KHAN YOUNIS – Langkah kaki Ahmad Ayyush terdengar berat dan terseret di atas aspal jalanan Gaza bagian selatan dan tengah. Tubuhnya yang ringkih tampak kepayahan menahan beban ganda: kelumpuhan fisik yang diidapnya sejak balita, serta trauma pengusiran paksa akibat perang yang tak kunjung usai. Namun, pemuda ini menolak takdirnya mati sunyi di dalam tenda pengungsian yang mulai dilupakan dunia. Ahmad memilih terus berjalan.

Ahmad adalah seorang pemuda yang harus hidup dengan kondisi lumpuh total pada sisi kanan tubuhnya (hemiplegia). Cacat fisik ini melekat sejak ia berumur 15 bulan setelah jatuh dari lantai dua rumahnya. Tetapi hari ini, ia memilih menjadikan suaranya sebagai penyambung kaki-kakinya yang lumpuh.

Di pundaknya, tersampir sebuah pelantang suara (megaphone) kecil bertenaga baterai. Dari corong besi itu, mengalun ayat-ayat suci Al-Qur’an yang sengaja ia putar sepanjang menyusuri gang-gang sempit dan sela-sela tenda pengungsian di wilayah selatan dan tengah Jalur Gaza.

Kehilangan Rumah dan Memulai ‘Rute Sunyi’

Lahir dan besar di permukiman Zeitoun, sebelah timur Kota Gaza, kehidupan Ahmad berubah total saat perang pecah. Rumahnya hancur lebur dihantam bom tanpa menyisakan apa pun selain memori kelam. Dari puing-puing Zeitoun, ia memulai drama pengungsian panjang yang akhirnya mendamparkan dirinya dan sang istri di sebuah tenda plastik di kawasan Al-Mawasi, Khan Younis.

Bagi Ahmad, menjadi pengungsi bukan sekadar berpindah tempat tidur, melainkan merombak total ritme hidupnya. Di dalam tendanya yang pengap, ia selalu memulai hari saat matahari baru saja terbit. Ahmad berjalan menyusuri jalanan hingga zuhur, pulang sejenak untuk meluruskan kakinya yang kaku, lalu kembali memanggul speaker-nya hingga selepas asar.

“Sepanjang hari saya cuma berjalan memutari jalanan ini. Saya hanya ingin mencari rida Allah dan berharap bisa menjadi wasilah (perantara) hidayah bagi orang-orang di sini,” tutur Ahmad jujur.

Meski kaki kanannya sulit digerakkan, Ahmad memperkirakan dirinya mampu menempuh jarak hingga 15 kilometer setiap hari. Ia berjalan bertumpu pada keteguhan hati, bukan pada kekuatan ototnya.

Perjuangan ini tidak mudah. Pengeras suara yang ia bawa membutuhkan daya listrik yang konstan untuk diisi ulang (charging). Di tengah kegelapan total kamp pengungsian yang lumpuh tanpa aliran listrik, menemukan sumber energi untuk baterai speaker-nya adalah perjuangan tersendiri.

Membeli Ketenangan di Tengah Kepungan Horor

Ahmad menegaskan bahwa apa yang ia lakukan bukanlah sebuah profesi untuk mencari uang, melainkan sebuah misi spiritual.

“Ini kerja sukarela untuk masyarakat. Siapa tahu, dengan mendengar ayat-ayat ini, orang-orang terketuk untuk kembali dan berserah diri kepada Allah,” ungkapnya. Di mata Ahmad, menyiarkan Al-Qur’an di jalanan adalah caranya menyuntikkan ketenangan di tengah atmosfer pengungsian yang penuh dengan ketakutan, kesesakan, dan kecemasan massal.

Kehadiran Ahmad di jalur-jalur pengungsian selalu berhasil mencuri perhatian. Tidak jarang, para pengungsi keluar dari tenda dan memintanya berdiri lebih lama di dekat tempat tinggal mereka. Beberapa orang mengejarnya hanya untuk mengucapkan terima kasih, sementara yang lain memilih bersyukur dalam diam lewat tatapan mata.

Bagi Ahmad, interaksi humanis inilah bensin utama yang membuatnya kuat berjalan lagi esok hari, menepis rasa ngilu yang mendera tubuhnya setiap malam.

Lantunan ayat yang keluar dari pelantang suaranya pun tidak dipilih sembarangan. Ahmad sengaja memutar rekaman dari qari (pembaca Al-Qur’an) yang suaranya akrab di telinga masyarakat dan mampu menggetarkan hati, seperti Syekh Haitham Al-Dukhin, Yasser Al-Dossari, dan Hazza Al-Bloushi.

Sisi Lain yang Lebih Getir: Hidup dari 20 Syekel

Namun, di balik pemandangan religius yang menyentuh hati tersebut, ada kehidupan pribadi Ahmad yang jauh lebih mencekam. Pemuda yang baru menikah sekitar satu setengah tahun lalu ini harus berbagi ruang sempit di dalam tenda bersama istrinya tanpa memiliki pekerjaan tetap atau sumber penghasilan yang pasti.

Untuk menyambung nyawa, dapur keluarga kecil ini sangat bergantung pada pembagian makanan gratis dari dapur umum amal (soup kitchens). Kadang-kadang, ia menerima santunan kecil dari para dermawan yang nilainya tak seberapa, sering kali tidak lebih dari 20 Syekel (sekitar 5-6 Dolar AS). Uang koin itulah yang ia hemat untuk membeli kebutuhan pokok dapur sekaligus membayar ongkos menyetrum baterai speaker-nya.

Sebelum perang meluluhlantakkan Gaza, Ahmad adalah seorang pedagang parfum jalanan keliling. Keuntungan dari botol-botol wewangian kecilnya dulu memang pas-pasan, tapi sangat cukup untuk membiayai hidup mandiri bersama istrinya. Kini, setelah toko dan rumahnya rata dengan tanah, ia tidak punya apa-apa lagi selain modal nekat: sebuah mikorfon, satu unit baterai, dan rute jalan kaki yang panjang setiap hari.

Saat langit Gaza mulai menguning tanda magrib menjelang, Ahmad melangkah gontai kembali ke tendanya dengan tubuh yang terkuras habis. Ia duduk sejenak di atas tikar, mengistirahatkan badannya yang lumpuh sebelum memikirkan hari esok yang misterius.

Ahmad tidak pernah melabeli dirinya sebagai pahlawan, ia juga tidak mengemis simpati yang berlebih. Ia hanya ingin dunia mendengarnya apa adanya: sebagai seorang pemuda penyandang disabilitas dari Gaza yang berjalan dengan kaki pincang, namun menolak membiarkan suaranya padam oleh jarak dan dentuman perang.

Sumber: Diterjemahkan dan Diolah dari laporan Al Jazeera

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here