegasnya.

“Siapa yang Menjual Tanah Airnya, Menjual Agamanya”

Aisha mengungkapkan, berbagai lembaga Yahudi dan organisasi pemukim, termasuk Badan Yahudi (Jewish Agency) yang berjejaring di Amerika Serikat dan Eropa, sangat aktif menawarkan dana besar untuk membeli rumah-rumah warga Palestina di Yerusalem.

Otoritas tersebut memberi instruksi kepada para pemukim: “Jangan pusingkan soal harga, dapatkan rumah-rumah itu dan kami yang akan membayar.”

Kediaman Aisha terletak sangat dekat dengan Pelataran Tembok Buraq (Tembok Barat). Di kawasan strategis ini, otoritas pendudukan berupaya menekan populasi warga Arab dan Muslim hingga ke titik terendah.

Menanggapi rumor yang menuduh sebagian warga Palestina menjual tanah mereka, Aisha menepis keras. “Barangsiapa menjual tanah airnya, maka ia telah menjual agama, kehormatan, dan akhlaknya. Insya Allah, tidak ada seorang pun Muslim yang beriman yang sudi menjual agama dan tanah airnya,” ujarnya mantap.

Aisha menceritakan pengalaman pribadinya saat didatangi seorang pemukim yang menawar kediamannya yang amat sederhana, hanya terdiri dari satu kamar tidur, dapur, dan kamar mandi. Pemukim tersebut menyodorkan uang tunai sebesar 1 juta dolar AS (sekitar Rp 16 miliar).

Saat Aisha bertanya mengapa satu kamar kecil dihargai setinggi itu, sang pemukim menjawab blak-blakan, “Kami ingin memulai dari sini. Jika kami berhasil memulai, kami akan terus melangkah.”

Aisha menimpali, “Alhamdulillah, mereka tidak akan pernah menemukan orang yang bisa diajak kompromi untuk memulai rencana itu.”

Jejak Sejarah Kampung Maroko (Harat al-Maghariba)

Lahir pada tahun 1946 di Kampung Maroko (Harat al-Maghariba), Al-Quds, Aisha adalah putri dari ayah asal Maroko dan ibu asli Al-Quds. Kala itu, lingkungan tempat tinggalnya dihuni oleh 138 keluarga yang berasal dari Libya, Aljazair, Tunisia, dan Maroko.

Kendati berjiwa Al-Quds sejati, Aisha tetap merawat budaya leluhurnya. Dalam keseharian, ia mengenakan pakaian khas Kaftan atau Jellaba Maroko. Hidangan Couscous (Maftoul) khas Afrika Utara juga selalu tersaji di mejanya setiap pekan untuk dinikmati bersama anak dan cucu-cucunya.

Ayahnya lahir dan membesar di Desa Tamslohte, Marrakesh, lalu memutuskan menetap di Yerusalem seusai menunaikan ibadah haji. “Saya lahir dan berjiwa Yerusalem,” ujar Aisha bangga.

Jejak peradaban warga Maroko di Yerusalem sendiri telah terukir sejak 800 tahun silam. Pada tahun 1187, Panglima Salahuddin Al-Ayyubi meminta bantuan armada laut Sultan Maroko, Yaqub al-Mansur, untuk membebaskan Yerusalem dari pasukan Perang Salib. Sultan Maroko membalasnya dengan mengirimkan armada besar guna menyokong pasukan Muslim di Timur Tengah.

Seusai pembebasan Yerusalem, Salahuddin memberi penghormatan kepada para pejuang Maroko dengan menempatkan mereka di kawasan strategis yang menempel langsung dengan dinding Masjid Al-Aqsa.

Salahuddin kala itu berpesan: “Aku menempatkan di sini mereka yang teguh di daratan dan perkasa di lautan, orang-orang terbaik yang dapat dipercaya untuk menjaga Masjid Al-Aqsa dan kota ini.”

Namun, tragedi melanda pada tahun 1967. Usai menduduki Yerusalem, militer Israel meratakan seluruh Kampung Maroko dengan tanah dan mengusir penghuninya. Sebagian keluarga yang tersisa terpaksa mengungsi ke bangunan Zawiya Maghariba (Asrama Maroko) yang disekat menjadi kamar-kamar kecil.

Hingga hari ini, sebanyak 15 keluarga (termasuk Aisha Al-Maslouhi) tetap bertahan di kawasan bersejarah tersebut demi menjaga benteng terakhir Al-Aqsa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here