PALESTINA 48 — Usai merampungkan operasi militer di Lebanon selatan dan meredanya fase intensif di Jalur Gaza, militer pendudukan Israel kini mengarahkan fokus utamanya ke Tepi Barat. Tel Aviv dikabarkan tengah menyiapkan skenario eskalasi berskala besar, termasuk potensi pendudukan kembali terhadap kamp-kamp pengungsi Palestina di kawasan utara.

Situs berita Israel, Walla, melaporkan bahwa elite politik dan militer Israel sedang bersiap melakukan apa yang mereka sebut sebagai “penanganan akar terorisme” di Tepi Barat. Langkah ini diambil di tengah kekhawatiran yang kian memuncak terhadap potensi ledakan perlawanan baru, khususnya skenario yang mereka labeli sebagai “kudeta senjata” (turn of the barrel) dari aparat keamanan Otoritas Palestina (PA).

Meski statistik internal militer Israel mencatat intensitas operasi gerilya Palestina berada di level terendah sejak 2011, militer melihat dinamika di lapangan dapat berubah sewaktu-waktu. Intelijen Israel mengklaim adanya potensi gerakan dari pimpinan Hamas di luar negeri yang memicu serangan target, sekaligus mengantisipasi titik jenuh dari eskalasi harian di Tepi Barat.

Sumber-sumber keamanan Israel mengonfirmasi bahwa militer saat ini menikmati “kebebasan beroperasi” yang makin meluas di wilayah yang mereka sebut Yahudiah dan Samaria. Hal ini dicapai setelah pendudukan fisik atas kamp-kamp pengungsi di Tepi Barat utara, penyiapan infrastruktur pendukung gerak cepat, serta pembangunan pos-pos militer baru untuk memperketat kendali.

Gesekan Membara dan Ancaman Senjata Otoritas Palestina

Salah satu pemicu utama kecemasan institusi keamanan Israel adalah melonjaknya gesekan akibat ekspansi permukiman ilegal Yahudi yang kian agresif. Saat ini terdapat 84 permukiman baru yang menyatu dengan 180 permukiman yang sudah ada, ditambah 140 lahan pertanian dan lebih dari 100 pos terdepan (outpost) ilegal. Keberadaan kantong-kantong baru ini memaksa militer merombak total doktrin pengamanan mereka di lapangan.

Di sisi lain, Tel Aviv mengamati dengan cermat pergerakan aparat keamanan Otoritas Palestina. Kendati koordinasi keamanan resmi masih berjalan, kekhawatiran terbesar militer Israel adalah skenario “pembangkangan senjata”, sebuah kondisi di mana persenjataan dan amunisi milik PA justru berbalik mengarah ke tentara Israel dan pemukim Yahudi.

Skenario ini diprediksi berpotensi terjadi jika muncul faksi-faksi bersenjata di tengah perebutan kepemimpinan pasca-Presiden Mahmoud Abbas, atau dipicu maraknya penyelundupan senjata melalui perbatasan Yordania.

Elite politik Israel dilaporkan telah memerintahkan peningkatkan kesiapsiagaan penuh menghadapi kemungkinan buruk tersebut.

Momentum Politik dan Gelombang Agresi Baru

Estimasi militer mengenai perlunya operasi besar-besaran di Tepi Barat didorong oleh berhimpitnya sejumlah momen krusial. Selain agenda Pemilu Israel pada akhir Oktober dan Pemilu Legislatif Palestina pada November mendatang, periode hari raya Yahudi juga diprediksi memicu lonjakan ketegangan.

Tak hanya itu, aksi kekerasan dan “kejahatan nasionalis” yang makin masif dari kelompok pemukim Yahudi terus menarik sorotan media internasional serta perhatian diplomatik Amerika Serikat.

Situs Walla mengutip sumber keamanan yang menyebut Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, berpotensi menekan militer untuk segera menduduki kamp-kamp pengungsi tambahan, terutama di Tepi Barat utara.

Langkah ini memperpanjang jejak agresi yang dimulai sejak 21 Januari lalu, saat militer Israel menyerbu dan menduduki Kamp Jenin, Tulkarm, serta Nur Shams. Operasi tersebut mengubah kawasan permukiman menjadi “kota hantu”, menyebabkan puluhan warga syahid, dan memaksa sekitar 32 ribu warga Palestina mengungsi menurut data UNRWA.

Sepanjang semester pertama tahun ini saja, Lembaga Penanganan Tembok dan Permukiman Palestina mencatat 3.488 kasus serangan pemukim Yahudi di Tepi Barat. Rangkaian teror tersebut merenggut 17 nyawa warga Palestina, mengusir 26 komunitas Beduin dari tanah mereka, dan memicu berdirinya 42 pos permukiman ilegal baru.

Saat ini, sekitar 750 ribu pemukim Israel menduduki 194 kawasan permukiman dan 400 pos terdepan di seluruh Tepi Barat dan Yerusalem Timur, terus memutus ruang hidup warga lokal di bawah skenario pendudukan yang kian pekat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here