BEIT LAHIA — Hanya beberapa meter dari moncong senjata yang siap meletus kapan saja, kehidupan perlahan kembali berdenyut di Beit Lahia, Gaza utara. Di sini, ribuan petani bertaruh nyawa mengolah tanah yang tersisa setelah Invasi militer Israel dan penetapan “Garis Kuning” (Yellow Line) mencaplok sekitar 20 ribu dunam (sekitar 2.000 hektare) lahan pertanian produktif mereka.

Pemandangan di wilayah Aslan, salah satu kantong pertanian terdekat dengan Garis Kuning, terasa begitu mencekam. Deru tembakan peluru tajam dari tank dan kendaraan tempur Israel yang bersiaga di sekitar Bundaran Al-Atatra kerap memecah kesunyian tanpa peringatan.

Saat tembakan mengudara, para petani reflek merapatkan tubuh ke tanah rekaan mereka, menanti hujan peluru mereda, lalu tanpa ragu kembali memegang cangkul.

Bagi keluarga Tanboura, bahaya yang mengintai bukan lagi hal baru. Sejak hari pertama gencatan senjata berlaku, mereka sudah memutuskan untuk kembali.

“Dulu di sebelah sana ada tempat pembibitan bunga terbesar di Gaza. Di sudut itu kandang ternak yang sangat luas, dan di tempat kita berdiri ini dulu rimbun oleh pepohonan,” kenang Ahmed Majdi Tanboura (33) sembari menunjuk puing-puing di sekelilingnya. Matanya menatap nanar ke arah Garis Kuning. “Bagi kami, tempat ini dulu ibarat surga di bumi.”

Saat pertama kali kembali, tanah milik Ahmed sudah tak berbentuk, berubah menjadi hamparan pasir berlubang yang tertutup puing bangunan dan sisa amunisi. Ia menghabiskan waktu 40 hari nonstop hanya untuk membersihkan lahan dari material berbahaya sebelum siap ditanami kembali.

Menanam Tanpa Benih, Menyiram dengan Ember

Memulihkan tanah hanyalah babak awal dari perjuangan. Blokade ketat yang diterapkan pihak pendudukan membuat pasokan benih dan perlengkapan pertanian terhenti total. Kalaupun ada di pasar gelap, harganya melambung tinggi dan tak semuanya bisa tumbuh karena kualitas yang buruk.

“Saya tidak mau menyerah,” ujar Ahmed tegas. Ia memetik sebutir terong hibrida dari tanamannya yang kini setinggi satu meter, membelahnya, lalu membagikannya dengan bangga.

“Benih ini saya dapat setengah mati dengan harga sangat mahal. Saya masih menguji tanahnya, ada tanaman yang berhasil tumbuh, ada juga yang gagal.”

Kondisi tak kalah berat dialami Abu Osama Tanboura, petani senior berusia 70 tahun. Tanpa jaringan irigasi dan sistem penyiram otomatis yang hancur diterjang bom, ia harus membuat kolam buatan dari terpal plastik.

Airnya ditarik dari sumur luar menggunakan pompa berbahan bakar mahal, lalu diangkut manual menggunakan ember satu per satu untuk menyiram tiap batang tanaman.

“Dulu saya cuma perlu memutar keran, air langsung mengalir ke seluruh ladang stroberi dan jeruk. Sekarang saya harus mengangkat ember di usia seperti ini,” tuturnya.

Abu Osama sudah menggarap tanah ini sejak berusia lima tahun, mendampingi kakeknya menanam di bumi Beit Lahia.

Untuk menyiasati kelangkaan pupuk dan obat-obatan, warga menggunakan kreativitas mereka. Azhar Tanboura, Kepala Departemen Inisiatif Warga Kota Beit Lahia, menyebut para petani memanfaatkan limbah sisa ragi, sisa miju-miju (lensa), hingga sisik ikan sebagai pupuk organik buatan sendiri.

Abu Osama bahkan mengeringkan sebagian hasil panennya (seperti oyong, cabai, dan labu) hanya untuk mengamankan benih musim berikutnya.

Semangat yang Terus Mengalir dari Sumur Berusia Abad

Sektor perairan Gaza mengalami kerusakan parah. Data pemerintah setempat mencatat lebih dari 80 persen sumur pertanian di Beit Lahia rusak total atau lumpuh.

Namun, ketangguhan warga teruji saat mereka berhasil menghidupkan kembali sebuah sumur bersejarah berusia lebih dari satu abad yang sempat dihancurkan tentara pendudukan. Karena kelangkaan oli mesin yang amat parah, para pemuda setempat memutar otak dengan memanfaatkan minyak zaitun sebagai pelumas mesin sumur agar air tetap mengalir ke ladang-ladang warga.

Meski perbaikan sumur di luar Garis Kuning baru menyentuh angka 5 persen, geliat pertanian ini mulai menunjukkan hasil nyata. Pemerintah Kota Beit Lahia mencatat sekitar 900 dunam lahan pertanian kini berhasil dihijaukan kembali oleh 729 petani, dengan 1.200 dunam lainnya sedang dalam proses pemulihan.

Selain itu, sekitar 450 kebun pekarangan rumah tangga berukuran 150–450 meter persegi juga didirikan untuk menopang kebutuhan pangan keluarga.

Hasil panen ini memang belum mampu menandingi kejayaan Beit Lahia sebagai lumbung pangan Gaza sebelum perang—yang dulu terkenal dengan komoditas stroberi, jeruk, dan bunganya. Total kerugian sektor pertanian di kota ini diperkirakan mencapai 30 juta dolar AS (sekitar Rp460 miliar), dan butuh dana sedikitnya 40 juta dolar AS untuk pemulihan total.

Meski demikian, pasokan sayur lokal dari Beit Lahia mulai mengalir ke pasar-pasar domestik, sedikit menekan lonjakan harga pangan yang melambung akibat kebergantungan pada barang impor. Bagi para petani Beit Lahia, kembali ke ladang bukan sekadar urusan mencari nafkah atau bertahan hidup, melainkan menegaskan keberadaan dan ikatan batin mereka dengan tanah kelahiran yang tak bisa dirampas oleh perang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here