GAZA – Ahmed pernah memiliki cetak biru masa depan yang rapi di kepalanya. Pemuda Palestina ini bermimpi untuk merampungkan kuliahnya di jurusan teknik arsitektur, mendesain gedung-gedung indah, dan membangun kembali kotanya.
Namun hari ini, alih-alih memegang penggaris dan jangka, Ahmed harus mengerahkan seluruh energinya hanya untuk belajar berdiri seimbang. Perang telah merenggut salah satu tungkai kakinya, memaksanya beradaptasi dengan realitas baru yang kelam di sebuah lingkungan yang bahkan tidak memiliki fasilitas medis paling standar.
Kisah Ahmed adalah satu dari ribuan potret mengerikan yang kini menghantui Jalur Gaza. Estimasi medis dari berbagai organisasi internasional menunjukkan bahwa kecamuk perang telah melahirkan ribuan korban luka baru yang terpaksa diamputasi, baik tangan maupun kaki.
Tindakan ekstrem ini sering kali menjadi satu-satunya jalan pintas yang dimiliki para dokter untuk menyelamatkan nyawa pasien, di tengah kelangkaan akut alat medis dan cairan antiseptik di rumah sakit yang mayoritas sudah kolaps.
Tragedi di Atas Meja Operasi: Tanpa Bius dan Teror Gangren
Penderitaan para korban amputasi ini sebenarnya sudah dimulai sejak detik pertama keputusan sulit itu diambil. Akibat membeludaknya pasien di titik-titik medis darurat yang tersisa serta raibnya pasokan antibiotik, infeksi pasca-operasi menjadi momok yang menakutkan.
Banyak luka di bagian puntung (residual limb) yang membusuk karena perban tak pernah diganti. Kondisi ini memaksa dokter melakukan amputasi ulang ke tingkat yang lebih tinggi demi mencegah infeksi bakteri pemakan daging (gangren) menjalar ke jantung.
“Kami sering kali terpaksa melakukan seleksi acak antara pasien. Operasi amputasi terpaksa dilakukan cepat dengan alat-alat bedah darurat seadanya, bahkan tanpa dosis pembius (anestesi) yang cukup demi menyelamatkan nyawa mereka. Namun, krisis yang sesungguhnya baru dimulai saat luka itu kering,” ujar seorang dokter spesialis bedah tulang yang baru kembali dari rumah sakit lapangan di Gaza selatan.
Setelah luka luar mengering, sebuah tembok tebal bernama masa depan menghadang mereka. Bagaimana mereka akan berjalan? Bagaimana mereka bisa mandiri kembali?
Harapan untuk mendapatkan kaki atau tangan palsu (prostetik) yang pas nyaris mendekati angka nol. Hambatan ini dipicu oleh tiga faktor fatal:
- Hancurnya Pusat Prostetik: Satu-satunya pusat pembuatan kaki palsu di Gaza telah pembom dan rusak berat hingga berhenti beroperasi total.
- Blokade Bahan Baku: Blokade ketat di pintu perbatasan membuat material dasar dan komponen teknis untuk merakit kaki palsu—baik yang canggih maupun konvensional—tidak bisa masuk ke Gaza.
- Hilangnya Tenaga Ahli: Proses rehabilitasi fisik dan pemulihan psikologis yang membutuhkan waktu berminggu-minggu kini dianggap sebagai kemewahan yang mustahil didapat di tengah runtuhnya sistem kesehatan.
Siksaan dari Anggota Tubuh yang Telah Tiada
Penderitaan fisik para korban amputasi ini kian diperparah oleh trauma psikologis dan neurologis yang dalam. Banyak dari mereka yang mengalami fenomena medis bernama phantom limb pain (nyeri anggota tubuh semu).
Secara medis, otak mereka terus mengirimkan sinyal keliru, membuat para korban tetap merasakan keberadaan kaki atau tangan mereka yang telah hilang—dan sel saraf itu mengirimkan rasa nyeri, gatal, atau terbakar yang teramat sangat.
Sakit yang abstrak ini berpadu dengan depresi berat akibat hilangnya kemandirian fisik. Mereka yang dulunya adalah kepala keluarga atau pemuda produktif, kini mendapati diri mereka tak berdaya di dalam tenda-tenda pengungsian dan pusat penampungan yang sama sekali tidak ramah bagi penyandang disabilitas.
Kini, satu-satunya napas kehidupan yang dinanti oleh Ahmed dan ribuan korban amputasi lainnya—terutama anak-anak kecil yang ukuran tubuhnya terus tumbuh—adalah pembukaan pintu perbatasan secara permanen dan berkelanjutan.
Hanya lewat koridor itulah mereka bisa terbang ke luar negeri untuk menjalani terapi rehabilitasi yang layak dan mendapatkan organ prostetik modern. Jika pintu perbatasan itu tetap dikunci, maka luka potong di tubuh mereka hari ini akan berubah menjadi vonis cacat permanen yang akan memenjara sisa hidup mereka selamanya.










